Begini Cara Cuci Otak NII Untuk Merekrut Anggota

image

Masshar2000.Com – Selain PKI , di negara kita pernah juga ada pemberontakan besar DI/TII (NII) yang dipimpin Karto Suwiryo .
Kalau PKI berhaluan kiri Komunis yang anti agama , DI/TII berhaluan kanan memakai label agama .

Walaupun keduanya sudah ditumpas , namun bibit-bibit nya masih ada sampai sekarang .
Salah satunya adalah DI/TII yang ingin mendirikan negara Islam kini mereka memakai nama NII atau Negara Islam Indonesia .

Kamu pasti bertanya bagaimana mereka merekrut anggota ditengah situasi yang serba terbuka ini .
Dan mungkin modusnya seperti yang dilakukan para teroris selama ini , yaitu cuci otak dan tak jauh dari kata-kata negara thogut .

Nah daripada penasaran , kita simak saja pengakuan salah satu mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII), Ken Setiawan yang menceritakan kisahnya saat masih menjadi perekrut NII.

Kepada TribunSolo.com Ken menceritakan awal mula saat dirinya masuk keanggota NII pada awal tahun 2000.
Awal tahun 2000 saya ke Jakarta untuk ikut lomba silat, disitu saya ketemu teman saya yang sudah masuk NII, kita ngobrol dan akhirnya saya membatalkan lomba karate untuk ikut NII,” kata Ken.

Setelah itu Ken menjabat sebagai perekrut anggota baru, dengan sasaran utama anak muda yang mudah di konspirasi.

“Kita serang sisi psikologinya, jadi metodenya berbeda-beda kepada setiap orang,” ungkap Ken

Modus perekrutan yang dilakunya dengan menggunakan hukum Islam, yang ia korelasikan dengan realita bangsa Indonesia, sehingga seseorang berfikir jika Indonesia bukan negara yang ideal.

“Contohnya seperti ini, hukum Islam minuman keras itu halal atau tidak, kalau tidak mengapa di Indonesia masih menjual minuman keras, itu contoh sederhananya untuk membuat negara kta seplah-olah tidak ideal,” terangnya.

Tentu saja modus ini juga banyak kembangannya seperti , kenapa ada LGBT di negara ini , kenapa ada judi , pelacuran dan negara seolah-olah membiarkan , maka orang yang berpikiran dangkal akan mudah terpengaruh . Walaupun memang itu dilarang agama dan melanggar moral , namun sebenarnya kejadian ini memang terjadi dinegara manapun ,karena memang dunia ini ada hitam dan putih . Kalau tidak percaya , negara mana yang terbebas dari maksiat ?

image

Dengan pola pikir kaum milenial yang masih labil, dengan logika-logika seperti demikian, anak muda menjadi sasaran empuk untuk dicuci otaknya, ungkap Ken.
Perekrutan dilakukan tidak hanya di lingkungan masjid. Perekrutan juga dilakukan ditempat umum, seperti tempat makan, cafe, mall, dan sebagainya.

image

Ken menjelaskan, ciri-ciri orang yang sudah masuk anggota NII akan adanya perubahan perilaku seperti sering meminta uang kepada orang tuanya, menjual benda berharganya, membohongi orang tuanya supaya mendapat uang, pulang malam karena harus mengikuti bimbingan dari NII, dan susah dihubungi.

“Kalau kalangan mahasiswa paling sering bilang ke orang tuanya leptopnya ilang, menabrakan mobil atau motor temannya, lalu utangnya banyak kareng sering pinjam uang,” kata Ken.

Ken menjelaskan, untuk mengubah ideologi bangsa ini membutuhkan banyak uang, yang mana setiap tingkatan akan mensetorkan sejumlah uang ke ‘Ibu Kota‘.

Ibu kota yang dimaksud bukanlah ibu kota Republik Indonesia di Jakarta, melankan Ibu Kota NII di Indramayu, Jawa Barat.

“Kalau saya dulu, setiap bulan harus setor sebesar Rp 14 Millyar ke Ibu Kota, jadi untuk bisa target uang segitu kami menghalalkan harta orang kafir,” terang Ken.

Seiring berjalannya waktu, Ken mulai melihat kejanggalan-kejanggalan yang ada di dalam NII.

“NII kan mengkafirkan orang di luar anggota mereka, jadi banyak orang yang hamil di luar nikah atau menikah tanpa mendapat restu orang tuanya,” terang Ken.

Sampai akhirnya Ken bertemu temannya yang juga mantan anggota NII, dan mereka mulai bertukar pikiran yang membuat pikiran Ken terbuka pada tahun 2003.

“Di dalam NII kita tidak boleh bertanya, apapun perintahnya kita tinggal melakukan saja, dan kita juga gak boleh bertanya kepada orang luar, saat saya sharing dengan beberapa ustadz mengenai pemikiran-pemikiran, saya sadar jika saya salah,” terang Ken.

Saat ini Ken sibuk sebagai Ketua NII Crisis Center, yang bergerak dibidang rehabilitasi dan pendampingan mantan korban NII dan paham radikal lainnya.

“Kita memberikan pendampingan, karena korban ini biasanya stres, depresi, gila, bahkan jadi atheis. Oleh karena itu kami berusaha membuka pikiran masyarakat untuk kembali menerima korban, dan kami berikan kajian-kajian sesuai syariat Islam,” kata Ken.

image

Bayangkan sob , seorang perekrut harus menyetorkan uang upeti 14 miliar perbulan , uang dari mana coba .
Seandainya itu uang halal , bekerja apa mereka dan berapa ribu orang anggotanya .
Makanya tak heran jika korbannya rata-rata orang kaya atau anak orang kaya yang pemahaman agamanya masih dangkal .

Jika kamu merasa pintar dan masih bisa tercuci otanya , berarti fix kamu orang bodoh seperti yang dituturkan sang mantan tadi .

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s