Tempat Nongkrong Ini Bangkrut Gara-Gara Pengunjung Kelamaan Nongkrong

image

Masshar2000.Com – Membuka bisnis atau peluang usaha memang harus dipikirkan dengan matang , agar uang besar yang kita keluarkan bisa menghasilkan rupiah yang lebih besar .

Nah , kalau ngomongin rupiah , kita akan meliput dunia usaha yang ada di Indonesia juga tentunya .
Di ibukota , ada salah satu merk dagang yang memang cukup dikenal kawula muda sebagai tempat nongkrong , namun uniknya tempat nongkrong ini bukanlah cafe atau semacamnya , tapi sebuah gerai mini market .
Mungkin sang pemilik ingin menggabungkan tempat belanja , sekaligus sebagai tempat nongkrong .

Ya , sejak dibuka pada tahun 2009 lalu di DKI Jakarta dan sekitarnya, gerai 7-Eleven (Sevel) akhirnya gulung tikar tahun lalu. Ada sedikit ironi dalam bangkrutnya sevel ini. Awalnya, sevel begitu populer karena menjadi tempat nongkrong anak muda.

Dikutip dari laman indozone.id (15/11/2018), sevel juga bangkrut karena anak mudanya kelamaan nongkrong dan hanya membeli produk seadanya dan itupun sudah bisa mendapatkan fasilitas wifi gratis .

Mereka bisa saja hanya membeli satu minuman atau roti, dan duduk di sana selama tiga jam,” ujar Research Manager Euromonitor International Adhitya Nugroho dilansir dari CNBC.

image

Sevel semakin terpuruk karena gagal bersaing dengan Alfamart dan Indomaret yang telah membuka ribuan outlet, sementara Sevel hanya membuka sekitar 190 toko hingga 2014.

Alfamart dan Indomaret juga sukses “menancapkan kuku” di kota-kota lain, sementara Sevel hanya berkembang di daerah DKI Jakarta saja. Sevel enggak berekspansi karena masalah peraturan. Di lain pihak, Alfamart dan Indomaret menghadapi aturan yang lebih longgar karena produk lokal.

Sevel juga dilarang menjual minuman keras pada tahun 2015, sehingga terkena dampak penurunan penjualan hingga 24%. Namun, Sevel masih belum menyerah dan berusaha mencari partner internasional agar tetap bisa beroperasi.

Berdasarkan pengakuan manajemen Modern International, Samsul mengatakan justru disebabkan oleh biaya sewa tempat, infrastruktur, serta syarat memenuhi ketentuan franchise.

Mayornya mungkin lebih pada biaya cukup berat, sewa, biaya infrastruktur persyaratan yang harus ditetapkan sebagai franchise cukup gede,” ujar dia seperti dikutip dari liputan6.Com

Dia menuturkan, penutupan ini merupakan risiko dari bisnis. Terlebih, perseroan juga mesti membayar utang bank.
Saya kira ini lebih pada risiko bisnis yang mereka hadapi. Biayanya sebagian besar utang, melalui perbankan. Dari sisi bisnis cukup bagus memang mereknya cukup kuat, lu (kamu) pada kalau lewat mampir situ,” tandas dia.

Sebelumnya, Fitch Ratings mengeluarkan riset bahwa penutupan gerai 7-Eleven lantaran risiko peraturan yang berkembang dan profil risiko dari model bisnis yang diterapkan.

Fitch melihat, bisnis model yang diterapkan oleh 7-Eleven di Indonesia diganggu oleh perkembangan peraturan yang kurang kondusif. Perusahaan menutup sekitar 25 gerai pada 2016 dibandingkan 2015 sekitar 20 gerai. Total gerai 7-Eleven sekitar 161 gerai pada 2016.

Penutupan gerai 7-Eleven menurut Fitch Ratings lantaran ada peraturan yang dikeluarkan Kementerian Perindustrian pada April 2015, yang melarang penjualan minuman beralkohol di ritel modern dan kecil. Padahal, kontribusi minuman beralkohol itu diperkirakan sekitar 15 persen untuk penjualan induk usaha 7-Eleven, yaitu PT Modern Internasional Tbk.

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s