Buya syafii – Tetap Mengantri di Rumah Sakit Yayasan yang Pernah Dipimpinnya

image
Dua tokoh bangsa yang " sudah selesai dengan dunianya "

Masshar2000.Com – Salah satu sosok atau tokoh yang pantas dijadikan teladan di negri ini adalah Ahmad Syafi’i Maarif atau biasa disebut buya Syafi’i.
Beliau adalah mantan Ketua Umum Muhammadiyah , organisasi agama terbesar di negri ini .

Masa mudanya , beliau bahkan menolak berbagai jabatan yang diberikan pemerintah .
Setelah tidak menjabat Ketum Muhammadiyah beliau memilih pulang kampung di Yogyakarta . Alasannya sederhana , beliau hanya ingin tinggal dikampung halamannya dan tetap bisa berdakwah .
Uniknya , beliau masih suka berdakwah naik sepeda ontel jika tempatnya tidak jauh dari rumahnya .
Banyak kalangan menyebut beliau adalah orang yang sudah selesai dengan dunianya .
Dengan kata lain , beliau hanya ingin mengabdi pada sang pencipta dengan berdakwah .

Sosoknya yang sudah tua tidak membuatnya malas-malasan dan ingin di istimewakan .
Dari sebuah pantauan , buya kedapatan tengah mendekati meja petugas dan bertanya “Masih lama saya antrinya?”.
Sembari berjalan memeriksa lokasi chek up si pegawai menjawab “Masih pak,  karena lagi banyaknya pasien,”.
Mungkin itu percakapan biasa di sebuah rumah sakit. Namun bayangkan jika sosok tua itu adalah Buya Ahmad Syafii Maarif, ketua umum PP Muhammadiyah 1997-2005,  dan rumah sakit yang dimaksud adalah RS PKU Muhammadiyah, rumah sakit milik organisasi yang dulu pernah dipimpin oleh Buya Syafii.

image
Buya mengantri di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Buya pun kembali duduk di deretan bangku antri pasien. Sama seperti kebanyakan pasien lainnya. Biasanya setiap jadwal chek-up rutin, Buya mengantri seorang diri.
Sosok berusia 83 tahun itu tidak menunjukkan wajah marah meski harus antri lama. Apalagi merasa harus diperlakukan istimewa. Justru Buya tak pernah mau diperlakukan lebih dan diprioritaskan.

Para pegawai RS PKU mungkin pernah ingin memberi akses terlebih dahulu ke Buya Syafii, dan para pasien lain tentu akan sangat memaklumi. Justru Buya-nya sendiri yang tidak mau diistimewakan seperti ini. Berkebalikan dengan layaknya kebanyakan elit dan para pejabat hari ini, senang dan minta untuk terus dilayani.

Bukan kali ini saja, sudah berulang kali di berbagai tempat, Buya Syafii membuat banyak orang terkagum-kagum. Pernah ‘terciduk’ makan di angkringan, membeli sabun cucian di warung, berangkat ke acara seminar dengan mengayuh sepeda, naik kereta umum ke Istana Negara, hingga momen lain berbaur dengan rakyat jelata.

image

Semua itu menjadi biasa bagi Buya. Namun sangat tidak biasa di tengah situasi bangsa yang kerap kehilangan teladan dan kearifan. Para elit justru mempertontonkan kemewahan dan keserakahan di tengah kesengsaraan rakyat. Minta dilayani dan diperlakukan melangit, padahal konstribusinya untuk bangsa sungguh tidak seberapa

image
Buya naik KRL ke istana Bogor

Kelembutan yang dibawakan beliau bagaikan mutiara di tengah tumpukan sampah, dan kepada orang seperti beliaulah para pejabat negeri ini seharusnya banyak belajar. Orang seperti itulah yang patut disebut Ulama

Salam hormat Pak Buya Syafii Maarif.

Library : @indonesiavoice

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s