Iklan
Oleh: masshar2000 | 29 Juni 2016

Gila…Dalam Sebulan , Pembuat Vaksin Palsu Raup Untung 100 Juta

image

M2000 – Menari diatas penderitaan orang lain , mungkin itu kalimat yang cocok untuk para sindikat pembuat dan penyebar vaksin palsu.

Seperti kita ketahui , setelah sindikat ini bisa dibekuk petugas , mereka sudah beraksi dari tahun 2003 , artinya sindikat pemalsu vaksin sudah mengedarkan produknya ke seluruh Indonesia sejak 13 tahun lalu.

Dari keterangan lebih lanjut , Sindikat pemalsu vaksin balita mengantongi puluhan juta rupiah setiap pekannya. Sindikat tersebut telah memproduksi vaksin palsu sejak tahun 2003 dan didistribusikan ke seluruh Indonesia. Vaksin palsu itu dijual dengan harga miring. Harga lebih murah inilah yang diduga menjadi alasan vaksin palsu tersebut cukup laku di pasaran.


Baca dulu : Ternyata , pembuat vaksin palsu pernah bekerja di RS Hermina Bekasi

Menurut Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya, polisi menangkap 13 orang anggota sindikat dengan peran berbeda-beda.
Kepada detikcom, Agun membeberkan peran 13 orang itu. S dan I bertugas mengumpulkan botol bekas vaksin. Sedang SU dan SA perannya membuat dan mencetak label dan logo vaksin palsu. Sementara R, G, dan SN membuat vaksin. Vaksin palsu ini lalu dijual oleh T, S, F, J, A, dan AB yang beperan sebagai distributor.

“Keuntungan sebanyak 100 juta rupiah untuk pembuat dan 80 juta rupiah untuk distributornya,” kata Agung,  seperti dikutip dari Koran Jakarta.

Para tersangka telah ditahan di Rumah Tahanan Bareskrim Polri. Mereka dijerat dengan Undang-Undang tentang Kesehatan, Undang-Undang Perlindungan Konsumen, dan terancam Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) DR.Dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K) menilai pelaku jeli melihat peluang. Sebab, beberapa produk yang dipalsukan itu sempat langka di pasaran. Lima vaksin itu adalah Tuberkulin, Pediacel, Tripacel, Havrix, dan Biocef.
“Havrix itu isinya Hepatitis A, harusnya diberikan di atas dua tahun. Dan memang ada kelangkaan sekarang,” kata Aman seperti dikutip dari Liputan6.com.

Pediacel yang merupakan vaksin impor dan pernah kosong di pasaran tetapi sekarang sudah ada lagi berisi kombinasi PBT, HIB, dan Polio.
“Mereka juga melihat ada kesempatan di nama yang satu ini,” kata Aman.

Demikian dengan vaksin Tripacel yang berisi BPAT, yang sebetulnya sudah dimiliki oleh Bio Farma. Tripacel ini masuk ke dalam program pemerintah bersama vaksin Pediacel.
“Ini juga pernah ada kelangkaan di pasar,” ujar Aman.

Agung menjelaskan, pelaku yang berperan sebagai produsen, kebanyakan merupakan lulusan sekolah apoteker. Namun, mereka tidak menerapkan standar yang telah ditetapkan Kementerian Kesehatan dalam memproduksi vaksin itu. Misalnya, cairan yang digunakan bukanlah cairan yang seharusnya menjadi bahan baku vaksin.

Polisi kini tengah menyelidiki apakah ada oknum dari rumah sakit, puskesmas, atau klinik kesehatan yang turut terlibat dalam sindikat tersebut atau tidak.
Dari penyelidikan Bareskrim Mabes Polri, ada empat rumah sakit dan dua apotek yang diduga menjual vaksin palsu.

Empat rumah sakit itu lokasinya di Jakarta. Menurut Agung, keterlibatan rumah sakit itu bukan kelembagaan. Tapi oknum.
“Iya (sifatnya oknum),” kata Agung Setya saat dihubungi detikcom.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Priharto, empat rumah sakit di Jakarta yang mengedarkan vaksin palsu adalah rumah sakit swasta. “Kemungkinan di RSUD sangat kecil karena langsung dari dinas (kesehatan),” kata Koesmedi saat dihubungi CNN Indonesia.

Setelah 13 tahun menari diatas penderitaan orang lain , sudah selayaknya kini mereka kejang-kejang di sel tahanan .
Hukuman mati bagi mereka pun kini sudah didengung-dengungkan.

Baca juga : Ini dia sosok Rita Agustina pembuat vaksin palsu di Bekasi

Bagaimana pendapat anda ?

Iklan

gunakan suaramu

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: