Saat Jokowi Bangkrut

Masshar2000.com – Dalam urusun dunia , orang mengenal baik-buruknya orang dari rekam jejaknya .
Dalam hal pilkada misalnya kita akan memilih karena rekam jejaknya sebelum menjadi pemimpin , apakah dia aktif di organisasi , apakah dia seorang tokoh agama , tokoh masyarakat yang disukai dilingkungannya dan sebagainya . Begitu pula saat di pilpres , apakah sebelumnya dia kepala daerah yang sukses atau menteri atau tokoh nasional yang punya rekam jejak yang baik .

Maka tak heran jika Joko Widodo selalu menang dalam pilkada , bayangkan dua pilwalkot di ikuti dan dua-duanya menang , pilgub dia ikuti dan menang , pilpres dua kali dia ikuti dan menang , apakah ini kebetulan , apakah jokowi menang semuanya adalah curang , memangnya Jokowi dukunnya siapa , memangnya Jokowi dari pilkada Solo punya uang melimpah untuk membeli suara . Jawabannya adalah tidak , Jokowi menang karena dicintai mayoritas rakyat .Dan uniknya Jokowi ini satu-satunya presiden yang punya relawan dari berbagai golongan . Ya , relawan tanpa bayaran yang suka rela mendukungnya .

Saya pernah mendengar sendiri pernyataan mantan ketua umum PAN Sutrisno Bachir saat syukuran kemenangan Jokowi-Maaruf bersama relawan di Solo beberapa waktu lalu .
Di hadapan ribuan relawan , Sutrisno mengaku heran dengan Jokowi , bagaimana bisa dia menggerakkan ribuan relawan tanpa membayar untuk memenangkan dirinya .

Sutrisno membandingkan dirinya yang dulu saat menjadi ketua umum PAN berniat maju pilpres . Bayangkan hanya untuk memasang baliho dan iklan saja dia harus merogoh kocek milyaran , untuk membuat spanduk , tenaga memasang spanduk , buat kaos dan lain-lain , sedangkan Jokowi disetiap penjuru daerah ada relawan dan sponsor yang suka rela memberikan dana dan tenaga untuk mensukseskan jagoannya .

Tapi , tahukah kamu , sebelum sukses di pemilu 5 kali tanpa kekalahan , Jokowi pun pernah jatuh bangun saat merintis usaha mebelnya .

Di kios kecil yang berlokasi di Sekip, Kadipiro, Solo, lelaki itu setiap hari menggergaji, menyerut, dan mengecat kayu. Dia tidak sendirian. Dia bersama tiga karyawan lainnya. Tak ada seragam. Mereka tak berbaju. Mereka telanjang dada dengan keringat mengucur deras. Lelaki itu, *Joko Widodo*.

Pada masa itu, tahun 1989, dia baru saja punya anak bernama Gibran Rakabuming Raka . Dia sebelumnya bekerja sebagai staf di pabrik mebel milik Pakde Miyono, kakak dari ibunya. Tapi, niat untuk mandiri tumbuh dalam dirinya.

Pakde Miyono mendukung niat itu. Dia tahu lelaki kurus itu tak punya modal. Pakde lalu mengagunkan rumah kontrakan yang ditempati Jokowi ke bank. Dapat 30 juta. Sebanyak 15 juta dipakai untuk memperluas bisnis Pakde Miyono, sedang sisanya 15 juta dipakai untuk usaha baru Jokowi.

Jokowi merasa risih menerima kebaikan itu. Dia membayangkan dirinya gagal mengelola pinjaman itu. Tapi Pakde Miyono meyakinkannya. “Anggap pinjaman ini sebagai pelecutmu. Kalau tak ingin rumah Bapak hilang,” katanya.

Mulailah Jokowi mendirikan CV Rakabu. Dia menyewa kios kecil di Kadipiro. Dia merekrut tiga orang untuk jadi karyawan. Pengalaman selama kerja di pabrik milik pakde diterapkannya. Order mulai datang, tapi masih kecil-kecil.

Dia seorang pekerja yang tangguh. Dia sangat sering membawa pulang pekerjaan ke rumah. Istrinya Iriana bercerita kalau ruang tamu rumah kontrakan mereka menjadi semakin sempit dan kotor karena serbuk kayu di mana-mana.

Iriana jadi saksi kalau suaminya menggergaji kayu hingga tengah malam. Bahkan Gibran terbiasa bermain di tengah serbuk kayu, yang digergaji bapaknya.

Tahun 1990, Jokowi mendapat order dari seorang pengusaha di Jakarta. Nilainya cukup besar yakni 60 juta rupiah. Jokowi langsung mengeluarkan semua simpanan untuk dijadikan modal kerja.

Dia dan karyawan lembur hingga tengah malam untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Ketika semua meubel dikirim ke Jakarta, dia bernapas lega.

Setelah beberapa waktu, dia mulai gelisah. Tagihan itu tak dibayar-bayar. Bahkan pemesan jadi sulit dihubungi. Pemesan itu kabur. Uang 60 juta lenyap ditelan bumi. Jokowi pusing tujuh keliling.
Uang pinjaman dari Pakde Miyono belum dibayar. Tiba-tiba, uang operasional kerja hilang begitu saja. Dia benar-benar stres.

Kios ditutup. Dia tidak lagi berbisnis. Dia bekerja serabutan. Dia mengerjakan apapun, sepanjang itu halal. Yang penting asap dapur tetap mengepul. Situasi berat itu dilaluinya selama berbulan-bulan. Dia menggambarkan situasi itu sebagai periode paling pahit dalam hidupnya.

Namun dia tak ingin tenggelam dalam kepahitan itu. Setelah berbulan-bulan menderita, dia mulai bangkit. Dia membuka lagi kios Rakabu dan berusaha mendapat order.

Kepada pemesan, dia memohon agar bisa dibayarkan uang muka supaya dirinya bisa membeli bahan. Dengan uang pas-pasan, dia membeli kayu. Keuntungan didapat ketika pembeli melunasi pembayaran. Benar-benar perjuangan.

Pelan-pelan, keadaan mulai membaik. Jokowi bercerita kalau orang harus dibanting oleh cobaan berat dulu untuk bisa memaknai perjuangan. Orang harus terbiasa menghadapi hantaman agar bisa bangkit dan menemukan potensi terbaiknya.

Dia mulai membenahi desain, meningkatkan kualitas kerja, lalu mengemas dengan baik. Dia bergaul dengan para pengusaha lain. Dia mulai ikut pameran-pameran. Dia belajar bagaimana bisa ekspor meubel. Hingga akhirnya dirinya menjadi bagian dari pengusaha sukses yang memulai semuanya dari nol.

Jokowi saat menjajal ekspor mebel di Eropa dan saat menjadi presiden

Saya menemukan penggal kisah Jokowi ini dalam buku Menuju Cahaya yang ditulis Alberthiene Endah. Kisah Jokowi mengingatkan saya pada kalimat bijak bahwa orang hebat bukanlah mereka yang sejak kecil selalu berada di atas dan menjalani hidup dalam keadaan serba nyaman.

Orang hebat adalah mereka yang selalu bisa bangkit dari keterpurukan. Orang hebat mereka yang terbiasa bekerja dengan keras hingga keringat menetes, serta terbiasa menghadapi situasi sulit.

Orang hebat bukan mereka yang menerima hidup dengan nyaman ibarat jalanan landai. Tetapi mereka yang tertantang untuk berbuat sesuatu, mencari jalan nasib di setiap tetes keringat kerja keras.

Tak heran jika para tetua bijak di Makassar selalu berkata bahwa pelaut ulung tidak lahir di laut tenang, melainkan pada lautan yang selalu bergejolak, pada ombak yang selalu menghempas dan menelan, serta pada situasi kapal yang terombang-ambing dan nyaris karam.

Kini, dia yang pernah bangkrut dan terpuruk itu menjadi presiden, posisi yang tak pernah dibayangkannya. Dia mengemban amanah pada periode kedua untuk Indonesia yang sedemikian besar, plural, dan punya cita-cita menjadi negara besar.

Tapi, masih banyak orang yang menghina tampilan fisiknya yang biasa saja, serta keluarganya yang biasa-biasa. Ada banyak rumor tentang dirinya yang tak pernah bisa dibuktikan.

Tapi saya melihat ada optimisme yang tumbuh. Bahwa di tangan orang yang terbiasa berada di bawah, menjalani masa kecil di bantaran kali, hidup berpindah-pindah dari kontrakan satu ke kontrakan lain hingga anaknya besar itu, nasib negeri sedang diperjuangkan.

Dia memang penuh kelemahan. Tapi kisah-kisah perjuangan hidupnya, yang memulai sesuatu dari nol, adalah modal berharga untuk bangsa yang sedang bergerak ini. Pada dia yang keringatnya selalu menetes sejak muda itu, kita berharap bangsa ini selalu memiliki spirit unggul untuk masa depan yang gemilang.

Ngobrol disini !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s