Iklan
Oleh: masshar2000 | 31 Juli 2017

Hubbul Wathan Minal Iman , Apakah Sebuah Hadist dan Ada Dalilnya

Assallamu’allaikum mass-miss sadayana

image

Masshar2000.Com – Dimasa yang sekarang ini , dengan melihat diberbagai negara timur tengah yang dilanda opsi tidak percaya pada pemerintah dan menjamurnya gerakan kilafah , memang seharusnya kita harus waspada dengan gerakan-gerakan super radikal ini.
Kenapa saya sebut super radikal , karena sebenarnya mereka sudah diatas radikal alias makar memberontak kepada pemerintah yang sah dan itu wajib diperangi.

Ulama-ulama di negara kita , lebih tepatnya ulama-ulama NU punya slogan tersendiri dengan kalimat ” Hubbul Wathan Minal Iman “.
Dan juga mengenalkan Islam Nusantara , untuk lebih mencintai negaranya .

” Hubbul Wathan Minal Iman atau Mencintai negara sebagian dari Iman”, ungkapan ini diyakini oleh sebagian umat muslim sebagai hadist Nabi, terlepas benar-benar sudah menyelidiki dengan mendalam atau tidak. Tapi, mari kita berdialektika sekilas bagaimana ungkapan yang diyakini sebagai hadist ini tertanam dalam pemikiran masyarakat, sebagai contoh Indonesia.


Mari kita baca dengan seksama dari pakarnya masalah ini .
Beliau adalah Muhammad Masrur , seorang Peneliti Hadist di el-Bukhari Institute, Redaktur Bincang Syariah.com, dan Mahasantri Darus-Sunnah.

Urusan mencintai negara (bahasa Arab: hubbu-l-wathan) adalah bagian yang paling esensial dari kampanye nasionalisme. Nasionalisme tidak sekedar menjadi pembicaraan dan ideologi, tapi sejak berdirinya negara-negara, nasionalisme juga terwujud didalam sistem administratif negara. Warga Negara Indonesia sudah pasti berkewarganegaraan Indonesia jika ia lahir di negara ini, dan kedua orangtua berkewarganegaraan yang sama, dalam hukum kewarganegaraan lazim disebut ius soli. Sementara yang mengikuti keturunan asal orang tua, meski tidak lahir tidak di negeri asalnya, disebut ius sanguinis.
Bahkan, sebelum ada prinsip-prinsip administratif di atas, nasionalisme sebenarnya sudah ada secara kultural.

Ikatan seorang dengan negeri asalnya adalah bagian dari bentuk-bentuk institusi sosial. Institusi sosial ini akan terus menguat, jika ada semangat yang sama untuk maju atau menyelesaikan sebuah masalah.
Masyarakat yang notabene-nya santri misalnya, sebelum kemerdekaan mereka sudah mendengung-dengungkan hubbul wathan minal iman sebagai jargon melawan penjajahan.

K.H. Zainal Mustafa dari Tasikmalaya misalnya, menjadikan ini sebagai prinsip bagi para santrinya untuk melawan tindak tanduk penjajah.
K.H. Wahab Hasbullah dari Jombang, menggubah ungkapan ini kedalam sebuah syair yang disuarakan untuk menyemangati rakyat melawan penjajah, pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya (kemudian dijadikan Hari Pahlawan).

Menyoal Frasa ” Hubbul Wathan minal Iman “,
As-Sakhawi dalam al-Maqāshid al-Hasanah menyatakan bahwa ungkapan ini bukanlah hadist.
Tidak hanya Sakhawi, ungkapannya ini disepakati oleh seluruh ulama, diantaranya al-‘Ajluni dalam karyanya yang berjudul Kasyf al-Khafā, dan al-Albani (ulama wahabi) dalam Silsilah al-Ahādits al-Mawdhu’ah.
Mula al-Qāri dalam al-Asrār al-Marfu’ah menyitir sejumlah pendapat untuk menjelaskan redaksi ini, mulai dari perkataan kalau itu adalah ungakapan Nabi Isa As., perkataan sebagian ulama salaf, hingga mereka yang tidak memberikan pendapat apa-apa soal ungkapan ini.

Masih adanya ragam penilaian menunjukkan setidaknya dua hal penting.
Pertama, dengan segala perdebatan yang ada soal otensitisitas, ungkapan ini nampaknya sudah populer sejak zaman dahulu. Bahwa tidak menutup kemungkinan kalau orang beriman juga mencintai tanah kelahirannya. Justru, lewat kecintaan tanah kelahiran, persatuan antara orang beriman semakin kuat, karena mereka juga terikat oleh ikatan tanah kelahiran, meski mungkin keyakinan keagamaan mereka berbeda-beda.

Kedua, para ulama melihat ungkapan ini tidak terlalu bertentangan dengan dasar ajaran agama. Rupanya ada sejumlah hadis yang mengisyaratkan tentang kecintaan orang beriman pada tanah airnya.
Misalnya hadis yang diriwayatkan Ibn Abi Hatim:
حَدَّثَنَا أَبِي، ثنا ابْنُ أَبِي عُمَرَ، قَالَ: قَالَ سُفْيَانُ، فَسَمِعْنَاهُ مِنْ مُقَاتِلٍ مُنْذُ سَبْعِينَ سَنَةً، عَنِ الضَّحَّاكِ، قَالَ:”لَمَّا خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَكَّةَ فَبَلَغَ الْجُحْفَةَ اشْتَاقَ إِلَى مَكَّةَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَيْهِ الْقُرْآنَ  ” لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ ”  إِلَى مَكَّةَ”.
“Dari al-Dhahhāk, beliau berkata: ketika Rasulullah Saw. keluar dari kota Mekkah, lalu sampai di al-Juhfah (tempat diantara Mekkah dan Madinah), beliau rindu dengan Mekkah, maka Allah Swt. Menurunkan ayat: “… sungguh (Allah) akan mengembalikanmu ke tempat kembali (yaitu ke Mekkah).”

Hadits yang diriwayatkan Ibn Abi Hātim al-Rāzi didalam tafsirnya ini, diamini oleh banyak penafsir al-Qur’an, seperti al-Thabathabā’i, Ibn ‘Asyur, dan Sayyid Quthub sebagaimana yang dijelaskan Quraish Shihab di dalam tafsir al-Mishbah.

Fenomena yang terjadi saat ini, sebenarnya menunjukkan kalau mencintai negara itu punya andil besar, dalam menjaga keberlangsungan kehidupan dan pelaksanaan ajaran agama, yang didasari oleh keimanan. Pelajaran dari kearifan para tokoh bangsa ketika menjadikan ungkapan ini (boleh jadi diyakini sebagai hadist), adalah sarana meningkatkan semangat juang rakyat, harus kita teladani dan ambil semangatnya pada hari ini.

Memakmurkan dan mengelola muka bumi ini (termasuk kampung halaman) adalah bagian dari ajaran Islam, yaitu mensyukuri pemberian nikmat hidup di dunia ini, dengan bekerja mencari nafkah yang halal.
Memang, tanah air tidak hanya soal tanah kelahiran, atau kampung. Mula al-Qari misalnya menambahkan kalau al-wathan juga memiliki tafsiran makna akhirat. Karena kita semua akan kembali ke “kampung” akhirat, maka pantaslah kalau kita merindukannya.

Ala Kulli Hāl, perdebatan apakah ungkapan ini hadist atau bukan tidak menjadi inti permasalahan.
Meskipun bukan hadist , secara makna rupanya ia tidak bertentangan dengan semangat ajaran Islam untuk memakmurkan dan menegakkan keadilan bumi yang telah Allah ciptakan bagi manusia.

Maka, ingin saya tutup paragraf ini dengan ungkapan al-‘Amiri, seorang ulama hadist ketika menjelaskan kedudukan jargon hubb al-wathan ini,
إِذَا أَردْتَ أن تَعْرف الرَّجل فانظُر كيف تَحَنُّنُه إلى أوطانه وتشوقه إلى إخوانه وبكاؤه على ما مضى من زمانه
Jika engkau ingin mengetahui tentang (cara pandang) seseorang, maka lihatlah bagaimana ia merindukan tanah kelahirannya, kecintaanya kepada handai taulannya, dan tangisannya terhadap apa yang telah dilakukannya pada masa lalu.”

Jadi , masihkan ada keraguan di hati saudara-saudara untuk mencintai negri ini ?
Terakhir , jangan termakan propaganda dan provokasi bahwa ” mencintai negara tidak ada dalilnya “.

image

Semoga bermanfaat,
Wassallamu’allaikum…

Library : muslimedia

Iklan

gunakan suaramu

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: