Iklan
Oleh: masshar2000 | 13 Agustus 2017

Hukum Menjual Kulit Hewan Qurban

Assallamu’allaikum mass-miss sadayana

image

M2000 – Tidak sampai sebulan lagi kita sebagai umat muslim akan merayakan hari raya idul adha atau idul Qurban .
Sudahkah anda mempersiapkan hewan qurban anda dan menjadi shohibul qurban ?

Mengenai tata cara berqurban dan syarat-syaratnya , kami sudah pernah menuliskannya beberapa waktu lalu.
Silahkan baca dulu :

Tata cara berqurban

Sekarang kita akan membahas topik lain yang masih ada hubungannya dengan qurban yaitu tentang banyaknya pertanyaan apakah boleh menjual kulit hewan qurban .
Atau bolehkah takmir mengumpulkan kulit hewan qurban kemudian dijual dan uangnya dipakai untuk pembangunan masjid?

Mari kita simak satu persatu .

Pertama, orang yang berqurban tidak boleh menjual apapun dari hasil qurbannya karena orang yang berqurban, dia menyerahkan semua hewannya dalam rangka beribadah kepada Allah. Sehingga dia tidak boleh menguangkannya atau memberikan bagian dari hasil qurbannya untuk membayar jasa pihak jagal.

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا . قَالَ : نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا

” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk menangani onta qurbannya, mensedekahkan dagingnya, kulitnya, dan asesoris onta. Dan saya dilarang untuk memberikan upah jagal dari hasil qurban. Ali menambahkan: Kami memberikan upah dari uang pribadi “. (HR. Bukhari 1717 & Muslim 1317).

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam memberi ancaman, orang yang menjual kulit kemudian uangnya dimanfaatkan pribadi, bisa membatalkan pahala qurbannya.
Beliau bersabda,

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَتِهِ فَلاَ أُضْحِيَةَ لَهُ

” Siapa yang menjual kulit qurbannya maka tidak ada qurban baginya “. (HR. Al-Hakim 2/390 dan dihasankan al-Albani)

Kedua, panitia qurban, statusnya adalah wakil dari shohibul qurban. Sehingga apapun yang dilakukan panitia qurban, dianggap sebagai praktek pemilik qurban. Oleh karena itu, panitia qurban tidak diizinkan menjual kulit qurban, kemudian uangnya dimanfaatkan untuk biaya operasional. Karena statusnya sama dengan menjual hasil qurban, yang manfaatnya kembali kepada pemilik qurban.

Ketiga, mengenai hukum menjual hasil qurban kemudian hasilnya disedekahkan
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum masalah ini.

Madzhab Hanafiyah dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayat berpendapat bahwa ini diperbolehkan. Dalam Tabyin al-Haqaiq – kitab madzhab Hanafi – dinyatakan,
ولو باعهما بالدراهم ليتصدق بها جاز ; لأنه قربة كالتصدق بالجلد واللحم

”Jika dia menjual kurbannya dengan pembayaran uang dirham untuk disedekahkan dalam bentuk dirham, hukumnya boleh. Karena ini termasuk ibadah, sebagaimana sedekah dengan kulit atau dagingnya.” (Tabyin al-Haqaiq, 6/9)

Ibnul Qoyim dalam Tuhfah al-Maudud menyebutkan beberapa riwayat dari Imam Ahmad, diantaranya keterangan al-Khallal,

وأخبرني عبد الملك بن عبد الحميد أن أبا عبد الله [يعني الإمام أحمد] قال : إن ابن عمر باع جلد بقرةٍ وتصدق بثمنه

” Abdul Malik bin Abdul Humaid menyampaikan kepadaku bahwa Imam Ahmad pernah mengatakan, ’Sesungguhnya Ibnu Umar menjual kulit sapi, kemudian beliau sedekahkan uangnya “.(Tuhfah al-Maudud, hlm. 89)

Mayoritas ulama , Malikiyah, Syafiiyah dan Hambali melarang jual beli ini. Dalilnya adalah beberapa hadist di atas yang maknanya umum.
As-Syaukani mengatakan,

اتفقوا على أن لحمها لا يباع فكذا الجلود. وأجازه الأوزاعي وأحمد وإسحاق وأبو ثور وهو وجه عند الشافعية قالوا : ويصرف ثمنه مصرف الأضحية

” Ulama sepakat bahwa dagingnya tidak boleh dijual, demikian pula kulitnya. Sementara al-Auza’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, dan salah satu pendapat sebagian ulama Syafiiyah mengatakan, “Uang hasil menjual qurban disedekahkan sebagaimana hewan qurban.” (Nailul Authar, 5/153)

Setelah menimbang keterangan di atas, dalam Fatwa Islam dinyatakan, tidak masalah memberikan kulit ke yayasan sosial yang bertugas menjualnya dan mensedekahkan uangnya. Dan ini termasuk penanganan yang manfaat. Karena umumnya orang tidak bisa memanfaatkan kulit qurban. Sehingga menjual kulit untuk disedekahkan, mewujudkan inti maslahat itu. Yaitu memberi manfaat bagi ornag miskin, disamping menghindair yang terlarang, yaitu memanfaatkan hasil qurban untuk mendapat keuntungan dari qurbannya.

Jika orang yang berqurban berniat memberikan kulit qurbannya ke yayasan sosial yang mengumpulkannya, tidak masalah. Kemudian yayasan ini menjual kulit itu, dan mensedekahkan uangnya untuk kepentingan sosial.

image

Allahu a’lam

Semoga bermanfaat ,
Wassallamu’allaikum…

Library : Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: