SEJARAH ULAMA INDONESIA MENOLAK PEMINDAHAN MAKAM NABI MUHAMMAD

Assallamu’allaikum mass n’miss sadayana..

image

M2000 – Kabar akan dipindahkannya makam nabi Muhammad memang menjadi trending topik .

Pemerintah Arab Saudi berencana menghancurkan makam Nabi Muhammad. Pusara Rasulullah itu
terletak di dalam masjid paling suci
kedua setelah Masjid Al-Haram di Kota Makkah.
Tujuannya untuk memperluas Masjid Nabawi?
Pembangunan masjid itu memang diperlukan, tapi rencana pemerintah Negeri Dua Kota Suci
itu sungguh mencemaskan sebab perluasan bakal dilakukan di sebelah barat, tempat makam Rasulullah bersama dua sahabatnya, Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin Khattab.
Rencana ini dinilai bakal membuat banyak pihak murka dan umat Islam bakal bergejolak.

Sebenarnya, isu tentang akan dibongkarnya makam Rasulullah ini bukanlah hal yang baru. Sejak puluhan tahun silam, isu ini terus menjadi
momok bagi umat Islam. Pada tahun
1924-1925, Arab Saudi dipimpin oleh Ibnu Saud, Raja Najed yang beraliran Wahabi. Aliran ini sangat dominan di tanah Haram, sehingga aliran lain tidak diberi ruang dan gerak untuk mengerjakan mazhabnya.

Semasa kepemimpinan Ibnu Saud, terjadi’eksodus besar-besaran ulama dari seluruh dunia. Mereka kembali ke negara masing termasuk para pelajar Indonesia yang
sedang mencari ilmu di Arab Saudi.
Aliran Wahabi yang terkenal puritan, berupaya menjaga kemurnian negara dari musyrik dan bid’ah. Maka beberapa tempat bersejarah, seperti rumah Nabi Muhammad SAW dan sahabat, termasuk makam Nabi Muhammad
pun hendak dibongkar.
Umat Islam Indonesia yang berhaluan
Ahlussunnah wal Jamaah merasa sangat perihatin kemudian mengirimkan utusan menemui Raja Ibnu Saud. Utusan inilah yang kemudian disebut dengan Komite Hijaz.
Komite Hijaz ini merupakan sebuah kepanitiaan kecil yang dipimpin oleh KH Abdul Wahab Chasbullah.
Setelah berdiri, Komite Hijaz menemui Raja Ibnu Suud di Hijaz (Saudi
Arabia) untuk menyampaikan beberapa
permohonan, seperti meminta Hijaz
memberikan kebebasan kepada umat Islam di Arab untuk melakukan ibadah sesuai dengan madzhab yang mereka anut.
Karena untuk mengirim utusan ini diperlukan adanya organisasi yang formal, maka didirikanlah Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926, yang secara formal mengirimkan delegasi
ke Hijaz untuk menemui Raja Ibnu Saud.
Adapun lima permohonan yang disampaikan oleh Komite Hijaz di situs http://www.nu.or.id tersebut adalah:

1. memohon diberlakukan kemerdekaan bermazhab di negeri Hijaz pada salah satu dari mazhab empat, yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Atas dasar kemerdekaan bermazhab tersebut hendaknya dilakukan giliran antara imam-imam shalat Jum’at di Masjidil Haram dan hendaknya tidak dilarang
pula masuknya kitab-kitab yang berdasarkan mazhab tersebut di bidang tasawuf, aqidah maupun fikih ke dalam negeri Hijaz, seperti karangan Imam Ghazali, imam Sanusi dan lain-lainnya yang sudah terkenal kebenarannya.

2. memohon untuk tetap diramaikan
tempat-tempat bersejarah yang terkenal sebab tempat-tempat tersebut diwaqafkan untuk masjid seperti tempat kelahiran Siti Fatimah dan bangunan Khaezuran dan lain-lainnya berdasarkan firman Allah “Hanyalah orang yang meramaikan Masjid Allah orang-orang yang beriman kepada Allah” dan firman Nya “Dan siapa yang lebih aniaya dari pada orang yang
menghalang-halangi orang lain untuk menyebut nama Allah dalam masjidnya dan berusaha untuk merobohkannya.”

3. memohon agar disebarluaskan ke seluruh dunia, setiap tahun sebelum datangnya musim haji mengenai tarif/ketentuan biaya yang harus diserahkan oleh jamaah haji kepada syaikh dan muthowwif dari mulai Jedah sampai pulang lagi ke Jedah. Dengan
demikian orang yang akan menunaikan ibadah haji dapat menyediakan perbekalan yang cukup buat pulang-perginya dan agar supaya mereka
tidak dimintai lagi lebih dari ketentuan
pemerintah.

4. memohon agar semua hukum yang
berlaku di negeri Hijaz, ditulis dalam bentuk undang-undang agar tidak terjadi pelanggaran terhadap undang-undang tersebut.

5. Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU)
memohon balasan surat dari Yang Mulia yang menjelaskan bahwa kedua orang delegasinya benar-benar menyampaikan surat mandatnya
dan permohonan-permohonan NU kepada Yang Mulia dan hendaknya surat balasan tersebut diserahkan kepada kedua delegasi tersebut.

Dari pemaparan di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa Komite Hijaz yang
merupakan respons terhadap perkembangan dunia internasional ini menjadi faktor terpenting didirikannya organisasi NU.
Berkat kegigihan para kiai yang tergabung dalam Komite Hijaz, aspirasi dari umat Islam Indonesia yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah diterima oleh raja Ibnu Saud.
Makam Nabi Muhammad yang akan dibongkar pun tidak jadi dihancurkan.
( baca : makam nabi akan dipindah )

image
Masjid Nabawi dari depan. Makam Nabi
terletak di bawah kubah hijau di sebelah
kanan
.Rasulullah dimakamkan di tempat
meninggalnya, yakni di tempat yang dahulunya
adalah kamar Ummul Mukminin Aisyah ra.,
isteri Nabi. Kemudian berturut-turut
dimakamkan pula dua shahabat terdekatnya di
tempat yang sama, yakni Abu Bakar Al-Shiddiq
dan Umar bin Khattab . Karena perluasan-
perluasan Masjid Nabawi, ketiga makam itu
kini berada di dalam masjid, yakni di sudut
tenggara (kiri depan) masjid. Sedangkan
Aisyah dan kebanyakan sahabat yang lain,
dimakamkan di pemakaman umum Baqi .
Dahulu terpisah cukup jauh, kini dengan
perluasan masjid, Baqi jadi terletak
bersebelahan dengan halaman Masjid Nabawi.

Wassallamu’allaikum, …

Library : merdeka

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s