Iklan
Oleh: masshar2000 | 12 Mei 2017

Toleransi Umat Islam di negara api , Sunni-Syiah Bisa Rukun

image

Masshar2000.Com – Di negara-negara arab konflik sektarian antara Sunni dan Syiah sepertinya memang dimanfaatkan oleh negara barat untuk menghancurkan sebuah negara yang berani menentangnya .

Kita bisa lihat di Yaman ,Libya , Irak , Mesir dan yang terkini adalah Suriah . Kita bisa saksikan bagaimana cara Amerika mencampuri negara-negara yang dulunya kaya raya dan rukun menjadi porak poranda akibat diadu oleh kekuatan barat (Amerika dan sekutunya) .
Dulunya negara-negara tersebut aman , konflik antara Sunni dan Syiah hanya sebatas saling kritik dan saling menyalahkan saja .

Saat Amerika masuk mereka memanfaatkan celah yaitu mempersenjatai mereka kaum oposisi untuk bergerak dari bawah .Saat mereka semua sudah bersenjata jadilah makar , memberontak pada pemerintah yang sah dan tentu saja dengan isu perbedaan mashab yang menjadi senjata utama .Rakyat di cuci otaknya dipengaruhi untuk membenci pemerintah , alasannya klasik , pemerintah tidak adil dan memusuhi mereka .

Terlebih para tokoh-tokoh agama dari masing-masing mashab memang sebelumnya sudah berseteru dan hasilnya bisa kita lihat sekarang , mereka saling bunuh dan dan saling menghalalkan darah saudaranya , tetangganya dan mungkin para ulama dan pejabat yang berbeda haluan .
Tapi , diluar itu ternyata ada satu negara yang sampai saat ini masih memegang dan menjunjung tinggi toleransi .

Adalah negara Azerbaijan , sebuah negara di Eropa yang tidak terlalu besar ini adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim dan mungkin satu-satunya negara yang dimana warganya tidak mempermasalahkan mashab Sunni dan Syiah . Hal ini bisa dilihat
salah satunya di Masjid Heydar Aliyev yang berada di ibu kota Azerbaijan, Baku.
Negara Republik yang baru merdeka pada 30 agustus 1991 ini memiliki masjid terbesar di kawasan Kaukasus Selatan dan ini menjadi simbol keharmonisan Syiah dan Sunni di Azerbaijan karena memiliki praktik ibadah yang unik.

image

Di masjid seluas 4.200 meter persegi dengan tinggi 55 meter ini, ibadah shalat Jumat dilakukan berdampingan antara Syiah dan Sunni. Misalnya, pada pekan pertama, imam Syiah memimpin shalat Jumat, kemudian pada pekan kedua imam Sunni yang memimpin.

Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev bersama para pemimpin komunitas agama memulai ‘ibadah persatuan’ ini ketika masjid baru diresmikan pada 2014. Praktik tersebut kemudian dilestarikan dan menjadi simbol keselarasan Syiah-Sunni di negara dengan julukan Negara Api ini.
image

Selain ibadah, keharmonisan Syiah dan Sunni juga tercermin dalam praktik pernikahan. Tak ada larangan bagi Muslim Syiah yang ingin menikah dengan Muslim Sunni. Mereka bisa hidup berdampingan satu sama lain, seperti yang dilakukan pendahulunya pada berabad-abad lalu.

Lebih dari 90 persen penduduk Azerbaijan memeluk agama Muslim, dengan 80 persen lebih diantaranya adalah Syiah dan sekitar 15 persen adalah Sunni.
Di Baku, populasi Muslim kebanyakan adalah Syiah. Sementara Sunni lebih mendominasi wilayah utara Azerbaijan, yang beretnis Lezgian.

Meski memiliki populasi mayoritas Muslim, Azerbaijan adalah negara sekuler. Rusia dan Soviet yang sempat berkuasa memberikan dampak besar terhadap sekularisme di negara ini.

Sejarah Syiah dan Sunni di Azerbaijan sendiri terpengaruh dari Iran dan Ottoman Turki. Namun, tak ada perbedaan signifikan terhadap keduanya karena identitas agama di sini lebih kepada budaya dan etnis.

Saat ini, pemimpin Komunitas Muslim Azerbaijan adalah Haji Allahshukur Pashazade, ulama besar Islam Azerbaijan dan seluruh wilayah Kaukasus.
Ia adalah satu-satunya ulama Islam di dunia yang memberikan fatwa bahwa Syiah dan Sunni menurut mazhab mereka yang relevan, mewakili keharmonisan Syiah-Sunni di Azerbaijan.

Disini hanya mementingkan persatuan. Sunni dan Syiah sama-sama merasa memiliki satu Allah dan satu Nabi Muhammad.
Uniknya , Azerbaijan tidak memiliki kementrian agama karena merasa bukan negara agama. Masjid dan tempat ibadah agama lainnya disini berdiri independen tapi tetap dilindungi pemerintah.

Kerukunan Sunni dan Syiah terjadi atas keinginan rakyat Azerbaijan sendiri. Selain itu, tipikal beragama orang Azerbaijan tidak ada yang fanatik pada golongan tertentu meski ada banyak golongan disana.
Pemerintah tidak pernah mengintervensi urusan keyakinan. Disini tidak ada Sunni atau Syiah yang radikal. Imam di masjid mengajari jamaahnya mencintai pemerintah dan sebaliknya. Mayoritas disini bermadzhab Hanafi ada pula yang Maliki dan Syafii tetapi tidak ada yang fanatik bermadzhab.

Negara Azerbaijan ini bisa menjadi contoh negara-negara lain , karena toleransi memang sangat-sangat dibutuhkan di sebuah negara supaya negara tetap bisa utuh . Tidak boleh saling mengolok , merendahkan , menghujat apalagi menghina agama atau aliran lain . Dan tentu rakyatnya sendiri tidak boleh saling menghakimi apalagi ingin menegakkan hukum sendiri di sebuah negara . Percayakan saja pada pemerintah dan jangan merasa di dholimi pemerintah , tanyakanlah pada diri sendiri apa saja yang sudah kita perbuat untuk negara sebelum menyalahkan penyelenggara negara.

Penulis jadi ingat wasiat sayyidina Ali bin Abi Thalib ,

” Jika dia bukanlah saudara seiman , maka dia adalah saudara dalam kemanusiaan “

Library : CNN

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: