ASAL-USUL KOPI

image

M2000 – Hayo cowok mana yang ‘gak suka kopi…pertanyaan seperti ini seperti sebuah pertanyaan ” siapa yang tidak suka bola “…walaupun pastinya juga ada yang tidak suka, tapi mungkin itu sebagian kecil saja.

Para pecandu kopi rata-rata menyukai kopi hitam..berbeda dengan admin yang sukanya white coffe , soalnya lambungnya ‘gak kuat kalau kopi hitam.
Kayak iklan ya..” nyaman di lambung “.

Mungkin Anda membaca tulisan ini sambil
menyeruput secangkir kopi, menikmati aromanya yang menyengat, menggugah rasa segar datang lagi…kemudian terkejut (atau malah tertawa) saat mengetahui kopi di masa lalu adalah barang ilegal, tak beda dengan ganja…kog bisa ya…
Ketakutan pada kopi sempat terjadi di kalangan agama, hingga pemerintah di beberapa negara.
Beginilah kisahnya.

Menurut catatan sejarah, kopi pertama kali ditemukan seorang penggembala di daerah Abyssinia – sekarang Etiopia. Penggembala bernama Kaldi melihat kambing-kambingnya kegirangan setelah  memakan buah menyerupai beri merah yang
belum pernah dia lihat. Dia pun mencicipinya dan merasakan efek rasa segar.
Ketika dia memberi tahu orang-orang, popularitas buah ini segera meroket di daerah tersebut.

Rupanya saat para agamawan mendengar hal tersebut, mereka curiga dengan efek buah tersebut. Apakah ini termasuk khamar yang memabukkan?
Pengaruh pada tubuh karena kopi pun dianggap sebagai “pekerjaan setan”.
Tak diketahui berapa lama kondisi ini
berlangsung, hingga akhirnya setelah tahu buah itu bisa membantu mereka begadang untuk melakukan ibadah, buah yang di kemudian hari dikenal sebagai kopi ini legal dikonsumsi.
Soal fatwa haram juga kemudian berlaku di
kalangan agama Kristen. Sekitar tahun 1600, Sekelompok pemuka gereja mendatangi Paus Clement VIII untuk memintanya memfatwa haram kopi, menggambarkan betapa asingnya mereka
terhadap kopi.

Sir George Sandys, penyair asal Inggris pernah menulis hal ini dalam catatannya di tahun 1610.
Sandys menggambarkan orang-orang Turki bisa ngobrol hampir sepanjang hari sambil menyeruput minuman yang digambarkan sebagai “sehitam jelaga, dan rasanya tak biasa”. Dituliskan pula, “sebagaimana mereka (orang-orang Turki) bilang,
membuat plong pencernaan.
Dari Eropa lalu luas mendunia , Baru pada 1615 orang-orang Eropa secara formal
berkenalan dengan kopi. Saat itu para pedagang dari Venezia, Italia, membawa pulang kopi dari daerah Levant, yang kini dikenal sebagai area Timur Tengah, meliputi Israel, Yordania, Libanon, dan Syiria.

Setahun kemudian, sebagaimana ditulis pemilik situs gallacoffee.co.uk, James Grierson, dalam artikel “History of Coffee: Part III – Colonisation of Coffee”, giliran orang Belanda yang membawa kopi dari daerah Adan, Yaman, lalu membudidayakannya, dari Ceylon (sekarang Sri Lanka) hingga ke Nusantara. Belanda akhirnya memetik hasil. Mereka memonopoli industri kopi dunia, bahkan bisa menentukan harga.
Puncaknya, pada 1700-an, kopi produksi Jawa bersaing dengan kopi asal Mocha,Yaman, sebagai produk kopi paling populer di dunia.

image

Prancis, Jerman, Inggris ketakutan
Awalnya orang-orang Eropa memperlakukan kopi sebagai bahan medis yang memberikan efek positif buat tubuh. Harganya mahal. Umumnya dikonsumsi masyarakat kelas atas.
Pada 1650-an, ketika penjaja minuman lemon di Italia mengikutsertakan kopi sebagai barang jualannya, sementara kedai-kedai kopi di Inggris bermunculan, minuman ini mulai menemukan dimensi sosialnya; dikonsumsi sembari berbincang-bincang.

Saat kopi mulai menyebar ke negara-negara
besar Eropa, cerita lama berulang kembali.
Muncul pihak-pihak yang menentangnya. Menurut Linda Civitello dalam Cuisine and Culture: A History of Food and People, pada 1679, dokter-dokter dari Prancis membuat catatan buruk tentang kopi. Dikatakannya, “…dengan penuh kengerian bahwa kopi membuat orang tak lagi doyan wine.” Serangan ini disusul oleh seorang dokter muda yang menganggap kopi bisa mengakibatkan keletihan, menimbulkan hal-hal buruk pada otak manusia, menggerogoti fungsi tubuh, serta biang keladi impotensi.
Pihak yang membela pun segera bersuara.
Seorang dokter, juga asal Prancis, Philippe
Sylvestre Dufour, menerbitkan buku yang menilai positif minuman eksotik ini.

Lalu pada 1696, seorang dokter Prancis juga mengatakan kopi baik untuk tubuh dan menyegarkan kulit.
Bagaimanapun, kopi telah merasuk ke berbagai kalangan dan menemukan dimensi sosialnya. Menurut Linda Civitello, di masa tersebut untuk kali pertama orang (Eropa) memiliki alasan untuk berkumpul di ruang publik tanpa melibatkan alkohol. Kegiatan ini pun berkembang menjadi rutinitas sosial yang bersifat politis.

Sebagaimana ditulis situs The Economist pada 7 Juli 2011, “Back to the coffee house” , pada era tersebut konsep media massa belum lagi dikenal.
Berita tersebar dari mulut-ke mulut di kedai-kedai kopi, melalui proses dialogis.
Para penguasa yang deg-degan, karena khawatir hal-hal politik dibincangkan orang di kedai-kedai kopi, mulai ambil kuda-kuda. Kekhawatiran itu tak berlebihan.

Sejarawan Prancis, Michelet, dikutip Mark
Pendergrast dalam Uncommon Grounds: The History of Coffee and How it Transformed Our World , menggambarkan penemuan kopi sebagai revolusi yang menguntungkan dan mampu memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru, bahkan
memodifikasi temperamen manusia. Ide-ide yang beredar dalam diskusi di kedai-kedai kopi pada akhirnya terakumulasi dalam peristiwa Revolusi Prancis.

Di Jerman, popularitas kopi mengganggu
penguasanya, Frederick the Great. Pada 1777, dia mengeluarkan manifesto yang mendukung minuman tradisional Jerman, bir: “Menjijikkan melihat meningkatnya kuantitas kopi yang dikonsumsi rakyatku, dan implikasinya, jumlah uang yang keluar dari negara kita. Rakyatku harus minum bir. Sejak nenek moyang, kemuliaan
kita dibesarkan oleh bir.”

Hal serupa sempat terjadi di Prancis ketika kopi mulai menyaingi wine. Sementara di Inggris, King George II memusuhi kopi lantaran orang-orang yang berkumpul di kedai-kedai kopi kerap mengolok-olok dirinya.
Namun tak ada perlawanan paling keras terhadap eksistensi kedai kopi di London ketimbang Women’s Petition tahun 1674, yang memrotes terbuangnya waktu para lelaki di kedai kopi, serta tak memungkinkannya perempuan berkunjung ke kedai kopi, sebagaimana di Prancis.
Lalu, pada 29 Desember 1675 Raja Inggris
Charles II mengeluarkan pernyataan tentang
Pelarangan Kedai Kopi, dengan alasan membuat orang mengabaikan tanggungjawab sosial serta mengganggu stabilitas kerajaan. Suara-suara
protes pun bermunculan di London. Klimaksnya, dua hari sebelum aturan itu berlaku, raja mengundurkan diri.

Kisah unik dari Austria Lain lagi cerita dari Wina, Austria. Pada bulan Juli 1683, pasukan Turki yang dipukul mundur
meninggalkan beragam barang, termasuk lima ratus karung besar berisi kacang aneh, yang dianggap para tentara sebagai makanan unta. Karena ternyata unta-unta tak doyan, mereka lemparkanratusan karung tersebut ke api.
Kolschitzky, seorang tentara yang pernah tinggal di Jazira Arab, terbangun oleh aroma kopi terbakar tersebut.
Demi Maria Yang Suci!” teriak Kolschitzky.
“Yang kalian bakar itu kopi! Kalau kalian tak tahu gunanya, berikan padaku.” Maka dengan bekal tersebut ia membuka kedai kopi yang termasuk generasi awal di Wina. Beberapa dekade kemudian, kopi mewarnai kehidupan intelektual di kota tersebut.

image

Sekarang, kopi sudah jadi minuman favorit di seluruh dunia. Bagi Anda penggila kopi,
berbahagialah karena minuman ‘hitam seperti jelaga’ di cangkir Anda kini bisa dinikmati sepuas hati, tanpa takut dicaci, apalagi masuk bui…dan halal pastinya..

Ingat kata alm mbah Surip ” kurangi tidur , banyakin ngopi “…ai lop yu pull…

Library : gulir bawah

Iklan

6 tanggapan untuk “ASAL-USUL KOPI”

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s