Iklan
Oleh: masshar2000 | 10 September 2017

Fakta Dua Tahun Perang Yaman , 7700 Orang Tewas , 42 Ribu Luka ..Kenapa Dunia Internasional Diam

image

M2000 – Krisis Kemanusiaan yang akhirnya di goreng menjadi konflik agama sepertinya akan selalu menjadi dagangan yang paling laku untuk dijual .

Kita semua tahu , krisis kemanusiaan di Rakhine Myanmar terjadi karena adanya sekelompok militan yang ingin mendirikan negara sendiri atau bisa dikatakan sebagai pemberontak .
Disana mereka berada ditengah-tengah warga Rohingya yang mayoritas muslim untuk mendukung langkah mereka mendirikan negara sendiri .Padahal kalau di hitung , jumlah teroris yang ingin merdeka ini tidak sebanding dengan jumlah muslim Rohingnya yang berjumlah jutaan orang .

Mereka tidak butuh negara baru , hanya ingin hidup aman , nyaman sentosa . Bisa beribadah dengan aman , bisa sekolah , bekerja dengan nyaman dan tidak aneh-aneh . Mereka seperti halnya masyarakat di dunia pada umumnya yaitu menjadi selayaknya manusia seutuhnya .

Namun karena hanya ulah segelintir orang yang isunya berafiliasi dengan ISIS ini , mereka harus meninggalkan kampung halamannya karena kampung mereka di obrak-abrik oleh tentara atau junta militer Myanmar yang bernafsu sekali ingin menghabisi para pemberontak . Dan pembantaian pun tak terhindarkan , ratusan ribu orang tak berdosa harus mengungsi demi menyelamatkan nyawa dirinya sendiri dan keluarganya .

Siapa yang salah ?

Dua-duanya salah , pemberontak salah , militer juga salah .
Secara konstitusi , siapapun yang ingin mendirikan sebuah negara baru memang tidak dibenarkan dan itu disebut sebagai makar atau pemberontak dan pemberontakan harus ditumpas . Dalam Islam , siapapun yang di baiat untuk mendirikan negara dalam sebuah negara harus dibunuh , setidaknya para pemimpin-pemimpinnya .
Kita tentu masih ingat peristiwa DI/TII yang ingin mendirikan negara Islam di Indonesia . Oleh pemberontakan itu akhirnya ditumpas habis , padahal pemimpinnya Karto Suwiryo adalah sahabat Sukarno sendiri semasa kemerdekaan , bahkan grasi yang diajukan pihak Karto Suwiryo pun ditolak Sukarno sehingga hukuman mati pun diterima Karto Suwiryo .

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) rahimahullah, sebagaimana dalam Ushul As Sunnah hal. 64, berkata,

والسمع والطاعة للأئمة وأمير المؤمنين البر والفاجر، ومن ولي الخلافة واجتمع الناس عليه ورضوا به ومن غلبهم بالسيف حتى صار خليفة وسمي أمير المؤمنين

“Wajib mendengar dan menaati para pemimpin dan amirul mukminin yang baik maupun yang fajir (berbuat kerusakan). Wajib pula menaati pemegang kuasa suatu kekhilafahan, dan setiap pemimpin yang disepakati oleh masyarakat, ataupun penguasa yang mengalahkan suatu wilayah dengan pedang (peperangan) hingga ia menjadi khalifah yang disebut amirul mukminin di wilayah tersebut.”

Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1844) meriwayatkan dari Abdullah ibn Amr ibn Al Ash dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,

وَمَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنْ اسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ الْآخَرِ

“Barangsiapa telah membai’at seorang imam lalu dia telah memberikan jabatan tangan dan kerelaan hatinya, maka hendaknya dia taat kepadanya dalam batas kemampuannya. Jika datang seorang yang mengaku pemimpin lainnya, maka penggallah leher yang lain itu.”

Silahkan baca :

Fakta , Rohingya Bukan Konflik Agama

Nah , itu adalah faktanya di Myanmar ,  memang ada genocide disana dan pemerintah harus bertanggung jawab.

Lantas bagaimana dengan di Yaman ?
Tak terasa perang di Yaman sudah memasuki tahun kedua. Hasilnya, menurut data PBB, 7.700 orang tewas dan 42.500 orang lainnya terluka sejak koalisi pimpinan Arab Saudi terlibat dalam perang.

Konflik ini semakin menegaskan persaingan regional antara Iran lewat pemberontak Houthi yang didukungnya dan Arab Saudi yang memimpin sembilan negara koalisi.

Berikut ringkasan dua tahun perang di Yaman:

Operasi militer

Pada 26 Maret 2015, koalisi pimpinan Arab Saudi menggelar operasi militer dengan sandi “Decisive Storm”.

Operasi militer ini diwarnai serangan udara terhadap pemberontak Houthi untuk membantu Presiden Abedrabbo Mansour Hadi yang mengungsi ke Riyadh.

Koalisi pimpinan Arab Saudi ini terdiri atas negara-negara Teluk yaitu Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab ditambah Mesir, Jordania, Maroko, dan Sudan.

Sebulan setelah digelar operasi militer ini berganti nama menjadi operasi “Pemulihan Harapan” atau “Restoring Hope“.

Tujuan operasi militer ini adalah mengalahkan pemberontak Syiah yang menguasai ibu kota Sanaa sejak September 2014 dan wilayah luas di sisi utara, tengah, dan barat Yaman.
Pada 17 Juli 2015, pemerintah Yaman mengumumkan dibebaskannya provinsi Aden di wilayah selatan lewat pertempuran selama empat bulan.

image

Pada Agustus 2015, operasi militer koalisi ditambah dengan pengerahan ratusn personel pasukan darat.
Pada pertengahan Agustus, pasukan yang loyal pada pemerintah merebut wilayah selatan Yaman tetapi menghadapi menguatnya kelompok Al Qaeda dan ISIS.

Pada Februari 2016, Riyadh mengabarkan, pasukan pemerintah sudah menguasai tiga perempat wilayah Yaman, meski masih tak mampu merebut provinsi Taez di barat daya dan Marib di wilayah tengah negeri itu.
Pembicaraan damai yang disponsori PBB berakhir dengan kebuntuan dan jet-jet tempur koalisi kembali menggempur Sanaa pada 9 Agustus 2016.

Pada 7 Januari 2017, pasukan pro-pemerintah yang didukung serangan udara koalisi menggelar operasi “Golden Spear” di sekitar teluk Bab-al Mandab yang strategis karena berada di antara Laut Merah dan Teluk Aden.

Gagalnya gencatan senjata

PBB dan AS mencoba menggelar tiga babak perundingan antara pihak bertikai di Yaman. Semuanya berakhir dengan kegagalan.

image

Tiga pembicaraan damai itu digelar di Swiss (Juni dan Desember 2015) dan di Kuwait (April 2016). Tujuh gencatan senjata disepakati tetapi seluruhnya dilanggar.
Hubungan yang memburuk antara Arab Saudi dan Iran membuat konflik semakin sulit diakhiri karena semakin menyulitkan tugas para diplomat.

Pemerintahan Presiden Hadi, yang diakui dunia internasional, akhirnya memiliki basis di kota pelabuhan Aden pada September 2016.
Dua bulan kemudian, pemberontak dan pasukan pendukung mantan presiden Ali Abdullah Saleh membentuk pemerintahan di Sanaa.
Langkah ini semakin menipiskan harapan terbentuknya pemerintah bersatu bentukan PBB.

Korban Nyawa Bergelimpangan

Pada 28 September 2015, sebuah serangan udara menghantam gedung pernikahan di kota Mokha menewaskan 131 orang. Koalisi menolak bertanggung jawab.

15 Agustus 2016 pesawat koalisi mengebom sebuah rumah sakit di kota Abs, serangan keempat ke fasilitas medis yang dikelola MSF, mengakibatkan 19 orang tewas dan 24 orang lainnya terluka.

8 Oktober 2016, 140 orang tewas dan melukai 525 orang lainnya ketika serangan udara menghantam sebuah prosesi pemakaman di Sanaa. Koalisi pimpinan Saudi menyatakan bertanggung jawab.

Washington meningkatkan serangan terhadap Al Qaeda Semenanjung Arabia (AQAP) yang mengambil keuntungan dari perang ini.

20 Maret 2015, ISIS menyatakan bertanggung jawab atas serangan terhadap dua masjid Syiah di Sanaa yang menewaskan 142 orang.

29 Januari 2017, serangan gagal Navy SEAL terhadap AQAP mengakibatkan puluhan warga sipil tewas, termasuk perempuan dan anak-anak.

PBB menyebut, koalisi Arab Saudi menjatuhkan bom “cluster” dua kali lebih banyak dan menewaskan lebih banyak warga sipil dari pasukan manapun di dunia.

Kelaparan

Menurut PBB, perang Yaman telah mengakibatkan 3 juta orang menjadi pengungsi dan dua pertiga dari 18,8 juta penduduk negeri itu membutuhkan bantuan.

Sekitar 7,3 juta orang diperkirakan nyaris menderita kelaparan dan 462.000 anak-anak menderita kekurangan gizi serius atau menderita gizi buruk.

PBB memperingatkan, tanpa bantuan bernilai 2,1 miliar dolar maka Yaman akan mengalami kelaparan pada 2017.

Kalau di Rakhine bisa disebut sebagai kejahatan kemanusiaan , apakah di Yaman bukan kejahatan kemanusiaan , apa karena yang melakukan Arab Saudi ?
Apakah korban konflik Myanmar lebih parah dari Yaman ?
Jawabnya adalah tidak , karena jumlah korban malah justru lebih banyak di Yaman dan jumlah bangunan yang rusak di Yaman juga lebih parah .

image

Kalau di Myanmar di hembuskan isu ISLAM vs BUDHA , di Yaman yang digoreng isu SYIAH vs SUNNY yang diwakili pemerintah , belum lagi di Suriah , Libya dan negara-negara lain di timur tengah , semua di goreng dengan isu agama , padahal tujuan utamanya sama yaitu ingin berkuasa yang secara garis besar seharusnya bisa disebut masalah politik , ya ujung-ujungnya adalah politik , endingnya adalah kekuasaan .

Sudahkah anda merenungkan ini , atau apakah anda masih meyakini bahwa di Myanmar , Irak , Libya , Yaman dan Suriah memang perang masalah agama ?

Simaklah video bagaimana keadaan Suriah sekarang , klik DISINI

image

Baca juga :

Menggalang simpati dengan Menyebar HOAX kasus Rohingya

Library : kompas, AFP

Iklan

Responses

  1. […] Dua tahun perang Yaman , 7700 orang tewas , 42 ribu terluka , dunia diam seribu bahasa […]

    Suka


gunakan suaramu

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: