Kapitra Ampera – Kalau Saya Caleg PDIP , Lalu Saya Murtad ?

image

M2000 – Lagi-lagi jendral perang oposisi membelot dan mendukung PDIP .
Setelah Ali Ngabalin , Idrus Marham dan yang terakhir TGB , kini publik dibuat tercengang , karena salah satu jendral perang oposisi yang tidak kalah pedas kalau mengkritik Jokowi akhirnya luluh dan masuk ke radar PDIP .

Dia adalah pengacara Rizieq Shihab Kapitra Ampera yang selama ini selalu berseberangan dengan Jokowi sejak ada kasus penistaan Ahok .
Seperti dikatakan sekjen PDIP dan juga kader PDIP lainnya , nama Kapitra Ampera diusulkan oleh kader PDIP dari Riau untuk maju nyaleg dari dapil Riau .
Bahkan Arya Bima mengatakan , Kapitra akan dapat nomor khusus dan mengatakan di Riau PDIP selalu dapat kursi minimal satu .Dan diharapkan dengan masuknya Kapitra akan mendapatkan minimal dua kursi dan selama  pemilu langsung PDIP selalu mendapatkan kursi . Artinya dapil Riau bukanlah dapil neraka bagi PDIP .

Advokat Kapitra Ampera akhirnya bicara panjang-lebar soal kabar menjadi caleg Pemilu 2019 lewat daerah pemilihan (dapil) Riau itu .
Kapitra mengaku siap menjadi caleg, tapi harus lebih dulu memastikan kabar dirinya dicalegkan PDI Perjuangan di dapil tersebut yang sebelumnya diisukan dipasang di dapil SumBar .

“Saya hari ini mencoba berkomunikasi dengan DPP PDIP, terus terang saya belum pernah bertemu satu orang pun dari DPP dan saya juga belum pernah bertatap muka bertemu bicara dengan Sekjen PDIP dan saya ingin bertanya langsung apa betul saya dicalonkan melalui dapil Sumbar? Ini penting bagi saya dan ini saya belum dapat konfirmasi langsung,” kata Kapitra kepada wartawan Masjid Raya Al-Ittihat, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (18/7/2018) seperti dikutip dari detik.Com

Berikut ini tanya (T)-jawab (J) Kapitra Ampera dengan wartawan:

T: Soal ramai di media Anda nyaleg bagaimana?
J: Memang saya menyadari bahwa hari ini, kemarin, saya menyadari saya sudah menjadi milik banyak orang sehingga apa yang harus dilakukan, apa yang harus saya lakukan atau yang akan dilakukan atau yang belum dilakukan menjadi milik publik juga.
Saya ingin katakan bahwa saya latar belakang seorang profesional. Saya orang yang selama ini bebas tidak terkait dengan partai politik mana pun, dan juga tidak terkait dengan organisasi mana pun kecuali organisasi profesi.

Karena saya prinsip membela ulama, saya menegakkan agama saya tentu saya harus punya komunikasi politik dan komunikasi politik ini belum terbangun belum ada komunikasi politik dan saya ingin katakan bahwa ladang amal itu nilainya di tempat-tempat yang sulit di tempat yang minoritas, di tempat komunitas yang begitu banyak persepsi.

Untuk itulah saya mempertimbangkan sehingga saya berkomunikasi dengan para ulama itu yang saya ingin lakukan termasuk ulama yang ada di Mekah dan saya juga mencoba juga beristikharah.
Kalau perjuangan kekuasaan menjadi caleg, saya katakan saya nggak mau jadi caleg, kalau hanya menjadi caleg untuk apa. Tetapi kalau bisa bermanfaat bisa menjadikan membangun sebuah ukhuwah menjadikan republik ini lebih damai.

T: Anda bersedia dicalonkan PDIP?
J: Saya ingin mengatakan bahwa kalau saya punya manfaat dan ladang amal dan bisa menjembatani kebaikan, saya siap berkorban untuk itu. Tetapi kalau hanya cuma naruh nama saya saja dan tidak punya nilai apa-apa tidak dapat memberi warna, untuk apa.
Jadi kita harus melihat fungsional, kita harus melihat fungsi kita itu bermanfaat tidak buat banyak orang bukan buat satu kelompok. Karena kalau tidak bermanfaat untuk apa?

T: Status caleg Anda bagaimana?
J: Saya tentu tanya kepada yang mencalonkan. Saya belum pernah minta minta dicalonkan, sama partai apapun . jadi kalau ada yang ngomong bahwa saya pernah ke partai ini lalu dia tidak bersedia, tidak pernah itu.

T: Sikap Anda bagaimana, bisa dikatakan (penyebutan caleg) ini pencatutan nama?
J: Oh, nggak begitu. Saya katakan tadi ada yang merekomendasi dan meminta

T: Tapi belum persetujuan?
J: Saya amat mempertimbangkan itu tapi harus ada komunikasi politik

T: Yang meminta siapa?
J: Saya tidak etis menyebutkan itu

T: Dari DPP PDIP?
J: Teman, sahabat, abang-abang yang saya hormati selama ini

T: Dari PDIP?
J: Wallahualam. Tapi saya ingin jelaskan bahwa saya belum pernah berkomunikasi dengan DPP secara langsung, dengan DPP PDIP ya toh. Itu sudah menjadi suatu jawaban, tapi bagi saya yang penting adalah mau konfirmasi, ingin konfirmasi apa betul pencalonan saya sebagai caleg dari Sumbar.

T: Kalau caleg wajib memberikan berkas-berkas (pencalonan), itu belum Anda lakukan?
J: Jadi begini saya ingin konfirmasi kepada orang yang mencalonkan saya. Saya ingin konfirmasi dan saya lagi mencoba minta tolong untuk bisa bertemu dan ingin tanya langsung.
Kalau saya ketemu, tentu saya bisa menjelaskan karena ini kan saya baru dengar, kemarin saya dengar, saya ambil kesimpulan saya dicalonkan melalui Sumbar. Maka saya tanya apa betul itu, karena saya tidak pernah ditanya mencalonkan dari dapil Sumbar.

T: Apakah itu inisiatif PDIP dan Anda tidak memberikan berkas (pencalonan)?
J: Ini kesimpulan, bagaimana saya memberi suatu statement yang konkret kalau saya belum ketemu orangnya. Saya (mau) tabayun sama orangnya, apa benar Anda calonkan saya dari dapil Sumbar.

T: Apa ada berkas yang diserahkan dan ditandatangani terkait pencalonan?
J: Itu saya tanya dulu ya.

T: Anda pernah menyerahkan berkas?
J: Saya ingat-ingat dulu. PDIP di mana ya (Kapitra bertanya balik ke wartawan).

T: Anda akan datang ke PDIP?
J: Nggak, saya nggak tahu.

T: Banyak suara umat yang menyebut Anda menyeberang. 212 dikenal oposisi, mengapa Anda mencalegkan dari partai pemerintah?
J: Ini mulai kesimpulan, itu kesimpulan. Ada aksi bela Islam dan saya masuk di dalamnya saya bagian sekrup kecil dari Bela Islam, apa yang dibela agama atas penistaan seseorang. Apakah itu selesai? Selesai.
Setelah ada aksi Bela Islam muncul ekses, muncul ekses dari beberapa ulama yang dikatakanlah dikriminalisasi dan saya terlibat melakukan pembelaan ya.

Dan setelah penista agama diadili, dihukum, muncul ekses dan saya ikut terlibat dan sekarang alhamdulillah sudah clear. Sudah di-SP3, dilepaskan dan sebagainya, lalu masalahnya apa dengan saya? Apa saya berkhianat? Tidak. Masalahnya apa buat saya? Kan sudah clear. Sekarang oposisi, yang oposisi parpol bukan?
Artinya apa proses Bela Islam saya jalani ya, saya ikuti apa yang bisa saya lakukan saya lakukan dn saya tidak terikat organisasi mana pun parpol mana pun.
Kalau tanya saya siapa calon presiden Pak ustaz? Habib Rizieq Syihab.

T: Bagaimana dengan PA 212?
J: Saya bukan pengurus Persaudaraan 212. Dulu penasihat, sekarang tidak. Menurut ketuanya saya penasihat hukum, jadi tetap profesinya.
Saya berkomunikasi dengan banyak ulama, saya juga menghubungi Habib Rizieq Syihab. Belum ada respons dan komentar, saya lagi tunggu karena baru tadi malam hubunginnya.

T: Ada hubungan dengan SP3 kasus Habib Rizieq?
J: Apa hubungan ini? Saya sebagai personal, sebagai praktisi hukum, nggak ada kaitannya. Jangan seolah-olah saya dibarter, jadi korban saya. Nggak ada itu, saya menjalankan profesi secara profesional.
Saya mau konfirmasi lalu saya juga harus punya komunikasi politik. Bisa nggak saya bermanfaat untuk semua orang di dalam dan luar partai dan saya juga membawa aspirasi umat Islam dong, bisa nggak ditampung di parpol.

T: Kalau cocok, lanjut?
J: Wallahualam saya kan belum komunikasi.

T: Di KPU pencalonan kemarin bagaimana?
J: Itu dia saya mau konfirmasi.

T: Sudah hubungi siapa saja?
J: Saya mau langsung ke Pak Sekjen (Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto), tapi saya belum bertemu seumur hidup saya.

T: Belum komunikasi langsung selama ini dengan pihak PDIP?
J: Begini deh saya mau konfirmasi sama orangnya. Saya mau konfirmasi dulu, kalau ini sudah real saya mau minta pertimbangannya apa? lalu bagaimana saya dan agama saya bela baru saya ngomong.
Nanti akan saya sampaikan saya menerima dan menolak. Ini kan baru bacaleg lalu caleg dan lain-lain, jadi terlalu cepat.

T: Ada tanda tangan dari pihak PDIP?
J: Makanya saya mau tanya berkas saya apakah masuk ke KPU, siapa yang masukin, makanya saya mau tanya dulu.

T: Pencatutan jadinya?
J: Nggak ada itu. Begini saya ingin katakan bahwa saya belum pernah bertemu dengan Hasto dari saya lahir sampai sekarang belum pernah telepon.
Saya sudah bilang, saya ingin tegaskan saya pernah direkomendasi dan diminta.

T: Untuk dapil Sumbar?
J: Ngarang saja lu. Saya diminta masuk ke PDIP untuk memberikan warna lain.

T: Kapan itu?
J: Sebulan lalu.

T: Oleh siapa?
J: Dari sahabat dan abang-abang yang saya hormati.

T: Keberatan dijadikan caleg?
J: Saya belum bisa katakan. Saya bukan tokoh sentral dan bukan ulama.

T: Syaratnya apa?
J: Saya ini harus mewakili keislaman saya di dalam. Kedua, mayoritas di republik ini orang Islam dan aspirasi harus didengar. Saya harus bisa menjadi jembatan kebaikan orang dalam dan luar. Kebaikan itu banyak hal, aspirasi banyak hal, harus ada tindak lanjut aspirasi itu.
Kalau tiga hal ini dipenuhi saya ikut. Jangankan caleg, jadi apa saja mau. Kenapa saya dipilih? Ini pasti ada karena aktivitas saya atau aktivitas pribadi. Yang saya bawa aktivitas agama saya, makanya saya punya komunikasi politik.

T: Tidak merasa dimanfaatkan?
J: Oh tidak
Saya tegaskan aksi 212 sudah clear dan clean. Lalu ada kriminalisasi ulama, saya bagian penerima kuasa. Tapi sudah ada yang keluar dan di-SP3 jadi clear.
PDIP katanya dibenci masyarakat tapi di lapangan di daerah berkoalisi dengan partai mendukung aksi Bela Islam. Itu urusan mereka dan umat. Urusan saya tanggung jawab kepada Tuhan saya dan umat.

T: Selain PDIP ada yang menawarkan caleg?
J: Nggak ada, cuma PDIP.

T: Posisi sekarang mengklarifikasi?
J: Saya ingin konfirmasi, tidak ada partai lain selain PDIP.

T: Diminta jawab apa?
J: Itu yang tiga hal. Kalau tiga hal itu direalisasikan, why not.
Katakanlah kalau umpamanya saya caleg PDIP, lalu saya murtad? Saya kafir? Saya munafik? Yang benar aja dong.

image

T: PDIP dituduh partai komunis?
J: Itu Anda yang bilang hati-hati loh. Kita ini punya manfaat nggak bagi banyak manusia, bisa bermanfaat tidak. Kita ini berada dalam dua sisi, kita dengan kemanusiaan, kita dengan Tuhan kita.
Ini ada tanggung jawab, dua-dua punya tanggung jawab. Jangan cepat nge-judge orang ya toh.

Berarti kalau gue masuk PDIP gue cebong dong? Ngarang aja. Gue nggak boleh ke masjid dong? Kata siapa?
Berapa persen orang Islam yang pilih PDIP dan berapa persen orang di struktur PDIP itu orang Islam? Kalau nggak salah data dari yang saya baca dari statement, siapa itu kemarin di TV, 70 persen katanya dia melakukan penelitian. Dia bilang 70 persen strukturnya orang Islam, nah gimana?

T: Yang dukung pemerintah dituduh Syiah?
J: Berapa persen orang Syiah di sini? Berapa persen JIL, berapa persen Syiah, berapa persen orang yang milih Jokowi sebagai presiden.

T: Ketika Anda pindah PDIP…?
J: Saya tidak pindah, saya ada di masjid ini.

T: PDIP yang mencalonkan?
J: Satu-satunya parpol yang mencalonkan saya PDIP

T: Kalau tiga poin (syarat) terpenuhi?
J: Saya masuk PDIP.

T: Artinya Anda siap mendukung Jokowi?
J: Oo… saya katakan ini pencalegan, ini pencalegan. Saya dukung Habib Rizieq Syihab, saya ingin Habib Rizieq Syihab jadi presiden, bukan yang lain.

T: Tapi kan Habib Rizieq Syihab sampai sekarang belum ada parpol yang mencalonkan?
J: Itu dia kenapa partai-partai tidak mencalonkan dia, itu satu kemarahan saya, dia yang jungkir balik, dia yang berdarah-darah lalu orang lain dicalonkan presiden, saya nggak rela juga.

T: Habib Rizieq Syihab nggak mau jadi presiden katanya?
J: Itu HRS, tapi kita umat (keinginan umat).

Kita sebagai umat Islam kecewa dong kenapa sih waktu di-polling, Habib Rizieq Syihab direkomendasi PA 212 kok, (urutan) pertama namanya. Tapi nggak pernah dibicarakan, dibilang elektabilitas sekian.
Saya tidak bicara Prabowo, saya bicara parpol yang katanya mendukung aksi bela Islam tapi tidak mau mencalonkan Habib Rizieq Syihab.

T: Anda kecewa dengan hal itu?
J: Kecewa.

T: Bila Anda di PDIP, tapi tidak dukung Jokowi?
J: Nggak ada urusan, urusan gue konteks ini.

T: Ada yang menyatakan PDIP tidak takut ditinggalkan umat, tapi di daerah jeblok. PDIP disebut ketakutan, lalu Anda ditarik?
J: Saya saja belum tentu dipilih orang, emang saya pengaruhnya apa? Kalau Habib Rizieq Syihab, Bachtiar Nasir pengaruhnya besar.

Dari wawancara ini , sepertinya Kapitra masih malu-malu untuk mengakui bahwa dia memang mau dicalonkan karena memang sudah jauh-jauh hari dia mengetahui .
Dan salah satu syarat mendaftar adalah disertai surat SKCK dari kepolisian .
Jadi kalau ada nama Kapitra , artinya Kapitra sudah memberikan berkas-berkas mengenai dirinya , kan tidak mungkin orang PDIP mencuri berkas Kapitra di rumahnya . Jadi fix sudah ada deal , dicalonkan dan mau .

Malu tapi mau , itulah Kapitra Ampera , pengacara Rizieq Shihab yang nyaleg PDIP .
Dan kita akan lihat apakah Kapitra kebal terhadap hujatan dan fitnah yang akan di alamatkan kepadanya dari umat yang dulu mendukungnya .
Ngabalin sudah , TGB sudah …Saatnya bertarung pak bro…

BACA JUGA :

Pendiri PKS gabung ke PDIP

Simak videonya , biar gak dibilang hoax

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s