Iklan
Oleh: masshar2000 | 4 Desember 2016

Buya Syafii Ma’arif : Jika Ahok Terbukti Menistakan Agama , Saya Minta Ahok Diganjar 400 Tahun Penjara Supaya Yang Menuduh Terpuaskan Tanpa Batas

image

M2000 – Siapa tak kenal dengan ulama yang satu ini , seorang tokoh agama Islam yang mungkin saat ini paling disegani di negri karena keilmuannya .
Seorang yang tetap rendah hati dan lebih suka dipanggil Buya ( Bapak/ayah ) meskipun beliau adalah mbahnya para kyai dan ustadz di negara kita ini.
Alhamdulillah Buya masih diberikan kesehatan walaupun usianya sudah kepala delapan .Semoga Allah memberikan umur yang panjang agar tetap bisa menyampaikan dakwahnya.

Ya , beliau adalah Buya Syafii Maarif  , salah satu ulama atau Kyai yang paling dituakan dan dihormati di negara ini yang berbeda pandangan dengan para ustadz masa kini yang berbeda pendapat soal kasus Ahok yang dituduh menistakan agama.
Ulama yang sudah tidak diragukan kemampuannya itu menilai bahwa pada video Ahok di kepulauan Seribu tersebut tidak ada unsur penistaan agama.

Dalam pernyataan terbarunya , Buya bahkan memberikan kritikan pedas kepada para penuduh Ahok yang entah karena apa sangat menginginkan Ahok segera dipenjarakan.

Dan berikut kutipan atau potongan singkat pernyataan Buya yang dikutip dari Tempo tertangal 2 desember 2016,

” Jika dalam proses pengadilan nanti terbukti terdapat unsur pidana dalam tindakan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada 27 September 2016 itu, saya usulkan agar dia dihukum selama 400 tahun atas tuduhan menghina Al-Quran, kitab suci umat Islam, sehingga pihak-pihak yang menuduh terpuaskan tanpa batas .

Biarlah generasi yang akan datang yang menilai berapa bobot kebenaran tuduhan itu. Sebuah generasi yang diharapkan lebih stabil dan lebih arif dalam membaca politik Indonesia yang sarat dengan dendam kesumat ini.

Saya tidak tahu apakah di KUHP kita terdapat pasal tentang rentang hukuman sekian ratus tahun itu. Jika tidak ada, ciptakan pasal itu dan Ahok saya harapkan menyiapkan mental untuk menghadapi sistem pengadilan Indonesia yang patuh pada tekanan massif pihak tertentu.

Semestinya pembenci Ahok tidak hanya mahir bermain secara hiruk-pikuk di hilir lantaran buta peta, karena masalah utamanya berada di hulu-setidak-tidaknya bisa ditelusuri sejak rezim Orde Baru.

Selama masalah besar dan utama ini dibiarkan berlanjut, jangan bermimpi kesenjangan sosial yang masih menganga dapat dipertautkan. Dan, prahara sosial bisa muncul setiap saat untuk meluluhlantakkan apa yang telah dibangun selama ini.

Sikap benci dan marah tanpa bersedia mengoreksi diri secara jujur dan berani, sorak-sorai demo, akan berujung pada kesia-siaan. Apalagi, kabarnya, kekerasan juga telah menjadi ladang usaha bagi sebagian orang yang punya mentalitas duafa, sekalipun menikmati mobil super mewah.

Tapi, Tuan dan Puan, jangan salah tafsir. Yang bermental patriotik dan nasionalis dari kelompok etnis ini juga tidak kurang jumlahnya. Saya punya teman dekat dari kalangan ini, sekalipun mereka belum tentu masuk dalam barisan naga itu.

Dan, naga itu pun tidak semuanya masuk dalam lingkaran konglomerat hitam. Cinta teman dekat saya ini kepada tanah leluhur sudah lama mereka tinggalkan dan tanggalkan. Tanah air mereka tunggal: Indonesia! Mereka lahir dan berkubur di sini, sikap mereka tidak pernah mendua.

Adalah sebuah angan-angan kosong sekiranya Ahok dijatuhi hukuman selama 400 tahun, sementara mentalitas terjajah atau jongos tetap diidap sebagian kita. Ujungnya hanya satu: kalah. Dan, kekalahan mendorong orang menuju sikap kalap yang bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Maka, amatlah nista bila nama Tuhan disebut-sebut untuk membenarkan mentalitas kalah dan kalap ini.

Tanpa perbaikan mendasar dalam struktur kejiwaan kita, maka ungkapan Bung Karno tentang bangsa kuli di antara bangsa-bangsa bukan mustahil menjadi kenyataan.

Ke depan, diperlukan otak dingin dan kecerdasan spiritual tingkat tinggi untuk membenahi Indonesia.

Masalah bangsa ini sangat kompleks, tapi pasti ada solusinya, dengan syarat kita semua masih punya akal sehat dan hati nurani”.

Ahmad Syafii Maarif

Pendiri Maarif Institute

Silahkan baca selengkapnya di Koran Tempo edisi 2 Desember 2016.
Atau Klik disini

Dan tanpa mengkerdilkan peran para ustadz atau habib  masa kini , seharusnya kita semua berbangga masih punya seorang Buya Syafii Ma’arif .

Jika anda penasaran dengan sosok Buya Syafii , silahkan anda cari tahu di buku-buku atau googling , betapa berjasanya beliau buat negri tercinta ini.

Iklan

Responses

  1. Saya hormati pendapat beliau, tp sy lebih percaya pd fatwa MUI krn fatwa mereka bukan berdasarkan pendapat pribadi melainkan dr kesepakatan ulama” yg ada didalamnya. Alhamdulillah Allah msh memberi kesempatan bs berkumpul dg saudara2 muslim setanah air d lapangan monas pada aksi damai 212.

    Ada hikmah yg bisa di ambil dr kasus ini yaitu menjadikan umat islam indonesia bersatu, kecuali yg memang g mau bersatu.

    Disukai oleh 1 orang


gunakan suaramu

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: