Ini Alasan Kenapa Quraish Shihab Tidak Mau Memakai Gelar Habib

Assallamu’allaikum mass-miss sadayana

image

Masshar2000.Com – Habib adalah gelar yang mentereng untuk disematkan kepada seseorang apalagi sebagai pendakwah . Namun tak sembarang orang bisa jadi habib. Ini bukan gelar yang datang dari langit atau julukan bagi jamaah kepada ustadnya .

Habib ialah gelar yang disematkan kepada orang-orang yang punya pertalian darah, yang memiliki garis keturunan, dengan Nabi Muhammad. Bahkan tak cuma itu.
Secara harfiah, habib berarti “orang yang mencintai.” Meskipun demikian, menjadi habib tidak sesederhana arti harfiahnya.

“Pengertiannya bukan hanya orang yang mencintai, tapi termasuk orang yang dicintai, alias jadi Al-Mahbub,” kata Habib Ahmad Muhammad bin Alatas, Ketua Maktab Nasab Rabithah Alawiyah –organisasi pencatat silsilah habib di Indonesia .

Menjadi habib bukan perkara mudah. Ada kriteria dan mekanisme yang harus dipenuhi. Mereka mesti menyerahkan daftar silsilah turunan Rasul hingga tujuh tangga keluarga ke atas. Berbagai syarat administrasi pun wajib dipenuhi. Semua itu diatur oleh Rabithah Alawiyah , sebuah organisasi yang mencatat silsilah keluarga di Indonesia yang masih ada keturunan nabi .

Habib, di kalangan Arab-Indonesia, lebih menjadi titel kebangsawanan orang-orang Timur Tengah kerabat Nabi Muhammad SAW –dari keturunan putri Rasulullah, Fatimah, dengan Ali bin Abi Thalib.

Menjadi habib di Indonesia menjamin derajat tersendiri di tengah masyarakat. Kesan sebagai keturunan Nabi masih menjadi hal istimewa di negara berpenduduk muslim terbesar ini.
Meski demikian, tak semua orang memandangnya jadi hal utama. Contohnya Quraish Shihab.

Quraish Shihab, akademisi, mufasir, dan menteri agama era Soeharto itu sesungguhnya punya semua persyaratan untuk menjadi seorang habib.
Quraish merupakan cucu dari Habib Ali bin Abdurrahman, habib asli asal Hadhramaut, Yaman.
Tak hanya dari segi silsilah, Quraish juga teruji secara keilmuan. Ia dihormati berbagai kalangan karena kemampuan akademik dan agama yang jempolan.

Quraish Shihab menolak menggunakan gelar habib. Kenapa ?

Dalam buku biografinya, Cahaya, Cinta, dan Canda, Quraish mengatakan bahwa ia keberatan menyandang gelar tersebut karena pengertian dan kesan tentang habib di Indonesia telah berkembang jauh.
Quraish sadar ada pergeseran persepsi terkait habib di Indonesia. Di Indonesia, habib berkembang menjadi sebuah kesan. Yakni, kesan menjadi orang yang berilmu wahid dan dekat dengan Rasul.

Quraish juga mengkhawatirkan adanya kemungkinan asosiasi Rasul dengan dirinya.
Singkatnya, gelar habib di Indonesia menurut Quraish terkesan “mengandung unsur pujian.”
Maka ia berkukuh menolak memakai gelar habib, meski berhak.
Quraish berpandangan, mereka yang pantas memanggul gelar habib, selain karena faktor keilmuan dan silsilah, harus pula dilihat akhlaknya.

“Saya merasa, saya butuh untuk dicintai, saya ingin mencintai. Tapi rasanya saya belum wajar untuk jadi teladan. Karena itu saya tidak, belum ingin dipanggil Habib,” ujar Quraish halus.

Quraish juga enggan menyandang gelar kiai. Terlebih sang ayah, Habib Abdurrahman, mengajarkan kepada anak-anaknya untuk tidak menonjolkan gelar apapun, apalagi yang berasal dari garis keturunan atau bisa dibilang warisan .
Kami, kendati memiliki garis keturunan terhormat , Tidak sekalipun mengandalkan garis keturunan .

image

Keluarga besar Shihab

Keluarga besar Shihab pun demikian. Alwi Shihab dan Umar Shihab, kedua adik Quraish Shihab, juga memilih untuk tidak menggunakan gelar habib.
Alwi mengkhawatirkan adanya fenomena kemunculan habib-habib yang tidak sesuai dengan aturan dan tidak mencerminkan akhlak seorang yang pantas dipanggil habib. Alwi menyebutnya sebagai “inflasi habib,” di mana jumlah habib yang bertambah justru menjadikan nilai mereka turun.

Kami membangun sebagaimana leluhur kami membangun dan berbuat serupa dengan apa yang mereka perbuat.
Ketiga bersaudara itu sepakat hanya memakai sebutan habib untuk kakek mereka, Habib Ali bin Abdurrahman. Sebab, menurut Quraish, cinta sang kakek demikian besar kepada cucu-cucunya.

Lantas Quraish lebih suka dipanggil bagaimana?

“Udah deh nggak usah repot-repot pangil saya habib atau kiai. Panggil saya ustaz saja,” ucapnya tersenyum.

Ustaz berarti “guru,” dan Quraish yang mantan rektor IAIN tak keberatan menjadi sosok yang berbagi ilmu.
Maka habib, yang berarti orang yang mencintai, dirasa Quraish sudah tepat untuk kakeknya yang kelahiran Yaman itu.

Banyak orang berlomba ingin terkenal dengan gelar habib , namun ustadz Quraish Shihab malah justru tidak mau menggunakannya .
Inilah ulama yang benar-benar rendah hati dan patut untuk dicontoh .
Quraish sendiri adalah seorang ahli tafsir yang pernah belajar ilmu di Iran dan juga berbagai negara arab . Bahkan karena itu , beliau juga difitnah sebagai pengikut Syiah walaupun beliau sudah membantahnya dan berita itu pernah dimuat di situs nuonline.com yang menyebutkan bahwa Quraish Shihab adalah tokoh NU .

image

Quraish Shihab menaruh hormat pada sesepuh NU

image

Gus Mus pun menaruh hormat pada Quraish Shihab yang biasa dipanggilnya Om saat masih muda dan sama-sama belajar di Mesir

image

Semoga orang-orang yang memfitnah beliau segera diberi hidayah .

BACA JUGA :

Berapa Jumlah Habib Di Indonesia ?

Semoga bermanfaat ,
Wassallamu’allaikum…

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s