Iklan
Oleh: masshar2000 | 17 Januari 2016

Ini Point kesalahan penyidik KPK saat menggeledah di gedung DPR

image
M2000 – Kasus penggeledahan ruangan DPR oleh penyidik jum’at lalu ternyata berbuntut panjang.
Seperti kita ketahui , saat akan menggeledah ruangan anggota fraksi PKS , penyidik sempat dihalang-halangi Wakil Ketua DPR yang notabene nya dari PKS sendiri.

Dewan Perwakilan Rakyat menilai ada sejumlah kesalahan Komisi Pemberantasan Korupsi terkait langkah penggeledahan tiga ruangan anggota DPR, Jumat (15/1/2016).

Penggeledahan tersebut dilakukan terkait penangkapan anggota Komisi V Fraksi PDI-P, Damayanti Wisnu Putranti dalam sangkaan menerima suap menyangkut proyek di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Anggota Komisi III DPR, Bambang Soesatyo melalui keterangan tertulisnya pada Sabtu (16/1/2016), menyampaikan hasil keputusan rapat pimpinan DPR terkait penggeledahan tersebut.
DPR mencatat delapan poin kesalahan KPK dalam penggeledahan tersebut. Dalam surat penggeledahan KPK hanya tertulis nama Damayanti Wisnu Putrianti dan tak secara detail menyebutkan nama anggota DPR lainnya yang ruangannya juga digeledah.

Setelah menggeledah ruangan Damayanti di lantai 6, sembilan penyidik KPK turut menggeledah ruangan anggota Komisi V Fraksi Partai Golkar Budi Supriyanto di lantai 13.
Setelah itu, penyidik turun ke lantai 3 untuk menggeledah ruangan Wakil Ketua Komisi V Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Yudi Widiana.
( baca : Fahri Hamzah cekcok dengan penyidik KPK )

Surat tugas penggeledahan menuliskan, atas nama Damayanti Wisnu Putrianti anggota Komisi V dan kawan-kawan,” demikian bunyi poin pertama hasil keputusan rapat tersebut.

Adapun poin berikutnya adalah dalam surat tugas tak disebutkan ada nama lain selain Damayanti Wisnu Putrianti.

Penyidik KPK menggeledah ruang kerja Yudi Widiana Adia tanpa izin dan tidak ada surat penggeledahan atas nama Yudi Widiana Adia. Begitu juga dengan nama anggota DPR RI dari Golkar. Nama anggota DPR dari Golkar tersebut tidak ada dalam surat tugas,” demikian bunyi poin ketiga.

Sementara poin keempat, menyatakan bahwa tanggal surat yang tertera adalah “14 Jakarta 2016″ bukan “15 Januari 2016” dan terdapat kesalahan penulisan kata yang seharusnya “Januari” ditulis “Jakarta”.

Nama penyidik KPK atas nama Christian yang berdebat melawan Pimpinan DPR tidak ada dalam surat tugas,” sebut poin berikutnya.

Adapun poin keenam dan ketujuh menyebutkan bahwa KPK membawa pasukan tempur (Brimob) lengkap dengan atribut tempurnya.
Dengan membawa pasukan tempur tersebut, KPK dianggap telah melanggar Undang-Undang dan peraturan KPK.

Sementara itu, poin terakhir menyebutkan bahwa Prosedur Tetap (Protap) tersebut tak sesuai dengan Pasal 47 Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar HAM dan Penyelenggaraan Tugas Kepolisian RI.

Ya , itulah sejumlah pelanggaran yang dilakukan penyidik KPK jum’at lalu versi DPR .
Bagaimana pendapatmu ?

Library : kompas

Iklan

gunakan suaramu

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: