Iklan
Oleh: masshar2000 | 16 Juni 2017

Habib Rizieq Dimata Pendukungnya

image

Masshar2000.Com – Seperti kita ketahui , setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus chat berkonten pornografi , imam besar FPI kini juga ditetapkan sebagai DPO polisi.

Rizieq yang kini masih di Arab Saudi memang tidak mau pulang karena merasa kasusnya direkayasa . Hal inipun diamini oleh para pendukungnya yang mana mengatakan junjungan mereka didiskriminalisasi .

Ini adalah sebuah kisah singkat dari seorang pengikut setia imam besar FPI  itu yang mana sudah diwawancara oleh merdeka.com dan dipublikasikan pada 15 juni 2017.

Ia adalah seorang ibu rumah tangga , saat ini mengenakan hijab kuning dan gamis putih duduk di barisan perempuan. Dia siap mengikuti acara 1.000 yasin yang digelar di markas Front Pembela Islam (FPI), Jalan Petamburan III, Jakarta Barat, Kamis (8/6). Sebelum azan Ashar berkumandang, dia sudah berada di lokasi.

image

Namanya Ida, lebih senang disapa Umi Ida. Usianya 56 tahun. Wajahnya sumringah bisa kembali berkumpul dengan jemaah Petamburan. Dengan hikmat Umi Ida membacakan yasin dan mendoakan pentolan FPI Habib Rizieq Syihab yang sedang berada di Arab Saudi. Sesekali raut wajahnya berubah cemas dan sedih ketika membacakan yasin.
Umi Ida memang sudah lama bergabung dan mengikuti setiap kegiatan mereka.

Umi Ida menceritakan langkah awalnya berjalan mengikuti Habib Rizieq. Dia masih ingat betul pada medio 2013, saat dikenalkan dengan temannya yang mengikuti pengajian di Petamburan. Saat itu pengajian dilaksanakan dua kali dalam sepekan. Pengajian selalu dipimpin oleh Habib Rizieq.
Dari penuturan Umi Ida, ceramah yang diberikan Rizieq sangat baik, tak ada sedikitpun menyinggung soal suku, agama, RAS dan Antar Golongan (SARA) atau menjelekkan seseorang. Dari situ dia mulai mengikuti jejak dan ajaran Rizieq.

“Beliau mengajarkan soal bagaimana kita mempersiapkan diri di akhirat dan tidak lupa pada akhirat,” kata Ida sambil menikmati santapan buka puasa.

Sejak saat itu Ida mulai rajin datang ke setiap pengajian yang dipimpin Habib Rizieq. Termasuk pengajian yang rutin digelar di Petamburan. Umi Ida menyadari, di luar sana banyak yang membenci Rizieq. Tetapi tidak demikian di mata Umi Ida. Bagi dia, saat Rizieq memberikan ceramah dengan suara lantang dan ceplas-ceplos, itu adalah bagian dari kebaikan.
Dalam pandangannya, seorang habib adalah keturunan nabi yang seharusnya dicintai. “Beliau berarti enggak pernah salah,” kata Ida.

Tak cuma pengajian, Ida juga tak pernah sekalipun absen mengikuti seruan turun ke jalan yang diamanatkan Rizieq. Setiap kali aksi bela Islam, dia selalu ikut. Dia bergeming meski suaminya melarang karena takut terjadi sesuatu pada sang istri saat aksi.
Benar saja, ketika ikut aksi bela Islam 411 yang berakhir bentrok di depan Istana Negara, Umi Ida terkena gas air mata. Saat itu dia berlari sekencang-kencangnya untuk menghindari kerincuhan. Umi Ida beruntung ditolong seorang pemuda berambut ikal. Tapi dia justru memarahi pemuda itu.

“Pas saya sadar di Pos Polisi dekat monas itu, saya langsung lepasin tangan saya. Ih dia pasti Ahokers, dia enggak pakai baju muslim. Saya malah marahin dia. ‘Gue mau perang bela Islam ini malah ditolong’,” kata Ida dengan nada tinggi.

Saban kali Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama menjalani sidang kasus penodaan agama, Ida juga selalu hadir. Dia selalu berada di garda paling depan. Setiap pagi saat sidang Basuki digelar, Umi Ida melangkah seorang diri dari rumahnya di Pondok Kacang Barat, Ciledug, menuju Ragunan, Jakarta Selatan.

Dia tak pernah terpikir bakal kelaparan setiap kali aksi. Makanan selalu melimpah, entah dari mana. Dia hanya berpikir bahwa itu semua datang karena pertolongan Rizieq kepada jemaahnya yang sangat banyak.
Cerita Umi Ida malam itu berakhir seiring bubarnya pengajian di Petamburan. Hari sudah larut dan dia harus pulang ke rumah. Sebab, keesokan harinya, Jumat (9/6) dia akan turun dalam aksi bertajuk bela ulama 96. Tapi kisah Umi Ida belum berakhir di situ. Kami pun kembali bertemu dengan Umi Ida di Masjid Istiqlal yang jadi lokasi utama aksi bela ulama, sekitar pukul 12.00 WIB.

image

Hari itu dia datang dengan gamis dan kerudung putih, bergabung para alumni aksi 212. Dia menunggu di sisi mobil komando. Wajahnya serius saat menyimak orasi dari mobil komando yang diserukan Presidium Alumni 212 Ustaz Ansufri Sambo. Hatinya cemas, tak bisa tidur, manakala mengetahui tokoh pujaannya, Habib Rizieq, ditetapkan sebagai tersangka dan masuk daftar pencarian orang (DPO) yang dikeluarkan polisi.

Umi Ida tak berhenti menangis menatap layar televisi. Dia tidak percaya dengan berita tersebut. Umi Ida ingin mengetahui kabar Rizieq di Arab Saudi.

“Saya langsung telepon si anak laskar FPI nanyain kabar, semoga saja Habib enggak ditangkep,” ungkap Umi Ida cemas.

Bagi Umi Ida, mengetahui kabar Rizieq saja belum cukup. Dia tetap sulit tidur dihantui pemberitaan mengenai Rizieq. Bahkan dia sampai jatuh sakit lantaran pemberitaan yang terus menerus mengabarkan Rizieq sebagai tersangka atas kasus chat berkonten pornografi dengan Firza Husein. Tekanan darahnya naik dan dia harus terkapar di tempat tidur selama tiga hari.

“Enggak bisa tidur, sempat nangis. Itu yang enggak punya otak si Firza. Habib pasti dijebak,” ucap dia dengan nada kesal.

Aksi hari itu selesai setelah maghrib. Umi Ida dan para alumni 212 berangsur-angsur membubarkan diri. Dan Umi Ida melangkahkan kaki meninggalkan Istiqlal dan kembali ke rumahnya.

Library : merdeka

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: