Bolehkah kita mengirimkan doa Al Fatihah kepada orang yang sudah meninggal ?

Assallamu’allaikum mass n’ miss sadayana

image

M2000 – Sebagai umat muslim tentu kita tahu , bahwa surat Al Fatihah mengandung doa yang mujarab.
Bahkan Surat Al Fatihah menjadi bacaan wajib saat kita melakukan ibadah sholat.

Yang menjadi pertanyaan adalah tentang boleh tidaknya kita mengirimkan doa Al Fatihah kepada orang yang sudah meninggal ( arwah ).

Seperti belakangan ini yang muncul
perdebatan tentang tayangan  yang ditayangkan di Trans TV pada Rabu (2/9).
Temanya adalah “Mengirimkan Al- Fatihah untuk orang yang sudah tiada“.
Dalam tayangan yang dibawakan oleh Teuku Wisnu dan Zaskia Mecca, banyak orang dalam media sosial mengkritisi pernyataan Teuku Wisnu dan tayangan ” Berita Islam Masa Kini“. Terutama soal baik atau tidaknya mengirimkan Al-Fatihah untuk orang yang sudah tiada.

image
Acara Berita Islam masa kini

Apalagi setelah menyebut kata bid’ah.
Atas tayangan ini, akun Twitter Teuku Wisnu
dibanjiri kritikan.
Salah satunya dari akun @NUGarisLurus “Kami brhrp @teukuwisnu2 & @zaskiadyamecca utk meminta maaf scr
trbuka kpd kaum muslimin krn mmbwa
khilafiyah menjadi perdebatan publik.

Sesungguhnya memang tidak terdapat dalam sejarah Nabi dan para sahabat serta para salafusoleh yang terkemudian untuk menyedekahkan bacaan dari surah Al Fatihah kepada seseorang yang telah
meninggal.
Adapun bacaan yang bersandar pada perbuatan Rasulullah saw boleh didapati dari hadis riwayat Muslim ini:
ﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺪﻳﺎﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻭﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﺇﻧﺎ
ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻼﺣﻘﻮﻥ ﺃﺳﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻨﺎ ﻭﻟﻜﻢ ﺍﻟﻌﺎﻓﻴﺔ
‘Salam sejahtera ke atas kamu wahai ahli kubur, dari kalangan mukminin dan muslimin, Insya Allah kami akan menyusul kalian, Aku berdoa kepada Allah supaya memberi keselamatan kepada kami
dan kamu. [riwayat Muslim]

Atau membacakan doa yang masyhur ketika menunaikan solat jenazah:
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮﻟﻪ ﻭﺍﺭﺣﻤﻪ ﻭﻋﺎﻓﻪ ﻭﺍﻋﻒ ﻋﻨﻪ
“Allah berikan keampunan kepadanya, sayangilah dia, maafkanlah dia, ampunkanlah dia….. ”

Sekadar peringatan kerana setiap Ibadat yang tidak ada asasnya dalam Islam adalah tertolak:
Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat. [HR Abu Dawud dan At Tirmizi]

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak. [HR Bukhari dan Muslim]

Berikut ini video tayangan Teuku Wisnu dan
Zakia Mecca saat menyampaikan pengantar yang diunggah oleh akun Kiswah [Kios Da’wah] Artwork ke Youtube pada 2
September 2015.
Dan inilah video tayangan “Berita Islam Masa Kini ”

Bagaimana pendapat ulama soal ini ?

Menurut Imam Besar Masjid’Istiqlal, KH. Ali Mustafa Yaqub mengatakan hal
ini hanyalah soal perbedaan pendapat.
Beragamnya paham dalam ajaran agama Islam menimbulkan banyaknya makna akan suatu perbuatan.
Masalah ini hanya perbedaan pendapat saja. Memang ada yang berbeda pendapat , tapi juga ada yang keliru memahami jadi dianggap salah,” kata Yaqub seperti dilansir
merdeka.com, Kamis (3/9).

Dia menambahkan, masyarakat juga harus
memahami terlebih dahulu makna dari bidah, yaitu perbuatan yang tidak ada dalil
agamanya. Sedangkan beribadah untuk
dihadiahkan kepada orang lain, baik yang
hidup maupun sudah tiada, mempunyai
hadisnya tersendiri.
“Yang disebut bid’ah itu apa dulu. Bid’ah
adalah ibadah yang tidak ada dalil agamanya. Beri Alfatihah itu kan dibiaskan oleh orang ibadah haji dihadiahkan ke orang lain, itu ada hadistnya,” imbuhnya.

Yaqub sendiri mengakui bahwa Nabi
Muhammad SAW memang tidak pernah
mengajarkan untuk memberi Alfatihah untuk
arwah. Sebab, pada masa itu Rasul tidak
mengirimkan doa kepada ibunya karena beliau adalah non muslim. Meski begitu, dia mengimbau agar masyarakat tidak memberatkan hal tersebut.
Bagaimanapun, masih ada hadist yang
mengatur tentang amalan untuk dihadiahkan kepada mereka yang sudah meninggal, baik dengan membaca ayat suci Alquran, salat, puasa, dan ibadah haji.
“Nabi Muhammad kan saat itu tidak pernah
mendoakan ibunya yang sudah meninggal
karena dia non muslim, jadi Beliau hanya
diperbolehkan berziarah. Tapi jangan terlalu
condong kesana. Alfatihah itu kan bacaan
Alquran kita lakukan pahalanya dihadiahkan
kepada orang lain itu boleh saja,” jelas Yaqub.

Lebih jauh Yaqub menerangkan, mayoritas
ulama dan mazhab juga memperbolehkan
membaca Al Fatihah untuk dihadiahkan kepada orang lain. Kecuali kelompok Muktazilah yang memang tidak memperbolehkan hal itu.

Nah , disini ada memang ada dua pendapat antara memperbolehkan dengan syarat dan yang melarangnya.

Tapi catat, jangan asal mengucapkan kata  bid’ah ya !
Karena bid’ah sendiri sebenarkan digunakan untuk hal-hal yang mengandung unsur ibadah .
Kebanyakan orang memang menganggap bid’ah karena Rosul tidak pernah melakukannya.

Kita ambil contoh , Rosul tidak pernah menonton televisi, mendengarkan radio, makan dengan sendok, naik mobil , menulis dari kiri ke kanan dan lain sebagainya…apakah ini juga dianggap bid’ah ?

Nah, dari sini seharusnya bisa dipelajari, bahwa bid’ah sesungguhnya memang di gunakan untuk hal-hal yang mengandung unsur keagamaan ( ibadah ) .
Kalaupun ada pendapat hal-hal tersebut memang dianggap bid’ah tentunya ini adalah bid’ah yang baik , atau beberapa kalangan menyebutnya sebagai bid’ah khasanah.

Lha yang tadi soal mengirimkan doa surat Al Fatihah , bukankah itu juga berunsur keagamaan, bagaimana dong ?

Seperti yang sudah di jelaskan diatas , Rosul tidak pernah mendoakan ibunya, karena memang orang tuanya non muslim dan itu memang  dilarang dalam agama islam.
Catat ya , walaupun itu orang tuanya sendiri , kalau memang non muslim ,  kita dilarang mendoakannya, dan Rosul sudah mencontohkan.

Silahkan anda memakai pendapat yang mana !

Semoga artikel ini bermanfaat,
Kalau ada kalimat yang salah, mohon diluruskan .

Wassallamu’allaikum, …

______________________________________

Kerjasama blog :

Email : masshar2000@gmail.com
Pin : 74A6F873
Whatapps : 085740562055
______________________________________

Iklan

10 tanggapan untuk “Bolehkah kita mengirimkan doa Al Fatihah kepada orang yang sudah meninggal ?”

  1. Jawaban anda tidak nyambung sama pertanyaannya.

    Apakah ibu Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya orang yang sudah meninggal saat itu? kenyataannya riwayat mengatakan banyak sahabat2 nabi yang wafat baik dalam peperangan maupun wafat biasa. Namun Nabi tidak pernah mencontohkan mengirimkan al fatihah kepada para sahabat tersebut.

    Suka

  2. Memang banyak pendapat ya soal beginian, biasanya jadi biang ribut, hehe. Setau ane 4 madzab pun berbeda2 pendapatnya, jadi memang terserah kita mau ikut yg mana ^^

    Suka

  3. Kok bisa dlm artikel trsbut ada kalimat “ibunda Rosul bknlah orang muslim”. Bukankah klrga rosul berasal dr darah dan silsilah klrg yg taat dan tauhid……. dr nabi Ibrahim AS. Mhn diluruskan. Kl blm ada perintah sholat 5 waktu mmng blm. Tp klrga rasul adalah pnganut tauhid yg baik sesuai ajaran nabi2 terdahulu. Wallahu a’lam. Trm ksh

    Suka

  4. Marilah saling menghormati perbedaan diantara kita ..karna semuaa merasa benar dengan segala macam alasan masing – masing. .

    Suka

  5. mending lakukan yg kita yakini aja, yg penting niat kita ikhlas ibadah, dari pada pusing mikir hal2 seperti itu, toh hanya allah yg berhak menilai amal ibadah kita

    Suka

  6. Internet memang ga bisa di percaya 100% terkadang suka ngawur… lebih baik kita bertanya sama ustaz atau kiayi saja

    Suka

  7. Hadis membaca surat Al Fatihah untuk yang meninggal dunia

    عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَةِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِي قَبْرِهِ (رواه الطبراني في الكبير رقم 13613 والبيهقي في الشعب رقم 9294 وتاريخ يحي بن معين 4 / 449)

    “Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda: Jika diantara kalian ada yang meninggal, maka janganlah diakhirkan, segeralah dimakamkan. Dan hendaklah di dekat kepalanya dibacakan pembukaan al-Quran (Surat al-Fatihah) dan dekat kakinya dengan penutup surat al-Baqarah di kuburnya” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 13613, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 9294, dan Tarikh Yahya bin Main 4/449)[2]

    Al-Hafidz Ibnu Hajar memberi penilaian pada hadis tersebut:

    فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ أَخْرَجَهُ الطَّبْرَانِي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ (فتح الباري لابن حجر 3 / 184)

    “HR al-Thabrani dengan sanad yang hasan” (Fath al-Bari III/184)

    Surat Fatihah Adalah Doa

    Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa beberapa sahabat Nabi pernah singgah di sebuah kabilah, yang kepala sukunya terkena gigitan hewan berbisa. Lalu sahabat melakukan doa ruqyah dengan bacaan Fatihah (tanpa ada contoh dan perintah dari Nabi). Kepala suku pun mendapat kesembuhan dan sahabat mendapat upah kambing. Ketika disampaikan kepada Nabi, beliau tersenyum dan berkata:

    وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ أَصَبْتُمُ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِى مَعَكُمْ بِسَهْمٍ

    “Dari mana kalian tahu bahwa surat Fatihah adalah doa? Kalian benar. Bagikan dan beri saya bagian dari kambing itu” (HR al-Bukhari dan Muslim, redaksi diatas adalah hadis al-Bukhari)

    Di hadis ini sahabat membaca al-Fatihah untuk doa ruqyah adalah dengan ijtihad, bukan dari perintah Nabi. Mengapa para sahabat melakukannya, sebab hal ini tidak dilarang oleh Rasulullah. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam al-Hasyr: 7

    “… Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…”

    Yang harus ditinggalkan adalah sesuatu yang dilarang oleh Rasulullah, bukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah! Dalam masalah al-Fatihah ini tidak ada satupun hadis yang melarang membaca al-Fatihah dihadiahkan untuk mayit!

    Bahkan membaca al-Fatihah untuk orang yang telah wafat juga telah diamalkan oleh para ulama, diantara ulama ahli Tafsir berikut:

    وَأَنَا أُوْصِي مَنْ طَالَعَ كِتَابِي وَاسْتَفَادَ مَا فِيْهِ مِنَ الْفَوَائِدِ النَّفِيْسَةِ الْعَالِيَةِ أَنْ يَخُصَّ وَلَدِي وَيَخُصَّنِي بِقِرَاءَةِ اْلفَاتِحَةِ وَيَدْعُوَ لِمَنْ قَدْ مَاتَ فِي غُرْبَةٍ بَعِيْداً عَنِ اْلإِخْوَانِ وَاْلأَبِ وَاْلأُمِّ بِالرَّحْمَةِ وَالْمَغْفِرَةِ فَإِنِّي كُنْتُ أَيْضاً كَثِيْرَ الدُّعَاءِ لِمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فِي حَقِّي وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً آمِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (تفسير الرازي : مفاتيح الغيب 18 / 183)

    “(al-Razi berkata) Saya berwasiat kepada pembaca kitab saya dan yang mempelajarinya agar secara khusus membacakan al-Fatihah untuk anak saya dan diri saya, serta mendoakan orang-orang yang meninggal nan jauh dari teman dan keluarga dengan doa rahmat dan ampunan. Dan saya sendiri melakukan hal tersebut” (Tafsir al-Razi 18/233-234)

    Suka

  8. Daripada berdebat mending kita ikuti cara masing2,bagi yang mau mengirimkan alfatihah ke orang mati monggo lalu bagi gak yg gak mengirimkan alfatihah ke orang mati gak apa2,biarlah allah yg menilai amal ibadah kita.

    Suka

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s