PENGAKUAN BRIMOB SANG EKSEKUTOR HUKUMAN MATI – ” MAAF SAYA HANYA MENJALANKAN TUGAS “

image
Anggota Brimob Polda Jateng di siapkan untuk eksekusi

M2000 – Drama eksekusi hukuman mati para terpidana mati narkoba di Nusa Kambangan memang belum berakhir.
Tercatat masih ada satu nama yang lolos pada eksekusi jilid 2 pada 29 april 2015 ,yaitu Mari Jane asal Filiphina.
( baca : Mari Jane lolos dari eksekusi jilid 2 ).

Namun , seperti yang admin beritakan sebelumnya sang eksekutor dalam hal ini adalah anggota Brimob Polda Jateng adalah juga manusia biasa yang punya nurani, mereka juga punya keluarga yang pastinya juga akan sedih jika ditinggal mati salah satu keluarganya.
Apalagi sang eksekutor mau tidak mau harus menjadi algojo pembunuh buat sang terpidana mati.
Mereka mendengar suara mereka saat masih hidup dan harus mengakhiri hidup mereka, tentu ini adalah beban mental bagi sang eksekutor.

Seandainya boleh memilih , pastilah sang eksekutor ( Brimob ) tidak mau, lagian mereka juga hanya dibayar 1,3 juta saja per kepala untuk menjadi algojo penembak, namun bagaimana lagi ini adalah tugas negara yang harus dilaksanakan.
Tentu kita yang hanya menyaksikan atau mendengar beritanya tidak merasakan bagaimana beban mental mereka setelah membunuh orang.

Memang bukan perkara mudah menjadi eksekutor sebuah hukuman mati. Bagaimana perasaan mereka saat menembak mati para terpidana tersebut?

Nah, berikut adalah pengakuan anggota Brimob polda Jateng yang menjadi eksekutor pada eksekusi jilid 1pada 9 januari 2015 lalu, penasaran kan bagaimana pengakuannya , simak terus ya,

Seorang anggota Brimob yang menjadi
eksekutor hukuman mati gelombang pertama mengisahkan pengalamannya.
Dia bertugas menembak seorang terpidana pada 8 Januari lalu.
Menurutnya lebih mudah menarik pelatuk.
Yang lebih sulit adalah saat harus menyentuh korbannya langsung. Sang algojo harus mengikat tubuh calon korbannya di sebuah tiang dengan tali.
“Beban mental yang lebih berat itu adalah
petugas yang harus mengikat terpidana,
ketimbang algojo penembak, Soalnya mereka bertanggung jawab untuk membawa terpidana dan mengikat kedua
tangan mereka sampai akhirnya mereka mati “, kata dia, seperti dilansir surat kabar the Guardian, pekan lalu.

Sang algojo yang juga anggota Brimob itu
tidak mau disebutkan namanya karena kasus ini cukup sensitif.
Selain dibebani tugas rutin, anggota Brimob
juga ditugasi menjadi eksekutor terpidana mati. Mereka dibayar kurang dari Rp 1,3 juta untuk menjalankan tugas ini.
Saat ditanya bagaimana perasaannya ketika menjadi salah satu algojo penembak, dia mengatakan “Ini akan jadi rahasia seumur hidup.”
Ketika didesak lagi, dia terdiam beberapa saat.

Sebagai seorang anggota Brimob saya harus melakukannya dan saya tak punya pilihan ,Tapi sebagai manusia, saya tidak akan melupakan kejadian ini seumur hidup,”

kata dia seraya mengusap matanya dan menatap ke arah langit ,seperti dilansir news.com.au, Rabu (11/3).

Dalam pelaksanaan hukuman mati ini ada dua tim yang ditugaskan. Tim pertama adalah yang membawa terpidana ke tiang buat diikat dan Tim kedua adalah penembak.
Anggota Brimob itu mengatakan dia sudah pernah berada di kedua tim itu.
“Kami melihat terpidana itu dari dekat, dari
saat mereka masih hidup, berbicara, hingga
mereka mati. Kami tahu persis semua kejadian itu.”
Lima anggota Brimob ditugaskan untuk
mengawal setiap terpidana, dari mulai
membawa mereka keluar sel hingga menggiring mereka ke tiang.
Petugas mengatakan terpidana bisa memilih untuk menutup wajah mereka sebelum diikat supaya posisi mereka tidak
bergerak saat berdiri di tiang.
Dengan tali tambang mereka mengikat
terpidana ke tiang dalam keadaan berdiri atau berlutut sesuai keinginan mereka.

“Saya tidak berbicara dengan terpidana. Saya perlakukan mereka seperti keluarga sendiri dan Saya hanya bilang, “Maaf, saya hanya menjalankan tugas.”

Para terpidana mati itu akan memakai baju
berwarna putih dan jika mau mata mereka
bisa ditutup.
Di tengah kegelapan malam, cahaya obor akan menerangi lingkaran berdiameter 10 sentimeter tepat di jantung mereka.
Pasukan penembak yang terdiri dari 12 orang akan berdiri sekitar lima hingga sepuluh meter dan menembakkan senapan M16s saat diperintah.
Para algojo itu dipilih berdasarkan kemampuan menembak dan kondisi mental serta kebugaran fisik. Mereka menembak secara bergiliran.
“Semua beres kurang dari lima menit, Setelah ditembak, terpidana itu akan lemas karena sudah tidak bernyawa ” kata dia lagi.

Seorang dokter memeriksa korban untuk
memutuskan apakah dia sudah mati atau
belum. Jika belum maka petugas akan menembak terpidana di kepala dalam jarak
dekat.
Korban kemudian akan dimandikan dan
dimasukkan ke dalam peti mati. Algojo itu mengatakan dia hanya menjalankan
tugas berdasarkan aturan hukum.
“Saya terikat sumpah prajurit. Terpidana sudah melanggar hukum dan kami hanya algojo. Soal apakah ini berdosa atau tidak kami serahkan kepada Tuhan “.
Setelah melaksanakan eksekusi, petugas
menjalani bimbingan spiritual dan psikologi
selama tiga hari. Seorang algojo juga diberi
batas maksimal jumlah eksekusi yang bisa
dilakukannya.
“Kalau cuma sekali atau dua kali tidak
masalah, tapi kalau harus berkali-kali bisa
mempengaruhi secara psikologi, Saya inginnya tidak terus-terusan menjadi algojo. Saya juga tidak suka melakukannya. Jika ada anggota lain, biar mereka saja , suatu hari saya berharap bisa melupakan semua ini , saya harap mereka beristirahat dengan tenang, begitu pula saya.”katanya menutup pembicaraan.

Library : merdeka

Iklan

2 tanggapan untuk “PENGAKUAN BRIMOB SANG EKSEKUTOR HUKUMAN MATI – ” MAAF SAYA HANYA MENJALANKAN TUGAS “”

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s