MUI Harusnya Keluarkan Label Haram , Bukan Sertifikat Halal

image

M2000 – Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk muslim dan bahkan terbesar dunia .
Jadi sudah dapat dipastikan konsumsi terbesar makananan di Indonesia adalah makanan halal .
Dalam kesehariannya hampir semua makanan yang dikonsumsi dan yang beredar adalah produk-produk halal , walaupun tidak ada label halal apalagi sertifikat yang dikeluarkan MUI.

Pada dasarnya , semua makanan didunia ini adalah makanan halal , kecuali ada dalil yang mengharamkannya .
Itulah salah satu prinsip dasar fiqh yaitu hukum asal segala sesuatu itu mubah.

Jadi, orang Islam di Indonesia sebenarnya tidak membutuhkan sertifikat halal. Segala sesuatu boleh dimakan, kok. Semua halal. Kecuali yang diharamkan.
Apa yang diharamkan?

Darah, bangkai, daging babi, khamar, dan berbagai barang lain. Yang diharamkan itulah yang harus ditandai, agar tidak dimakan. Ditandai berdasarkan dalil-dalil, Quran dan hadist.
Dalam hal ini ulama pastilah yang tahu, mana saja yang diharamkan itu.

Maka, kalau ulama memang peduli terhadap kebutuhan umat, mereka akan mencari tahu apa saja yang haram itu, dan menandainya , kemudian menyampaikannya kepada khalayak… Ini haram, itu haram. Di luar yang ditandai itu, sesuai prinsip fiqh tadi, adalah halal belaka.

Coba perhatikan kondisi kita saat ini. MUI mengeluarkan sertifikat halal. Artinya, barang yang sudah bersertifikat itu halal.
Tapi apakah yang tidak bersertifikat lantas haram? Tidak.
Jadi, apa bedanya antara yang sudah disertifikasi MUI dengan yang tidak?… Tidak ada.
Jadi, apa fungsinya sertifikat itu? …Tidak jelas. Karena tadi, tidak lantas berarti yang tidak disertifikasi oleh MUI adalah haram. Ini terjadi karena sejak awal MUI sudah melanggar prinsip yang paling dasar dalam fiqh.
Hal , itu juga pernah dilontarkan oleh Prof. Yusqil Ihza Mahendra dalam wawancara dengan salah satu TV swasta nasional yang mengatakan , harusnya MUI mengeluarkan label haram daripada sertifikat halal.

Tapi lebih lucu lagi, sekarang umat harus minta sertifikasi. Seharusnya, ada atau tidak permintaan umat, MUI yang proaktif memberi petunjuk. Masak iya, ulama membiarkan umat makan makanan haram dengan alasan,”Nape elu kagak tanyak gue?” 
Normalnya, tanpa diminta pun MUI melakukan penyelidikan. Kemudian menjelaskan, ini haram.

Ini yang sedang terjadi. Obat-obatan yang kita konsumsi, banyak bahkan sangat banyak yang memakai produk turunan dari babi. MUI tahu itu. MUI tahu itu haram. Tapi mereka tidak mengeluarkan fatwa haram, bukan? Kenapa? Karena MUI berharap perusahaan pembuat obat meminta MUI membuat sertifikat halal untuk mereka. Kalau tidak, MUI diam saja.
Memang sih , kalau memang itu obat untuk penyembuhan ada beberapa dalil yang memperbolehkan itu , nah harusnya para Ulama MUI yang menerangkan itu , mana saja yang boleh dikonsumsi karena halal dan tidak .

Bisa dikatakan ini aneh sekali .Mereka biarkan umat mengkonsumsi barang haram, hanya karena umat tidak minta informasi dari mereka dengan kata lain tidak meminta sertifikat halal dari mereka.

Mengapa ini terjadi?… Ini soal duit.
Gampangnya , kalau MUI hendak mengeluarkan sertifikat haram, mana ada perusahaan mau bayar mereka. MUI harus bayar sendiri. MUI tidak punya duit.
Ah, bukan itu soalnya , mereka dibiayai negara kog.
Praktisnya MUI tidak akan dapat duit, kalau mereka harus mengeluarkan sertifikat haram. MUI hanya dapat duit, kalau mereka mengeluarkan sertifikat halal..logis kan , mana ada perusahaan mau bayar untuk mendapatkan sertifikat haram.

Jadi dengan adanya sertifikat halal dari MUI ,
kasarnya , perusahaan bisa ditodong, bukan?
Kalau tidak punya sertifikat halal dari MUI seolah-olah produknya haram. Kalau haram, pembeli mungkin akan lari , produk pun tidak akan laku karena mayoritas pembeli adalah muslim . Akhirnya , Lebih baik bayar aja deh, daripada repot .

Kita lihat kedepannya nanti , apakah MUI akan bekerja atas prinsip uang atau prinsip fiqh.

Library : kang hasan , kang arif , kang masshar2000

Iklan

One thought on “MUI Harusnya Keluarkan Label Haram , Bukan Sertifikat Halal

  1. kalau memang mau melindungi konsumen yang mayoritas islam sudah semestinya Departemen Agama/lembaga MUI bekerjasama dengan Departemen Perdagangan memberikan informasi ke masyarkat makanan/miuman yang haram dikonsumsi. Kalau dipajang di rak di mall/suprmarket/warung harus dibedakan/diberikan informasi “HARAM”, jika tidak mau maka tidak perlu diberikan izin usaha.

    Suka

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s