Iklan
Oleh: masshar2000 | 18 Juli 2016

Per’Ploncoan’ – Potret Buram Exploitasi Manusia Di Dunia Pendidikan

image

M2000 – Kita pasti pernah mendengar pernyataan Bapak menteri Anies Baswedan saat awal-awal ditunjuknya beliau sebagai Menteri Pendidikan hingga sekarang ini.

Tidak ada lagi per’plonco’an !” demikian keputusan tegas pak Menteri kala itu.

Apa sih ‘plonco’ atau per’plonco’an ?

Mungkin generasi 90-an dan selanjutnya lebih mengenalnya dengan istilah OPSPEK, MOS , ORMABA atau istilah – istilah mandiri lainnya.
Namun di jaman – jaman sebelumnya, siapapun, kapanpun dan dimanapun, bagi siswa – siswa baru yang memasuki sekolah barunya, maka ‘plonco’lah yang menyambut mereka pertama kali di hari pertama.

Tradisi dan ritual tahunan yang sudah mengakar kuat dan diwariskan dari generasi ke generasi, hingga suka dan duka per’plonco’an, trauma sekaligus nostalgianya menjadi kenangan yang tidak mudah untuk dilupakan.

Saat kakak – kakak kelas atau para senior dibebaskan untuk memperlakukan para murid baru, adik – adik kelas juniornya, semaunya sendiri.
Permalukan saja mereka, perbudak dan jadikan mereka patuh menghamba, gembleng habis fisik mereka sembari jatuhkan mentalnya, buat mereka menangis dan berteriak ampun jika perlu’ adalah tujuan dari per’plonco’an.

Semakin kepayahan dan tak berdaya ‘para korbannya’, semakin sukses tujuan per’plonco’an. Sehingga setiap tahun per’plonco’an kembali dilakukan dan para seniorpun leluasa kembali berulah. Karena setiap siswa yang kemudian juga menjadi seorang senior, ingin juga merasakan nikmatnya kesuksesan memperikan ‘pelajaran’ kepada siswa – siswa baru para juniornya.
Sebuah ritual dan tradisi yang diturunkan dengan dibarengi modifikasi ‘kreatif’ yang bertujuan sama, yakni belajar mengeksploitasi manusia atau ini adalah ajang balas dendam yang tidak tersampaikan dan akhirnya adik-adik yang masih polos dijadikan korban.

Tahun ajaran baru sudah dimulai. Jauh jauh hari pun Menteri Pendidikan telah mewanti wanti bahwa plonco atau kegiatan sejenis dengan nama samaran lainnya, tidak diperkenankan untuk dilaksanakan di sekolah sekolah dan kampus kampus.
Alih alih memberikan kesempatan kepada para senior untuk belajar mengeksploitasi manusia, dianjurkan kepada sekolah dan guru untuk menggantikannya dengan memberikan kegiatan bagi para siswa baru untuk berkesempatan mengeksplorasi dan mengenal sekolah barunya berikut mengenal sistem dan cara belajar di sekolah serta aktivitas lain yang lebih bermanfaat. Dan itu harus menjadi tanggung jawab sekolah dan guru, bukan lagi hak prerogatif para senior, kakak kakak kelasnya.

Sekolah adalah rumah kedua bagi anak anak . Madrasah tempat menyadap ilmu dan menambang benih benih kebaikan untuk nantinya dilebur menjadi satu dengan nilai nilai kekeluargaan, budi pekerti serta kesopanan yang didapatkan di rumah dan di lingkungan masyarakat. Sehingga setiap anak akan menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang memiliki penalaran tinggi namun juga bernurani. Yang berilmu dan berwawasan tapi tetap berbudi pekerti, beretika dan berkesopanan. Karena ilmu tanpa budi pekerti akan lumpuh, dan nurani tanpa penalaran akan membuta.

Sekolah sebagai salah satu wahana terpenting dalam rangkaian proses pendidikan manusia dalam hidupnya yang wajib menjamin tujuan pendidikan ini tercapai. Keluarga dan lingkungan masyarakat adalah wahana wahana selanjutnya.

image

Plonco dalam pelaksanaannya, berkebalikan dengan pemahaman di atas. Plonco dalam kenyataannya mengajarkan semua aspek negatif dari hubungan antar manusia, yang ironisnya harus terjadi di awal awal para siswa menjejakkan kaki di sekolah barunya.
Apakah mereka sengaja dibuat minder , shock dan takut dengan senior ?
Sudah berapa banyak korban berjatuhan , apakah masih kurang ?

Inilah akar dari semua pemimpin yang nantinya akan gila dengan kekuasaan .
Pemimpin yang akan diharamkan oleh bawahannya .

Nah , anda yang dulu pernah jadi senior dan melakukan praktik ini , sudah saatnya anda meminta maaf kepada para korban ekploitasi yang pernah anda lakukan .Karena memang sangat mudah untuk membuat seseorang menderita yang menurut kita itu perlakuan yang biasa saja.
Karena apa …?
Karena setiap kesalahan yang kita buat kepada sesama hanya bisa diselesaikan dengan sesama manusia saja , apalagi jika kita masih sering bertemu dengan orang tersebut.

…Marilah memanusiakan manusia dan jadilah selayaknya manusia seutuhnya…

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: