Iklan
Oleh: masshar2000 | 3 Desember 2017

Mengenal Bendera Islam Ar-Rayah dan Al-Liwa

Assallamu’allaikum mass-miss sadayana

image

M2000 – Di beberapa kesempatan seperti acara keagamaan atau demo , bendera ini selalu muncul dan mungkin sebagian besar dari anda sudah melihatnya kemarin secara langsung atau melalui berita, pada saat aksi reuni 212 .
Disana terlihat ada sebuah bendera besar berwarna hitam bertuliskan kalimat syahadat, “La ilaha Illa al- Allah, Muhammad Rasul al-Allah”.

Bendera apakah itu ?

Sejatinya, yang namanya bendera merupakan sebuah simbol. Simbol adalah hal yang biasa dipakai untuk meringkas makna. Makanya setiap negara punya bendera masing-masing sebagai simbolnya, dengan warna yang berbeda-beda. Supaya khas. Karena, setiap negara memiliki keunikan masing-masing.

Bukan hanya negara saja ,  tetapi juga berbagai kelompok, organisasi, komunitas, lembaga, dan perusahaan biasanya memiliki simbol. Dan beberapa di antaranya ada yang diletakkan pada wujud berupa bendera.

Nah, kalau bendera yang di 212 tersebut, itu merupakan simbol umat muslim keseluruhan. Wajar saja, karena rukun iman yang pertama adalah mengucapkan kalimat syahadat tersebut.
Adapun namanya, adalah ar-Rayah.
Iya, bendera hitam besar bertuliskan syahadat itu namanya adalah ar-Rayah.
Di Indonesia sendiri , bendera tersebut identik dengan ormas terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang kini sudah dibubarkan , karena HTI sendiri memang tidak mempunyai bendera sendiri .

Entah ada maksud apa , organisasi sebesar  HTI yang lintas negara tersebut tidak mempunyai bendera sendiri dan selalu menggunakan bendera ar-Rayah tersebut .
Apakah ini memang disengaja oleh mereka supaya mendapat dukungan dari mayoritas muslim atau supaya tidak dilarang saat mereka berkumpul . Karena muslim akan marah saat benderanya disita apalagi kalau sampai dibuang begitu saja .
Kendati demikian di sejumlah negara Islam HTI sudah dicap sebagai ormas terlarang  , terlepas dari benderanya apa .

image

Mengenai bendera hitam ar-Rayah ini memang ada hadits yang menyebutkan .
Salah satunya berdasarkan hadits berikut; Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasai di Sunan al-Kubra telah mengeluarkan dari Yunus bin Ubaid mawla Muhammad bin al-Qasim, ia berkata: Muhammad bin al-Qasim mengutusku kepada al-Bara’ bin ‘Azib bertanya tentang rayah Rasulullah Saw seperti apa? Al-Bara’ bin ‘Azib berkata:

كَانَتْ سَوْدَاءَ مُرَبَّعَةً مِنْ نَمِرَةٍ

“Rayah Rasulullah Saw berwarna hitam persegi panjang terbuat dari Namirah.”

Dalam Musnad Imam Ahmad dan Tirmidzi, melalui jalur Ibnu Abbas meriwayatkan: “Rasulullah Saw telah menyerahkan kepada Ali sebuah panji berwarna putih, yang ukurannya sehasta kali sehasta. Pada liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang) terdapat tulisan ‘Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah’. Pada liwa yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam. Sedangkan pada rayah yang berwarna dasar hitam, tulisannya berwarna putih “.

Kalau umat muslim dulu sudah tidak perlu terlalu ‘masif diedukasi’ terkait bendera ini, karena bendera ini sudah biasa dilihat.  Tidak langka. Mungkin nyaris setiap hari ketemunya. Lantaran umat muslim dulu hidup dalam satu negara berdasarkan Islam yaitu Khilafah.

Soalnya pun hanya satu-satunya bendera inilah yang mereka cintai dan perjuangkan, karena memang dengan kalimat syahadat itu mereka senaniatasa semangat belajar Islam, mengamalkan Islam, hingga mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru dunia.

Bendera Islam satunya adalah al-Liwa.
Al-Liwa itu nyaris persis seperti ar-Rayah, hanya beda warna saja. Kalau ar-Rayah latar belakangnya berwarna hitam, kemudian tulisannya berwarna putih. Kalau al-Liwa; sebaliknya ,latar belakangnya berwarna putih, kemudian tulisannya berwarna hitam.

Berikut ini beberapa hadits lainnya terkait al-Liwa dan ar-Rayah.

Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibn Majah telah mengeluarkan dari Ibn Abbas, ia berkata:

كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ

“Rayah Rasulullah Saw berwarna hitam dan Liwa beliau berwarna putih.”

Imam An-Nasai di Sunan al-Kubra, dan at-Tirmidzi telah mengeluarkan dari Jabir:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «دَخَلَ مَكَّةَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ

“Bahwa Nabi Saw masuk ke Mekah dan Liwa’ beliau berwarna putih.”

Ibn Abiy Syaibah di Mushannaf-nya mengeluarkan dari ‘Amrah ia berkata:

كَانَ لِوَاءُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْيَضَ

“Liwa Rasulullah Saw berwarna putih.”

Saat Rasulullah Saw menjadi panglima militer di Khaibar, beliau bersabda:

لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ أَوْلَيَأْخُذَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ أَوْ قَالَ يُحِبُّ الله َوَرَسُولَهُ يَفْتَحُ اللهُ عَلَيْهِ فَإِذَا نَحْنُ بِعَلِيٍّ وَمَا نَرْجُوهُ فَقَالُوا هَذَا عَلِيٌّ فَأَعْطَاهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّايَةَ فَفَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ

“‘Sungguh besok aku akan menyerahkan ar-râyah atau ar-râyah itu akan diterima oleh seorang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya atau seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mengalahkan (musuh) dengan dia.’. Tiba-tiba kami melihat Ali, sementara kami semua mengharapkan dia. Mereka berkata, ‘Ini Ali.’. Lalu Rasulullah Saw memberikan ar-rayah itu kepada Ali. Kemudian Allah mengalahkan (musuh) dengan dia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Fungsi dan peggunaannya

Jadi, itu tadi kan, al-Liwa merupakan bendera resmi Daulah Islam di masa Rasulullah Saw dan para Khalifah setelah beliau Saw.
Ini adalah kesimpulan dari Imam al-Sarakhsiy, dan dikuatkan dalam kitab Syarh As-Sair al-Kabir, karya Imam Muhammad bin al-Hasan as-Syaibaniy.

Disimpulkan bahwa, “Liwaa adalah bendera yang berada di tangan Penguasa. Ar-Raayah, adalah panji yang dimiliki oleh setiap pemimpin divisi pasukan, di mana semua pasukan yang ada dalam divisinya disatukan di bawah panji tersebut. Liwaa hanya berjumlah satu buah untuk keseluruhan pasukan.
Liwaa digunakan sebagai patokan pasukan ketika mereka merasa perlu untuk menyampaikan keperluan mereka ke hadapan penguasa (Imam). Liwaa dipilih berwarna putih. Ini ditujukan agar ia bisa dibedakan dengan panji-panji berwarna hitam yang ada di tangan para pemimpin divisi pasukan.”

image

Jadi sudah jelas bukan , bendera tersebut merupakan benderanya umat muslim . Jangan dianggap asing , karena memang sudah saatnya umat muslim membiasakannya kembali.
Maka, silahkan saja, siapapun Anda sangat boleh untuk memiliki bendera tersebut, memegangnya, mengangkatnya, mengibarkannya, dan tentu saja untuk tujuan kebaikan asal jangan ditambahi tulisan Hitsbut Tahrir Indonesia karena pasti anda akan ditangkap pihak berwenang karena HTI merupakan organisasi terlarang .

Jadi saya berpesan , bendera ar-Rayah dan al-Liwa ini adalah bendera identitas umat muslim , jadi seharusnya memang digunakan untuk kebaikan .
Akan menjadi salah jika orang atau massa ormas membawa bendera ini untuk ” menyerang ” pemerintah yang sah di negara tercinta Indonesia ini .

Semoga bermanfaat ,
Wassallamu’allaikum …

Iklan

gunakan suaramu

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: