Iklan
Oleh: masshar2000 | 15 April 2017

Disuruh Kampanyekan Anies Saat Ceramah , Jawaban Ustadz Ini Bikin Panitia Tak Berkutik

image

Masshar2000.Com – Apa jadinya jika agama dijadikan sebagai bumbu-bumbu politik ?
Ah , tidak ada , itu fitnah , itu hanya kampanye hitam dan lain-lain .Begitulah rata-rata para kandidat calon kepala daerah membuat keterangan pers.

Memang benar apa yang di ungkapkan mereka , karena tidak mungkin seorang calon kepala daerah akan mengatakan itu didepan umum , apalagi diliput wartawan .
Tapi bagaimana jika yang melakukan tim suksesnya ?

Masjid atau tempat ibadah yang seharusnya  untuk sarana berdakwah memang tidak seharusnya digunakan sebagai ajang politik atau kampanye , karena jelas akan menodai fungsi masjid itu sendiri , apalagi jika dalam ceramahnya jelas-jelas mengarahkan para jamaah untuk mendukung salah satu calon dan menjelekkan calon lainnya .

Dibawah ini adalah bukti nyata yang diungkapkan ustadz kondang asal Bekasi yang sedianya beliau di undang berceramah namun menolak undangan tersebut lantaran disuruh panitia penyelenggara untuk mengkampayekan salah satu calon dalam isi ceramahnya .

Dalam pernyataannya melalui akun sosmednya si ustad yang bernama Nurul Huda atau Ustadz EnHa mengatakan bahwa terpaksa dia menolak undangan tersebut lantaran isi ceramahnya tidak sesuai tema .
Temanya menyambut Ramadhan, tetapi panitia minta agar si Ustadz berceramah mengajak masyarakat memilih gubernur muslim. Pengajian ini akan dilaksanakan di Mushala Yasir, Jl. Kebembem No.12, RT.7/RW.13, Pisangan Timur, Pulo Gadung. Melalui pengajian ini, panitia ingin agar jamaah yang masih mendukung Ahok-Djarot agar memilih Anies-Sandi.

Berikut tulisan Ustadz Enha di akun facebook miliknya ,

image

Tertulis di undangan tema kegiatan menyambut ramadhan, tetapi panitia menyatakan, “ini event sekaligus menyambut pelaksanaan pilkada ust. Jadi kami berharap ceramah nanti mengarahkan jamaah agar memilih pemimpin muslim.”
Aku menjawab ringan, “Oh kalau gitu langsung undang mas anies aja, kampanye tak usah malu2, biar langsung sampai pesannya.” Panitia tidak terima, “justru ust yg harus sampaikan, bukankah ust penyambung pesan Allah?.”
Aku menjawab lagi, “Apakah semua jamaah pendukung Anies?” Panitia menjawab, “tidak semua, justru melalui event ini kita serangan terakhir agar kaum muslimin sadar bahwa memilih pemimpin non muslim itu haram.”
Aku menyampaikan saran dan bertanya balik, “Oh kalau begitu silahkan cari penceramah yg lain, saya akan tetap menyampaikan sesuai tema, bukankah mempersiapkan jiwa menjelang ramadhan itu sangat penting?.” Panitia menjawab, “ya memang penting ust tapi kalau sampai Jakarta dipimpin non Muslim, habislah kita. Jelas2 Cina Kristen punya agenda terang2an menghancurkan umat.”

Aku bertanya lagi, “satu periode ini Jakarta dipimpin oleh Pak Ahok, apakah masjid kita habis? Apakah uang kita di BAZIS habis? Apakah sholat jamaah kita semakin habis? Apakah ada larangan2 dari Pemda yg menghabisi umat? Kebijakan Pemda yg mana yang menghancurkan umat?”
“Cukup… cukup ust… nanti kita bicarakan lagi dengan panitia yg lain.”
Panitia menyela semua pertanyaanku yg belum selesai.
“Okay, saya tunggu konfirmasi terakhirnya.” Jawabku menutup silaturahim yang menegang tiga hari silam.

image

Jawaban panitia di status facebook Ustadz Enha. (Sumber: Facebook.com)

Dan tadi malam, sebuah sms terkirim ke stafku yg menangani jadual kegiatanku, ceramahku dibatalkan karena tidak ada kesepakatan. Padahal aku sangat sepakat dengan tema kegiatan menyambut bulan ramadhan, aku hanya tidak sepakat terhadap politisasi masjid atau musholla, atau politisasi panggung tabligh akbar dengan menyerukan topik kemuliaan ramadhan tetapi menyuguhkan ujaran kebencian kepada saudara sebangsa.

Begitulah saudara-saudara, fakta yang terjadi di lapangan, begitu sulit menerima perbedaan, seribu jamaah yang hadir boleh jadi menyimpan harapan perbaikan hati setelah sangat lelah membaca lalu lintas berita pilkada yang melukai ukhuwwah di antara kita. Mengapa panitia tabligh akbar tidak belajar dari Panitia Istighotsah Kubro kaum Nahdhiyyin di Sidoarjo kemarin. Lautan massa berkumpul tanpa caci maki, tanpa ujaran kebencian, tanpa perasaan gelisah dan curiga, semua tenang berdzikir, munajat kepada Allah untuk kedamaian bangsa. Mengapa justru event berkumpul umat dijadikan ajang memaksakan kehendak? Mengapa?

Aku kembali membaca SMS yg terkirim tadi malam, mencoba memahami kalimat yg tertulis, “kami dan ust tidak ada kesepakatan”, kesepakatan apa? Aku berulang menyebut akan menyampaikan spirit ramadhan untuk meningkatkan ukhuwwah umat, mengapa suara persaudaraan dianggap tidak sepakat? Apakah ukhuwwah antar umat berarti harus satu suara dalam pilkada? “

Tembusan; kepada semua jamaahku di wilayah Pisangan Timur, maafkan ketidakhadiranku nanti bila sudah kadung foto dan namaku terpampang di baliho untuk event Jum’at lusa. Panitia tak menghendaki kedatanganku. Semoga semua kita senantiasa dirahmati Allah. Pesanku, “mari siapkan diri menghadapi ramadhan mubarak dengan meneguhkan kembali komitmen persaudaraan di bumi nusantara yang kita cintai ini.”

Status Facebook Ustadz Enha, 11 April 2017.

Berikut biografi singkat ustadz Enha

Ustadz Enha bernama asli Nurul Huda Haem , kelahiran Jakarta, 12 Mei 1975.
Lelaki lulusan Fakultas Dakwah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, merupakan putra seorang kiayi bernama KH. Muali dan Ustadzah Hj. Amidah Ali. Terdidik dalam keluarga yang seorang da’i dan da’iah.
Selain sebagai da’i , Ustadz Enha adalah
seorang motivator keluarga .

Selain itu , beliau juga seorang penulis buku. Telah lahir beberapa buku dari tangannya seperti “Cahaya Tauhid” , “Kembang Setaman Islam Indonesia” dan “Awas Illegal Wedding!”

Kini, sang ustadz sedang merintis Pesantren Motivasi Indonesia.

Library : suaraislam

Iklan

gunakan suaramu

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: