SBY DAN DEMOKRAT BERMAIN CANTIK DI RUU PILKADA – DI MEDIA MENUAI KRITIK

image

M2000 – Seperti kita ketahui bersama, vooting untuk pengesahan RUU Pilkada sudah berakhir, hasilnya opsi pilkada tidak langsung yang diusung oleh koalisi merah putih berhasil memenangkan vooting.
Suara yang berhasil dihimpun adalah 226 suara untuk pilkada tidak langsung dan 135 suara untuk pilkada langsung, sementara Demokrat abstain dan walkout dari ruang sidang ,( baca : pilkada langsung tinggal kenangan )

Banyak kalangan dan masyarakat yang menyayangkan langkah koalisi merah putih yang ngototot meng’gol’kan opsi pilkada tidak langsung atau dipilih oleh DPRD.
Langkah ini dinilai sebagai kemunduran berdemokrasi, pemasungan hak rakyat yang akan memilih pemimpinnya sendiri.
Dan kita akan kembali seperti jaman Orba yang semua pemimpin dari bupati hingga gubenur dipilih oleh DPRD.

Harus diakui, tim dari partai koalisi merah putih sejauh ini tetap solid, tapi apa mereka tidak merasa menghianati rakyat ?

Yang menarik adalah partai Demokrat , apa yang dilakukan partai ini terbilang cantik.
Dari awalnya memilih opsi tiga yaitu pemilihan langsung dengan 10 syarat, namun kenyataannya pada saat hendak voting malah walk out dari ruang sidang, yang otomatis membuka peluang bagi koalisi merah putih yang mengusung opsi pilkada tidak langsung  untuk memenangkan voting .

Selang beberapa jam, presiden SBY yang juga ketua umum partai Demokrat yang saat ini masih di Washington DC langsung memberikan pernyataan yang diunggah melalui youtube.

Dalam video tersebut ,Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, sebanyak 70 persen penduduk masih menginginkan pilkada dilakukan secara langsung.
Pernyataan tersebut dijelaskan SBY dalam sebuah wawancara yang dilakukan
di Washington, USA.
“Boleh dikata 70 persen lebih rakyat setuju
pilkada tetap langsung,” kata SBY, yang
kemudian diunggah Youtube, Jumat (26/9).

Dalam video yang diunggah oleh channel
Suara Demokrat itu, SBY menegaskan, pilkada langsung juga harus disertai dengan sejumlah perbaikan. Jangan ada penyimpangan di sana-sini.
“Tapi sekali lagi dengan perbaikan, jangan ada penyimpangan di sana-sini tidak terjadi.
Karena kalau terjadi buruk demokrasi kita. Itu yang saya maksudkan.”

SBY menegaskan, dalam menghasilkan UU,
DPR bersama presiden harus merujuk kepada kehendak rakyat. DPR dan seorang presiden jangan mengedepankan keinginannya dalam membuat UU.
“UU itu harus mencerminkan kehendak rakyat, bukan maunya DPR, maunya presiden,” ujarnya.

SBY juga menambahkan,
“Saya ingin tanyakan kepada saudara-saudara kami politisi, siapa yang memberikan mandat DPR untuk memberikan mandat kepada DPRD
untuk memilih kepala daerah seperti gubernur, bupati dan walikota “.

Dalam video yang kemudian diunggah oleh
channel Suara Demokrat tersebut menganggap DPR telah menipu rakyat dengan mengesahkan UU Pilkada. Menurutnya, rakyat tidak pernah berpikir jika anggota legislatif yang dipilihnya pada pemilu 2009 kemarin akan mengesahkan
UU tersebut.
“Berarti pemilu legislatif kemarin tidak klop
antar yang dipikirkan rakyat, dia hanya memilih wakil rakyat di DPRD dan kelak akan memilih gubernur, bupati, dan walikota secara langsung.” papar SBY.

SBY kemudian mempertanyakan tujuan anggota DPR yang mengusung Pilkada dipilih oleh DPRD, apakah bertujuan untuk membagi jatah kekuasaan.
Menurutnya, rakyat tidak akan menyangka jika pilkada dilakukan oleh DPRD.
“DPRD mau bagi-bagi, gubernur ini siapa,
bupati ini siapa, walikota ini siapa,” tegas
SBY.

Sementara itu , seperti dikutip dari merdeka.com , Ketua Umum Partai Hanura Wiranto menyesalkan hasil rapat paripurna DPR yang menyetujui Rancangan Undang-Undang Pilkada. Persetujuan tersebut membuat kepala daerah dipilih melalui DPRD, bukan rakyat.
Menurut Wiranto, pilkada langsung oleh rakyat merupakan bentuk pengakuan, bahwakedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat.

image

“Dengan keputusan DPR tadi malam, rakyat
Indonesia dapat menilai siapa yang benar-
benar memperjuangkan kepentingan rakyat,” tuturnya di Jakarta, Jumat (25/9).
Dia menambahkan, pengembalian kedaulatan untuk memilih kepala daerah kepada DPRD merupakan langkah yang mencederai demokrasi.  Hal ini karena memilih pemimpin adalah hak rakyat.
Wiranto juga menyayangkan sikap dari Fraksi Demokrat yang memilih untuk walk out dalam rapat paripurna. Padahal, Fraksi Partai Hanura telah menyatakan dukungan sepenuhnya atas usulan yang dilontarkan Fraksi Demokrat.

Melalui sidang paripurna DPR, tutur Wiranto,
rakyat Indonesia bisa melihat dengan gamblang partai mana saja yang benar-benar memperjuangkan aspirasi dan kedaulatan rakyat dan partai mana yang hanya melakukan manuver untuk pencitraan semata.

Dalam kalkulasi awal sangat jelas tergambar, apabila tidak didukung oleh Fraksi Demokrat, maka koalisi PDIP , Partai Hanura, dan PKB pasti kalah apabila dilakukan voting.
Namun akhirnya Fraksi Demokrat malah memilih untuk walk out, yang’secara perhitungan sudah dapat dipastikan
bahwa fraksi-fraksi yang menolak pilkada
langsung pasti kalah.

image
Massa membakar bendera partai koalisi merah putih di depan gedung DPR

Bingung kan ?
, Demokratnya pemain drama, SBY nya sutradara.
Masa sih SBY dan Demokrat tidak klik .
Siap-siap dibully di media deh…

Iklan

2 tanggapan untuk “SBY DAN DEMOKRAT BERMAIN CANTIK DI RUU PILKADA – DI MEDIA MENUAI KRITIK”

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s