HUKUM MEMAKAI BATU AKIK

Assallamu’allaikum mass n’ miss sadayana.

image

M2000 – Akhir-akhir ini batu akik semakin banyak diminati banyak pria.
Bahkan pejabat negara atau publik figur pun doyan sekali .
Demam batu akik meman melanda sampai ke kantor pemerintah maupun swasta. Tak heran bermunculan juga tempat-tempat baru yang menjual akik.
Lantas apakah Rasulullah SAW memakai cincin yang ada batu akik dan apa jenisnya ?
Bagaimana hukumnya?

Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (NU) memberikan penjelasan terkait persoalan itu,

Dalam sebuah riwayat , Imam Muslim yang menjelaskan bahwa cincin Rasulullah saw itu terbuat dari perak dan batu mata cincinya berasal dari negeri Habasyi.

ﻋﻦ ﺃَﻧَﺲِ ﺑْﻦِ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﻗَﺎﻝَ ﻛَﺎﻥَ ﺧَﺎﺗَﻢُ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻣِﻦْ ﻭَﺭِﻕٍ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻓَﺼُّﻪُ ﺣَﺒَﺸِﻴًّﺎ -ﺭﻭﺍﻩ
ﻣﺴﻠﻢ
“Dari Anas bin Malik ra ia berkata, bahwa cincin Rasulullah saw itu terbaut dari perak dan mata cincinya itu mata cincin Habasyi”. (H.R. Muslim)

Menurut Imam Nawawi para ulama menyatakan bahwa yang dimaksud dengan, “mata cincinya itu mata cincin Habasyi” adalah batu yang berasal dari Habasyi.
Artinya batu mata cincinya itu dari jenis batu merjan atau akik karena dihasilkan dari pertambangan batu di Habsyi dan Yaman.

Pendapat lain mengatakan bahwa batu mata cincinya berwarna seperti warna kulit orang Habasyi, yaitu hitam.
Sedangkan dalam Shahih al-Bukhari terdapat riwayat dari Hamin dari Anas bin Malik yang menyatakan mata cincinya itu terbuat dari perak.
Dalam pandangan Ibnu ‘Abd al-Barr ini
adalah yang paling sahih.
Dari sinilah kemudian lahir pendapat lain yang mencoba untuk mempertemukan riwayat Imam
Muslim dan Imam Bukhari.

Menurut pendapat ini, baik riwayat yang terdapat dalam Shahih Muslim maupun Shahih al-Bukhari adalah sama-sama sahihnya. Maka menurut pendapat ini Rasulullah saw pada suatu waktu memakai cincin yang matanya terbuat dari perak, dan pada waktu lain memakai cincin yang matanya dari batu yang berasal dari Habsyi.
Bahkan dalam riwayat lain menyatakan bahwa batu mata cincin beliau itu dari batu akik.
ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻓَﺼُّﻪُ ﺣَﺒَﺸِﻴًّﺎ ‏) ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀُ ﻳَﻌْﻨِﻰ ﺣَﺠَﺮًﺍ ﺣَﺒَﺸِﻴًّﺎ
ﺃَﻯْ ﻓَﺼًّﺎ ﻣِﻦْ ﺟَﺰْﻉٍ ﺃَﻭْ ﻋَﻘِﻴﻖٍ ﻓَﺈِﻥَّ ﻣَﻌْﺪِﻧَﻬُﻤَﺎ ﺑِﺎﻟْﺤَﺒَﺸَﺔِ
ﻭَﺍﻟْﻴَﻤَﻦِ ﻭِﻗِﻴﻞَ ﻟَﻮْﻧُﻪُ ﺣَﺒَﺸِﻰٌّ ﺃَﻯْ ﺃَﺳْﻮَﺩُ ﻭَﺟَﺎﺀَ ﻓِﻰ
ﺻَﺤِﻴﺢِ ﺍﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱِّ ﻣِﻦْ ﺭِﻭَﺍﻳَﺔِ ﺣَﻤِﻴﺪٍ ﻋَﻦْ ﺃَﻧَﺲٍ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻓَﺼُّﻪُ
ﻣِﻨْﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﺒَﺮِّ ﻫَﺬَﺍ ﺃَﺻَﺢُّ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻏَﻴْﺮُﻩُ ﻛِﻠَﺎﻫُﻤَﺎ
ﺻَﺤِﻴﺢٌ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻟِﺮَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓِﻰ
ﻭَﻗْﺖٍ ﺧَﺎﺗَﻢٌ ﻓَﺼُّﻪُ ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﻓِﻰ ﻭَﻗْﺖٍ ﺧَﺎﺗَﻢٌ ﻓَﺼُّﻪُ ﺣَﺒَﺸِﻰٌّ
ﻭَﻓِﻰ ﺣَﺪِﻳﺚٍ ﺁﺧَﺮَ ﻓَﺼُّﻪُ ﻣِﻦْ ﻋَﻘِﻴﻖٍ
“(Dan mata cincinnya itu mata cincin Habasyi).
Para ulama berkata maksudnya adalah batu Habasyi yaitu batu mata cincin dari jenis batu merjan atau akik. Karena keduanya dihasilkan dari penambangan batu yang ada Habsyi dan Yaman. Dan dikatakan (dalam pendapat lain), warnanya itu seperti kulit orang Habasyi yaitu hitam.
Begitu juga terdapat dalam Shahih al- Bukhari riwayat dari Hamid dan Anas bin Malik yang menyatakan bahwa mata cincinya itu dari perak.
Menurut Ibnu Abd al-Barr ini adalah
yang paling sahih. Sedangkan ulama lainnya mengatakan bahwa keduanya adalah sahih, dan Rasulullah saw pada suatu kesempatan memakai cincin yang matanya dari perak dan pada waktu lain memakain cincin yang matanya dari batu Habasyi.
Sedang dalam
riwayat lain dari akik.” (Muhyiddin Syarf an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim , Bairut-Dar Ihya` at-Turats al-‘Arabi, cet ke-2,1392 H, juz, 14, h. 71)

Namun terdapat keterangan lain yang
menyatakan bahwa apa yang dimaksudkan, “mata cincinya itu mata cincin Habasyi” adalah salah satu jenis batu zamrud yang terdapat di Habasyi yang berwarna hijau, dan berkhasiat
menjernihakan mata dan menjelaskan
pandangan”

ﻭَﻓِﻲ ﺍﻟْﻤُﻔْﺮَﺩَﺍﺕِ ﻧَﻮْﻉٌ ﻣِﻦْ ﺯَﺑَﺮْﺟَﺪَ ﺑِﺒِﻠَﺎﺩِ ﺍﻟْﺤَﺒْﺶِ ﻟَﻮْﻧُﻪُ ﺇِﻟَﻰ
ﺍﻟْﺨَﻀْﺮَﺓِ ﻳُﻨَﻘِّﻲ ﺍﻟْﻌَﻴْﻦَ ﻭَﻳَﺠْﻠُﻮ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮَ
“Dan di dalam kitab al-Mufradat, (batu cincin yang berasal dari Habasyi) adalah salah satu jenis zamrud yang terdapat di Habasyi, warnanya hijau, bisa menjernihkan mata dan menerangkan pandangan” (Lihat Abdurrauf al-Munawi, Faidlul-Qadir , Bairut-Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet ke-1, 1451 H/1994 M, juz, 5, h. 216)

Lantas bagaimana hukum memakainya ?

Menurut Imam Syafi’i hukum memakai batu mulia atau batu akik seperti batu yaqut, zamrud dan lainnya adalah mubah sepanjang tidak untuk berlebih-lebihan dan menyombongkan diri.
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲُّ- ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻛْﺮَﻩُ ﻟِﻠﺮِّﺟَﺎﻝِ ﻟُﺒْﺲَ ﺍﻟﻠُّﺆْﻟُﺆِ ﺇﻟَّﺎ ﻟِﻠْﺄَﺩَﺏِ
ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻣِﻦْ ﺯِﻱِّ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ﻟَﺎ ﻟِﻠﺘَّﺤْﺮِﻳﻢِ ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻛْﺮَﻩُ ﻟُﺒْﺲَ ﻳَﺎﻗُﻮﺕٍ
ﺃَﻭْ ﺯَﺑَﺮْﺟَﺪٍ ﺇِﻟَّﺎ ﻣِﻦْ ﺟِﻬَﺔِ ﺍﻟﺴَّﺮَﻑِ ﻭَﺍﻟْﺨُﻴَﻠَﺎﺀِ
“Imam Syafii berkata dalam kitab al-Umm, saya tidak memakruhan laki-laki memakai mutiara kecuali karena terkait dengan etika dan mutiara itu termasuk dari aksesoris perempuan, bukan karena haram. Dan saya tidak memakrukan (laki-laki) memakai
yaqut atau zamrud kecuali jika berlebihan dan untuk menyombongkan (diri)”. (Muhammad
Idris asy-Syafi’i, al-Umm , Bairut-Dar al-
Ma’rifah, 1393 H, juz, 1, h. 221)

Demikian penjelasan yang dapat kami
sampaikan, semoga bermanfaat. Dan saran kami jangan pernah memakai batu cincin karena berniat pamer, menyombongkan diri dan takabbur. Bahkan bukan hanya batu cincin,
tetapi semua yang kita kenakan juga.

Semoga bermanfaat,
Wassallamu’allaikum, …

Library : nu.or.id

Iklan

5 tanggapan untuk “HUKUM MEMAKAI BATU AKIK”

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s