Mengenang Gus Dur Sang Waliyullah

Assallamu’allaikum mass-miss sadayana

image

M2000 – Anda pasti sudah banyak membaca kisah atau cerita tentang Gusdur semasa hidupnya .
Gusdur sang pemimpin NU ini memang punya segudang cerita yang tentu saja diceritakan sahabat-sahabatnya yang pernah bertemu dengannya.

Ada yang mengatakan , selain sebagai ulama ( bahkan presiden ) , Gusdur juga seorang wali dan juga cucu dari nabi Muhammad .
Syaikhona Abah Guru Sekumpul berkata… sesungguh nya orang yang tahu kewalian seseorang itu adalah para wali juga .Dan perlu  kalian ketahui kata Abah Guru , sesungguhnya Gus Dur itu adalah seorang waliyullah.

Kesederhanaan (kezuhudan) Gus Dur

Selama bertahun-tahun kedekatan Gus Mus dengan beliau, Gus Mus mengakui bahwa Gus Dur tidak pernah punya dompet untuk menyimpan uang, bahkan kartu-kartu semacam ATM pun, beliau tidak punya. Beliau hidup sangat apa adanya, tidak pernah menggantungkan sesuatu pada hal-hal yang bersifat keduniawian.
Bahkan pada suatu hari, saat beliau berada di suatu tempat kepengin makan bakso, karena tidak membawa uang beliau sampai pinjam ke anaknya, yaitu Ning Alysa Wahid.
Namun, dengan kesederhanaan itulah beliau dapat menikmati hidupnya dan memimpin umatnya dengan sangat baik tanpa adanya sekat dengan umat serta tidak terpengaruh oleh hal-hal yang berbau duniawi.

Saya teringat kisah Gus Dur dengan Gus Mus, ketika Gus Mus silaturahim ke kediaman beliau. Gus Mus secara tidak sengaja melihat beliau membawa uang yang dimasukkan dalam kantong plastik hitam (kresek). Dengan nada bercanda Gus Mus meledek beliau, yang didalam kantong plastik apaan Gus?
Dengan sedikit senyum, beliau menjawab, ah mau tahu aja kamu. Itulah di antara jiwa kesederhanaan (kezuhudan) beliau.

Berkata kyai yg pernah mendampingi Gus Dur ,
Ketika membicarakan masalah agama kami terlibat dalam pembicaraan sangat serius. Saat itu kami berkesempatan untuk membuktikan secara langsung kata-kata orang yang banyak saya dengar, yang menyatakan bahwa Gusdur menguasai banyak kitab-kitab klasik (kitab kuning).

Maka kami membuka dialog dengan mencuplik kitab-kitab klasik yang pernah kami baca mulai dari karangan Imam As Syafi’i, Imam Haramaini, Imam Al Ghazali, Imam Ibnu Katsir, dan lain-lain.
Apa yang terjadi…?
Gusdur ternyata bukan hanya mahir mengimbangi pembicaraan mengenai berbagai permasalahan yang kami kemukakan, namun dengan mahir beliau malah membacakan matan-matan semua persoalan tersebut dalam bahasa Arab yang asli, tepat seperti isi kitab yang asli.

Tidak dapat kami pungkiri bahwa saat itu hati kami bergetar, kagum, heran, krn Gus Dur hapal ratusan kitab kuning beserta matan nya . Yakinlah kami bahwa Allah benar-benar Maha Kuasa dan telah menciptakan hamba-hambaNya dengan berbagai kelebihan. Subhanallah…

Gus Dur hafal Al-Qur’an

Suatu ketika KH. Zainal Arifin pengasuh PP. Al Arifiyyah Medono Kota Pekalongan, diminta tolong oleh panitia untuk menjemput Al Maghfurlah KH. Abdurahman Wahid atau Gus Dur untuk mengisi sebuah acara akbar di Kota Pekalongan, waktu itu panitia minta didampingi KH. Zainal untuk menjemput Gus Dur yang sedang mengisi acara pengajian di Semarang Jateng, seusai acara dan ramah tamah dengan tamu-tamu, Gus Dur memutuskan untuk ikut rombongannya KH. Zainal dan Panitia ke Pekalongan

Waktu itu meluncur dari Semarang antara jam 1- 2 dini hari, KH. Zainal dan Panitia setelah berbincang secukupnya dengan Gus Dur tahu diri dan mempersilahkan Gus Dur untuk Istirahat di mobil yang melaju dengan tenang sebab jalur pantura jam segitu juga sudah lengang dan sepi, apalagi dengan keterbatasan kesehatan Gus Dur dan seabrek kegiatannya dari pagi hingga dini hari tersebut tentu menguras banyak energi dan tenaga. Alih-alih istirahat, Gus Dur malah menggunakan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dengan hafalan (Bil Ghoib).

Sementara KH. Zainal dan panitia yang jelas secara fisik lebih sehat 100% dibanding Gus Dur saja sudah kecapaian, bahkan hampir terlelap. Namun, mereka terkejut ketika mendengar perlahan-lahan, ternyata Gus Dur sedang ‘mendarus’ Al-Qur’an secara hafalan. Kontan, rasa kantuk KH. Zainal dan panitia hilang, sambil penasaran KH. Zainal pun menyimak hafalannya Gus Dur.

Tak terasa, satu jam lewat sampailah di Pekalongan, air mata KH. Zainal tumpah ruah, ia membayangkan orang yang selama ini sering disalahpahami berbagai pihak, di kafir-kafirkan, dikritik, dihina, dan sebagainya. Malam itu dengan fisik dan kesehatan yang sangat terbatas dan kelelahan yang luar biasa setelah hampir sehari semalam beraktifitas penuh dengan berbagai kegiatan, malam ini dalam waktu satu jam perjalanan Semarang-Pekalongan ternyata masih ‘menyempatkan’ membaca Al-Qur’an dengan hafalan sampai lima juz lebih…Allahu Akbar

Ketika Gus Dur meninggal

Ketika Gus Dur meninggal dunia pada Rabu (30/12/2009) pukul 18.45 WIB. Ketika itu, Guru Turmudzi bersama dengan rombongan malam itu pun langsung mencari tiket untuk penerbangan pagi ke Surabaya untuk mengikuti prosesi pemakaman Gus Dur di Jombang. Tibanya pesawat jenazah Gus Dur dari Jakarta dan penerbangan Guru Turmudzi dari NTB hampir bersamaan.

Dengan pengawalan, jenazah Gus Dur bisa melaju cepat dari Surabaya ke Jombang, sementara beliau dan rombongannya mengikuti dari belakang mobil jenazah Gus Dur tersebut.
Sayangnya, begitu memasuki Jombang mobil rombongan yang ditumpangi Guru Turmudzi ketinggalan jauh dari mobil jenazah Gus Dur karena tumpah ruahnya para peziarah yang memasuki Jombang. Kemacetan pun sangat parah, mobil-mobil semuanya menuju pesantren Tebuireng, untuk mengikuti prosesi pemakaman. Karena sudah tidak bisa berbuat apa-apa, beliau pun mengajak teman-temannya untuk berdoa.

“Mari kita baca surah al-Fatihah, jika Gus Dur benar-benar wali, maka kita akan diberi kemudahan ….” ujar Guru Turmudzi ketika itu.

Tiba-tiba saja, terdapat motor pengawalan Kepolisian, yang memintanya untuk cepat-cepat bergerak sehingga beliau dengan lancar dapat memasuki kompleks pesantren Tebuireng dengan mudah.
Anehnya, tak jauh sebelum memasuki pesantren Tebuireng, tiba-tiba motor pengawal Kepolisian itu tak terlihat lagi dari kerumunan.

“Dari peristiwa di atas saya jadi lebih yakin lagi kalau Gus Dur itu seorang Wali.
Subhanallah..”

image

Semoga bermanfaat,
Wassallamu’allaikum , …

Library : tulisan KH. Azizichasbulloh PBNU

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s