MENGENANG 10 TAHUN TSUNAMI ACEH – MASJID BAITURRAHMAN YANG TETAP BERDIRI KOKOH

image

M2000 – Artikel ini bukan untuk mengungkap luka lama, tapi sekedar mengingatkan saja akan sebuah bencana terbesar yang terjadi selama 100 tahun terakhir di negri yang kita cintai ini.
Tentu semua orang tidak ada yang mau ditimpa musibah atau bencana, namun itulah cara Allah dalam menakdirkan sesuatu atas apa yang diciptakannya.
Tentu kita tidak boleh berprasangka buruk pada Allah…karena suratan takdir memang telah digariskan , bahkan dalam sebuah hadist disebutkan.
” takdir manusia sudah dibuat 50 ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi”.

Seperti dalam Hadis Shahih Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻣَﻘَﺎﺩِﻳْﺮَ ﺍﻟْﺨَﻼَﺋِﻖِ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳَﺨُﻠُﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ
ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺑِﺨَﻤْﺴِﻴْﻦَ ﺃَﻟْﻒَ ﺳَﻨَﺔٍ ﻭَﻋَﺮْﺷُﻪ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﺎﺀ
” Allah telah menulis takdirnya makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan beberapa langit dan bumi. Dan, arys (singgasananya) Allah di atas air. “

Tentu kita masih ingat kejadian 10 tahun silam ditanah rentjong atau yang biasa disebut dengan serambi Mekah , Nangroe Aceh Darussalam.
Ya…sebuah bencana yang maha dasyat telah memporak-porandakan bumi yang konon pelopor kemerdekaan Indonesia ini.
Bencana tsunami setinggi bangunan bertingkat tiba-tiba datang pagi itu.
Diawali dengan gempa bumi dan disusul tsunami sungguh tidak ada yang menyangka akan terjadi separah itu.

Gempa bumi dan gelombang tsunami yang menyapu daratan Aceh tahun 2004 silam merupakan salah satu bencana alam terdahsyat sepanjang abad 20. Tercatat 200.000 jiwa menjadi korban dalam tragedi tersebut.
Tidak hanya korban jiwa, banyak pula
bangunan fisik yang habis tersapu gelombang.
Namun tidak begitu dengan Masjid
Baiturrahman. Rumah ibadah yang terletak di kawasan Pantai Ulee Lheu, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh ini menjadi satu-satunya bangunan yang selamat dalam peristiwa tersebut.

Masjid yang berjarak sekitar 500 meter dari bibir pantai ini menjadi saksi bisu peristiwa 10 tahun yang lalu.
Saat gelombang terjadi, hanya sembilan orang yang selamat di masjid ini,
enam orang laki-laki dan tiga orang
perempuan serta seorang bayi berumur tiga bulan ( dalam video yang banyak beredar ada ratusan orang yang bertahan di masjid ini ).

Saat gelombang pertama datang, setidaknya ada 138 orang yang berlindung di masjid ini.
Saat gelombang kedua datang, warga yang berlindung di tempat ibadah ini masih berjumlah sama. Namun, saat gelombang ketiga datang, tiba-tiba air
masuk entah dari mana dan menghayutkan warga yang ada.
“Saat gelombang ketiga, air masuk entah dari mana. Ada mobil yang menabrak dinding naik di atas mimbar, hingga orang macam diblender
di air dan banyak orang di atas masjid jatuh,” kenang Tgk Buchari…seorang saksi yang selamat.

Sementara beberapa bangunan masjid bagian depan, seperti pagar dan kaca, atau sekitar 20 persen mengalami kerusakan.
Tgk Buchari menjelaskan pasca-tsunami masjid ini kembali direhab dengan bantuan dari negara donor
pada waktu itu.
Dalam pekarangan masjid juga berdiri tegak sebuah menara yang dibangun oleh kerajaan Brunei Darussalam.
Tgk Buchari menuturkan, menara tersebut merupakan sedekah dari
Sultan Hassanal Bolkiah karena para pengurus menolak pembangunan masjid baru.
“Kami menolak masjid ini dirubuhkan dan dibangun masjid baru karena ini aset orang tua kami yang menyumbang sewaktu mereka hidup. Jadi biarlah tetap seperti ini,” ucapnya.

Kawasan Ulee Lheu sebelum tsunami
merupakan kawasan padat dengan jumlah penduduk mencapai 700.000 jiwa. Namun, saat gempa bumi dan tsunami menghantam kawasan ini, hanya 700 orang saja yang selamat. Lebih dari separuh warga menjadi
korban.

image

Masjid Baiturrahman dulu dikenal sebagai Masjid Olele, Koetaradja. Masjid ini didirikan di atas tanah wakaf dan dibangun secara swadaya oleh masyarakat Meuraxa yang saat
itu dipimpin oleh Teuku Teungoh Meuraxa pada tahun 1923/1926 Masehi.
Dengan program gotong-royong, masyarakat Meuraxa pada waktu itu mengumpulkan dana untuk pembangunan masjid. Para lelaki yang
sebagiannya berprofesi sebagai nelayan setiap pulang dari menjual hasil melaut menyisihkan sebagiannya untuk masjid.
Sementara kaum ibu mengumpulkan beras yang ditaruh dalam karung beras sebanyak satu mok (satu kaleng susu), dan pada akhir bulan diserahkan pada panitia pembangunan masjid tersebut.

Masjid yang berdiri pada akhir tahun 1923 ini tidak memiliki kubah seperti pada umumnya, namun hanya ada sebuah puncak masjid berbentuk persegi empat.
Pada tahun 1984 puncak masjid ini rubuh sehingga tahun 2004’masjid tidak memiliki kubah.
Pada awal pembangunannya, masjid ini hanya mampu menampung jamaah hingga 500 orang.
Namun pada tahun 1981, Kerajaan Arab Saudi memberikan bantuan untuk perluasan masjid hingga dapat
menampung jamaah sampai 1.500 orang.

Masjid Baiturahman ini memang tidak sebesar dan semegah Istiqlal , namun tentunya di mata orang Aceh , masjid ini begitu mendarah daging dan akan selalu dihati mereka.

Library : merdeka

Iklan

3 tanggapan untuk “MENGENANG 10 TAHUN TSUNAMI ACEH – MASJID BAITURRAHMAN YANG TETAP BERDIRI KOKOH”

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s