Kisah walikota paling jujur di Indonesia

image

M2000 – Bicara soal kepala daerah yang jujur , tentunya akan sulit mendapatkannya dijaman sekarang.
Didaerah admin sendiri ada juga mantan camat yang menurut warga sekitar sangat jujur dan anti korupsi.
Mbah camat adalah nama yang biasa disebut oleh warga sekitar…rumahnya memang tak jauh dari rumah admin sendiri waktu itu , hanya selang satu rumah saja.

Menurut orang-orang tua , mbah camat ini menjadi camat pada tahun 60-an.
Selepas menjabat , beliau bahkan tak punya apa-apa untuk ukuran seorang camat…ya kalau ini admin tahu sendiri kebetulan cucunya adalah teman admin sendiri , jadi waktu kecil admin biasa main disana.
Kata orang-orang tua, andaikata mbah camat ini mau korupsi , pastilah beliau menjadi salah satu orang terkaya dikampung admin.

Bahkan admin masih ingat , dulu saat beliau masih sehat , kesehariannya masih suka menggembalakan kambing di pinggiran kampung…menikmati masa tua di kampung mungkin ya…

Oke, itu adalah sekelumit kisah pejabat yang anti korupsi di daerah admin.

Di era sekarang, terlebih Pilkada serentak di 264 kabupaten dan kota seluruh Indonesia telah digelar. Dari hasil hitung cepat, telah diketahui sejumlah nama jauh mengungguli lawan-lawannya. Mereka pun dipastikan akan memimpin daerah masing-masing.
Saat kampanye, janji-janji diobral.
Kini bagaimana setelah terpilih ?
Akankah para kepala daerah baru ini juga tak korupsi.?…mari kita tagih janji mereka !

Ternyata ditempat lain , ada juga kisah menarik seorang wali kota yang jujur. Kebetulan dia juga seorang perwira polisi.
Adalah Inspektur Polisi I Anwar Maksoem yang menjabat Wali Kota Bukittinggi tahun 1960-1967. Tujuh tahun menjabat, kekayaan Anwar Maksoem tak bertambah.

Ceritanya tahun 1967, setelah tidak menjabat sebagai Wali Kota, Anwar kembali ke kepolisian. Dia berdinas di Komdak (kini Polda) Sumatera Barat yang bermarkas di Padang. Kondisi perekonomian saat itu memang sedang buruk. Sebagai polisi yang hanya mengandalkan gaji tanpa korupsi, Anwar kesulitan.

Hartanya yang paling berharga, tanda pangkat balok dari emas sudah dijualnya. Uangnya pun sudah habis untuk makan dan keperluan sehari-hari. Demikian dikutip dalam buku Brigadir Jenderal Polisi Kaharoeddin Datuk Rangkayo Basa, Gubernur di Tengah Pergolakan, terbitan Pustaka Sinar Harapan tahun 1998.

Suatu hari Anwar ingin merokok. Tapi uang di sakunya benar-benar sudah habis. Dia pun meminjam uang pada anak buahnya yang bernama Ahmadsjah. Ahmadsjah ini cuma pegawai sipil di Polda Sumbar.

Kira-kira percakapannya seperti ini:

Mad ada uang Rp 25? Bapak pinjam dulu,” kata Anwar.

Ahmadsjah menyangka bosnya bercanda. Masak seorang perwira, mantan Wali Kota mau pinjam uang Rp 25 untuk beli rokok? “Bapak becanda ya?” balas Ahmad.

Anwar menggeleng. “Tidak, bapak benar-benar tidak punya uang,” akunya.

Maka Ahmad pun memberikan pinjaman Rp 25 dengan hati bingung. Tapi Inspektur Anwar cuek saja. Dia menikmati rokoknya dengan nikmat.
Inspektur I Anwar Maksoem adalah polisi pertama yang menjadi wali kota. Dia mendampingi Kombes Pol Kaharoeddin, polisi pertama yang menjadi Gubernur. Keduanya sama-sama jujur. Saat itu memang menjadi kepala daerah bukan untuk korupsi.

Semoga masih ada kepala daerah sejujur ini lagi di Indonesia. Dan benar-benar tak punya uang karena tak korupsi, bukan karena pencitraan semata.

image

Library : merdeka

Iklan

3 thoughts on “Kisah walikota paling jujur di Indonesia

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s