Iklan
Oleh: masshar2000 | 5 Februari 2017

Kisah Sayyidina Ali Kalah Dalam Pengadilan Islam

Assallamu’allaikum mass-miss sadayana

image

Masshar2000.Com – Islam mengatur setiap perilaku penganutnya supaya selalu lurus dan tetap istiqomah dalam menjalani kehidupan , termasuk bagaimana menghargai pemimpin atau pemerintah , mengasihi sesama dan juga memuliakan semua makluk ciptaannya .

Dalam sebuah negara islam , tentu yang dipakai adalah hukum islam , dan harus juga ditaati oleh umat lain yang juga menetap disana .

Dalam pengadilan, yang ada adalah hakim, jaksa, saksi dan tersangka. Semua status lepas, semua setara di hadapan meja hijau. Tidak ada Presiden, Bos, Habib , Kiyai, Muslim, Kafir, Pintar, Goblok dll.

Kisah ini adalah bagaimana seharusnya umat muslim menghargai putusan pengadilan .

Ada sebuah kisah dari Sayyidina Ali yang saat itu seorang Amirul Mu’minin yang ternyata pernah kalah dalam pengadilan syariat melawan seorang Yahudi dalam persoalan dicurinya baju zirah beliau.
Sayyidina Ali kalah karena dianggap kurang reliable-nya saksi yang dihadirkannya (karena saksi adalah Al Hasan yang merupakan putranya sendiri).

Sungguh “tragis”, cucu tercinta Nabi, putra Ali dan Fathimah az-Zahra, sang cahaya ahlulbait yang diakui dunia Islam sebagai penghulu pemuda surga ditolak kesaksiannya oleh pengadilan islam karena dianggap punya hubungan pribadi dengan pelapor.
Tidak masuk akal?
Ya, Demi Allah itu tidak masuk akal.
Jika Al Hasan kesaksiannya tak bisa diterima, maka siapa lagi manusia di muka bumi yang bisa diterima kesaksiannya?

Tapi demi Allah, peristiwa ini benar-benar dicatat dalam sejarah Islam. Padahal pengadilan islam secara logis mustahil menolak kesaksian cucunda Nabi Hasan Al Mujtaba.
Ini adalah “kekurang-ajaran” yang luar biasa, bukan hanya pada ulama, tapi pada tokoh Ahlulbait, Habib diatas Habib, hujjah Allah pada sekalian makhluq-Nya.
Tapi ternyata hukum Islam yang ditegakkan saat itu menjunjung asas rasa keadilan bagi si Yahudi yang berperkara dengan Sayyidina Ali.

Keadilan harus ditegakkan, prinsip saksi yang reliable & netral harus dijunjung. Hasilnya si Yahudi menang, baju zirah dinyatakan adalah miliknya dan ia tak terbukti mencurinya dari Sayyidina Ali.
Saat itu , tidak ada umat Islam yang mengumpat, menuntut, tak ada yang berteriak-teriak di jalan dengan slogan bela ini, bela anu, sekalipun Khalifah Islam dikalahkan dan putranya ditolak di pengadilan.

Melihat hasil pengadilan itu,  si Yahudi tercengang. Bagaimana mungkin ia bisa menang di kandang lawan dan yang ia lawan adalah pemimpin mereka.

Singkat cerita , akhirnya ia mengakui telah mencuri baju zirah itu dan kemudian diapun mendapat hidayah menyatakan masuk Islam melihat betapa adil dan gentle-nya pengadilan islam yang benar-benar islam, yaitu menjunjung keadilan bagi siapapun & apapun agama dan statusnya.
Bukan pengadilan islam rasa ashobiyyah.

Cerita ini memang tidak cukup populer , namun alm . KH Zainudin MZ pernah menyampaikan dalam dakwahnya.

Benar-benar Islam adalah agama rahmatan lil’allamin , rahmat bagi semua makluk , bukan hanya bagi penganutnya saja .
Allah maha tahu , bagaimana memuliakan Islam dengan caranya .

image

Semoga bermanfaat ,
Wassallamu’allaikum, …

Iklan

Responses

  1. Ijin Share

    Suka

  2. […] Kisah Sayyidina Ali Kalah Dalam Pengadilan Islam […]

    Suka


gunakan suaramu

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: