Daeng Aziz sang penguasa terbesar Kalijodo ternyata hanya mitos

image

Perdamain kelompok Azman dan Daeng Aziz tahun 2002

M2000 – Tidak lama lagi , kawasan Kalijodo bakal diratakan dengan tanah oleh Ahok gubenur DKI Jakarta .
Namun berbagai penolakan muncul dari warga , terutama mereka yang mendapatkan rejeki dari adanya kawasan judi dan prostitusi ini.

Akhir-akhir ini Nama Daeng Aziz mulai diperbincangkan dan dikenal mengerikan di Kalijodo. Tapi dia sebenarnya bukan preman terbesar di sana, setidaknya itu yang dikatakan Kombes Krishna Murti.

Preman paling besar di sana sudah pergi dari Kalijodo beberapa tahun sejak pertikaian besar antar kelompok disana tahun 2002 silam.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Krishna Murti, tahu betul itu.

Krishna pernah ikut melilit di kasus pertikaian itu. Sebab tahun 2002 silam dia menjabat Kapolsek Penjaringan di usia 32 tahun.
Pertikaian akhirnya selesai dibarengi penutupan rumah-rumah judi di Kalijodo oleh polisi.

Krishna menuliskan itu dalam bukunya berjudul ‘Geger Kalijodo‘ yang terbit tahun 2004.

Buku itu merupakan penelitian ilmiah untuk tesis S2 Krishna di Kajian Ilmu Kepolisian Universitas Indonesia.
Krishna menggambarkan dua kelompok besar disana adalah Kelompok Makassar dan Mandar.

Kelompok Makassar dipimpin Daeng Aziz yang sampai kini masih menguasai Kalijodo dengan kharisma dan sisa-sisa cerita mengerikan.
Sementara kelompok Mandar, di tahun 2002 itu dikepalai oleh Asman.

Dalam bukunya, Krishna menuliskan bahwa kelompok Asman lebih terorganisir dan banyak ketimbang kelompok Daeng Aziz.
Kelompok Asman memiliki struktur seperti sebuah organisasi yang memiliki ‘tentara‘ dengan ‘panglimanya‘ sendiri.

‘Tentara’ atau pasukan Asman ini dikenal sebagai ‘Anak Macan’ yang muncul karena jejak mengerikan mereka.
Antara lain menghajar dan memukul mundur Front Pembela Islam sampai kocar-kacir.
( baca : Ngerinya preman Kalijodo , FPI pun dibuat kocar-kacir )

FPI kala itu pernah beberapa kali mengganggu rumah perjudian milik Asman, makanya dihajar oleh ‘Anak Macan’.

Anggota ‘Anak Macan‘ ini hanya dipelihara oleh Asman, dan dikeluarkan hanya sesekali setiap ada pertikaian.
Di hari damai, ‘Anak Macan‘ hanya bersantai di Kalijodo tapi tetap mendapat uang dengan beberapa norma yang ditetapkan ‘panglimanya’ tapi selalu dilanggar‎.
Norma untuk ‘anak macan’ itu adalah larang ber‎judi dan mabuk-mabukan di sekitar Kalijodo. Aturan ini banyak dilanggar.

Selain itu, ‘Anak Macan’ juga tak langsung dibawah komando Asman. Tapi berada dibawah komando Arkan Malik yang jadi semacam ‘panglima perang’. Dia merupakan anak buah Asman.

Ketika Asman sudah begitu terorganisasi di tahun 2002, kelompok Daeng Aziz belum terorganisir dan masih berantakan.
Daeng Aziz hanya mempekerjakan pemuda pengangguran untuk mengamankan rumah judinya. Tapi tetap jumlahnya ratusan.

Namun usai pertikaian besar yang dipicu tewasnya adik Daeng Aziz karena dibunuh ‘anak macan’, Asman memilih menyingkir dari Kalijodo.

Mungkin sekitar tahun 2005 dia (Asman) pergi dari Kalijodo,” kata Krishna kepada sejumlah wartawan.

Krishna menceritakan, Asman beberapa kali pernah diwawancarai media sampai akhirnya dia malu sendiri.
Bahkan Asman pernah bercerita ke Krishna bahwa dia kapok diwawancarai media dan muncul dimana-mana.

Asman malu dan takut apabila anaknya menonton dan tahu bapaknya preman. Makanya dia kemudian memilih pergi dengan alasan untuk kebaikan keluarganya. Sampai kini tak diketahui dimana Asman berada.

Makanya, menurut Krishna, Daeng Aziz bukan preman terbesar disana saat itu. Tapi Asman lah yang terbesar.

Bahkan, kata Krishna, Asman sebelumnya pernah menaklukkan orang nomor 1 di Kalijodo lewat pertikaian sebelum akhirnya memimpin organisasi besarnya di Kalijodo.

Setelah Asman pergi, kini giliran Daeng Aziz yang bercokol berkat pertikaian yang sebenarnya tak dimenangkan oleh siapapun, sebab berakhir dengan perdamaian yang dimediasi polisi.

Baca juga : Kombes Krishna Murti pun pernah ditodong pistol preman Kalijodo

Library : tribunnews

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s