Iklan
Oleh: masshar2000 | 18 Maret 2017

Erdogan : Eropa Melarang Orang Berjilbab Sama Saja Ngajak Perang

image

M2000 – Siapa tak kenal presiden Turki yang karismatik ini.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang dikenal sebagai seorang yang taat agama ini memberikan peringatan keras atas keputusan Mahkamah Keadilan Eropa (European Court of Justice/ECJ) tentang larangan berjilbab di tempat kerja. Bagi Erdogan, larangan itu bisa jadi pemicu terjadinya perang agama.

Perang agama yang dimaksud Erdogan adalah perang salib, seperti yang terjadi abad pertengahan antara pasukan Kristen Eropa dan penguasa Islam di Timur Tengah. Nah, Erdogan mencoba menganalogikan melarang berjilbab sama saja mengajak perang.

Saudara-saudaraku terkasih, pertempuran telah dimulai antara salib dan bulan sabit. Tidak ada penjelasan lain,” kecam Erdogan di hadapan para pendukungnya di Sakarya, Turki, seperti dilansir Deutsche Welle.

Dia menegaskan Uni Eropa saat ini sangat memalukan dan telah melanggar prinsip-prinsip, nilai dan keadilan yang sejatinya dijunjung tinggi Eropa. Baginya, melarang berjilbab sama saja melakukan pembatasan simbol-simbol keagamaan.

Sebelumnya, Selasa (14/3), Mahkamah Keadilan Eropa (ECJ) mengeluarkan putusan untuk sebuah kasus yang dimulai pada 2003, ketika Samira Achbita, seorang muslim, menjadi resepsionis di layanan keamanan G4S di Belgia. Saat itu, perusahaan memiliki “aturan tidak tertulis” bahwa pengawai dilarang mengenakan simbol politik, agama atau filosofi apa pun di tempat kerja, kata ECJ. Pada 2006, Achbita mengatakan kepada G4S bahwa dia ingin mengenakan kerudung di tempat kerja, namun diberi tahu itu dilarang.

Kemudian, perusahaan memperkenalkan sebuah larangan resmi. Achbita dipecat dan dia melapor ke pengadilan untuk mengadukan diskriminasi. Hasilnya, ECJ mengatakan hukum UE memang melarang diskriminasi atas dasar agama, namun tindakan G4S memperlakuan semua pegawai dengan cara yang sama, artinya tidak ada orang yang dibeda-bedakan dalam aturan tersebut.

Keputusan Uni Eropa inilah yang membuat Erdogan geram. Di Turki, sentimen anti Eropa memang sangat kental, terlebih soal pelarangan berhijab.

Sebelumnya, juru bicara Erdogan, Ibrahim Kalin juga menyatakan keputusan pengadilan Eropa tentang penggunaan jilbab justru akan memperkuat tren anti-Muslim dan xenofobia yang berkembang di Eropa dan dunia Barat. “Quo vadis Europa? (Ke mana Eropa akan dibawa?)” kata Ibrahim dalam akun Twitter resminya.

Erdogan bukan kali ini saja terlihat galak kepada Eropa. Dia semakin galak setelah Jerman dan Belanda menolak mengeluarkan izin bagi politisi Turki untuk berkampanye di negara-negara tersebut. Kampanye itu dimaksudkan untuk menggalang dukungan menjelang Referendum Turki, yang apabila berhasil, bisa berpotensi memperluas kekuasaan Erdogan.

Senada dengan atasannya , Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan, sebentar lagi sebuah ‘perang suci’ akan berlangsung di Eropa. Pernyataan itu disampaikan menyusul hasil pemilu di Belanda dan ketegangan Den Haag dengan Turki baru-baru ini.

image

Cavusoglu menegaskan, tidak menyambut kemenangan Partai Rakyat untuk Kebebasan dan Demokrasi (VVD) pimpinan Perdana Menteri Belanda Mark Rutte, Rabu (15/3). Cavusoglu menanggapi dengan sinis bahwa hasil pemilihan umum (pemilu) itu tidak akan mengubah konflik antara dua negara.

Saat ini pemilu sudah berakhir di Belanda, jika Anda melihat banyak partai di sana tidak akan jauh berbeda karena semuanya beraliran fasis,” ujar Cavusoglu, dilansir the Independent, Kamis (16/3).

“Semua memiliki mental yang sama. Ke mana Anda akan pergi? Ke mana Anda akan membawa Eropa? Kalian telah memulai menghancurkan Eropa. Kalian mencemplungkan Eropa ke nekara. Perang suci akan dimulai di Eropa.”

membandingkan Rutte dengan politisi sayap kanan Belanda Geert Wilders. Selama ini, ia merupakan sosok anti-Islam yang dinilai memanfaatkan pertikaian negaranya dengan Turki.

Dalam sebuah pernyataan, politisi sayap kanan Belanda , Wilders pernah mengatakan bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan adalah sosok seorang diktator. Politikus dari Partai untuk Kebebasan (PVV) itu juga mengkritik cara pemerintah negara itu untuk mendapat dukungan referendum.

Library : opinibangsa

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: