Iklan
Oleh: masshar2000 | 23 September 2017

Hukum Celana Isbal Dalam Hadist

Assallamu’allaikum mass-miss sadayana

image

M2000 – Yang namanya tafsir , selalu saja ada perbedaan antara ulama satu dengan lainnya , dan biasanya kalau keduanya punya pendapat kuat , maka ulama atau ustadz akan menyerahkan kepada pelakunya masing-masing .

Kita bahas masalah celana isbal (tidak isbal) ada dua pendapat kuat yang masing-masing tetap dalam pendiriannya . Ada yang bilang wajib , namun ada pula yang bilang sunah .
Mari kita pelajari lebih jauh tentang masalah ini .
Isbal adalah menurunkan sarung atau celana sebatas mata kaki bahkan melewatinya dan disebut musbil pelakunya .
Isbal berarti melabuhkan, memanjangkan, yakni menjulurkan pakaian menutupi mata kaki menjadi kontroversial dengan merujuk dua matan hadist yang berbeda redaksinya.

Pertama, man asbala tsaubahu fi al-naar (barang siapa yang berisbal maka masuk neraka) atau ma asfala minal ka’bayni minal izari fafinnar (apa saja  di bawah mata kaki dari pada kain maka (pelakunya) itu bagian api neraka) , maka tidak isbal adalah wajib .
Kedua,  la yanzhurullahu ila man jarra tsawbahu khuyala’ (Allah tidak memperhatikan orang-orang pada hari kiamat bagi yang menjulurkan kainnya karena sombong), atau la yanzhurullahu yawmal qiamati ila man jarra izarahu bathara (Allah tidak memperhatikan orang-orang pada hari kiamat bagi yang menjulurkan kainnya karena sombong) , artinya tidak wajib karena hanya disebutkan kalau ada kesombongan atasnya .

Implementasi hadist tersebut ada yang ketat mengamalkannya sehingga dalam keadaan, situasi, kondisi dan di manapun ia harus meninggikan sarung/celananya di atas mata kaki sampai betis atau di bawah lutut, lazimnya disebut berpakaian cingkrang (wajib tanpa pengecualian ).
Ada pula yang moderat, menggunakan sarung/celana sejajar mata kaki bahkan melorot ke bawah sejajar tumit.

Hadist pertama yang disebutkan tadi bersifat am (umum) dinasakh (dirinci) secara khas (khusus) oleh hadis kedua, sehingga dipahami bahwa menggunakan pakaian sebatas mata kaki atau sampai tumit selama tidak disertai kesombongan tetap dibolehkan berdasarkan sabab wurud (latarbelakang disabdakannya) hadist, yakni Abu Hurairah menyaksikan Raja Bahrain di hadapan Nabi SAW dengan pakaian terjulur ke bawah, sehingga Nabi SAW menegaskan bahwa yang di bawah mata kaki karena kesombongan kelak penghuni neraka. Kasus lain, Nabi SAW melihat kelakuan raja-raja Yaman yang pakaiannya serba panjang menjulur ke lantai seraya berbangga diri dan sombong merasa dirinya paling hebat, maka Nabi saw menyabdakan hadist itu lagi.

Secara kontekstual, Nabi SAW bukan melarang isbal melainkan sifat congkak dan sombongnya yang bersemayam di hati seseorang, sebagaimana halnya pertanyaan sayidina Abu Bakar perihal dirinya yang mengenakan baju lebar dan berisbal di hadapam Nabi SAW, “Apakah saya termasuk seperti mereka ya Rasulallah”? Nabi SAW menjawab dengan sabdanya, “Tidak, kamu (Abu Bakar) tidak seperti mereka”, sebab Abu Bakar hatinya bersih dari sifat-sifat tercela, tidak setitik pun perasaan riya’ dalam menggunakan pakaian panjang memenutupi mata kakinya.

Dengan demikian, hadist tentang larangan Isbal bersifat global dan dijastifikasi secara spesifik karena adanya sebab , yaitu didasari kesombongan.
Kaidahnya, dalil yang global harus kembali kepada dalil spesifik yang mengikatnya,  sehingga dipahami bahwa berisbal tetap dibolehkan selama tidak dadasari kesombongan, angkuh, congkak, riya, pamer diri dan takabbur.

Sebaliknya, mereka yang berstyle SCTI (sarung celana tinggi), tergantung sebatas betis atau naik sejengkal di atas mata kaki boleh jadi dianggapnya pakaian berkelas dalam beragama, hanya merasa dirinya benar dalam menjalankan ajaran agama (paling nyunah ) sehingga meremehkan orang lain justru sebagai suatu bentuk kesombongan yang berlebihan.

Nabi SAW sendiri dalam berbagai riwayat menggunakan pakaian yang menyesuaikan kondisi, saat berjihad (dalam peperangan) digunakannya baju besi yang menutup mata kakinya dengan sepatu terompah. Ini berarti bahwa pakaian bisa saja menutup mata kaki. Sama halnya style pakaian saat ini memang beragam, stelan jas banyak digunakan ketika hendak ke acara seminar, pesta dan pertemuan-pertemuan resmi.

Semuanya tentu saja tidak bertentangan dengan ajaran agama sepanjang dapat digunakan untuk menutup aurat, karena ide dasar dari perintah untuk berpakaian adalah untuk menutup aurat.

Jika tekstual hadist sebagai ancaman bagi orang menjulurkan sarung/celana di bawah mata kaki ditempatkan di neraka, maka selain Abu Bakar, bagaimana nasib para pemadam kebakaran yang pakaiannya menutup mata kaki. Demikian pula tentara dan polisi yang diharuskan menggunakan celana menutup mata kaki.

Sangat naïf bila mereka melipatnya ke atas dengan maksud untuk memperlihatkan mata kaki karena kelihatan ganjil. Lain halnya bila berjalan di genangan air, wajar bila melipatnya ke atas bahkan bisa digulung sampai sampai ke lutut.

Jadi dapat diambil kesimpulan menurut penjelasan diatas Laa Isbal atau tidak menutup sampai mata kaki adalah sunah .
Yang jelas , justru jangan sebaliknya , hanya karena memakai celana tidak isbal (cingkrang) malah menjadi sombong karena merasa paling benar dan paling nyunah .
Tapi meskipun begitu bagi anda jangan pernah membenci orang yang bercelana cingkrang karena itu sunah rosul , apalagi jika anda belum bisa melakukannya ( memakai celana tidak isbal ).

image

Wallahu a’lam

Semoga bermanfaat,
Wassallamu’allaikum…

Library : muslimmoderat

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: