Persahabatan Suharto dan Harmoko …Tidak Happy Ending

Masshar2000.com – Ada apa dengan tanggal 11 maret dan momen sejarah apa yang kamu ingat dengan tanggal tersebut ?

Ya ,tanggal 11 Maret seolah selalu identik dengan tanda tanya besar, mulai dari keaslian Supersemar hingga suatu hari pada tahun 1998. Ketua DPR/MPR Harmoko mengetuk palu dalam sidang Paripurna untuk mengesahkan Soeharto sebagai presiden ke 7 kalinya.

“Begitu palu diketukkan, bagian kepalanya patah”, kata almarhum Harmoko dalam buku kesaksiannya “Berhentinya Soeharto: Fakta dan Kesaksian Harmoko.” Insiden ini baru kali pertama terjadi dalam sejarah persidangan MPR. Namun Harmoko berusaha memendam firasat buruknya. Selaku salah satu tangan kanan Soeharto saat itu, dia harus tetap tampil percaya diri.

Tapi ujung sejarah berkata lain. Harmoko yang memulai dan juga yang mengakhiri. Pada 18 Mei 1998, dia bersama empat belas “all the president’s men” lainnya menolak untuk masuk ke dalam kabinet Soeharto. Harmoko membacakan deklarasi didampingi beberapa orang yang selama ini dikenal sebagai loyalis Soeharto, meminta presiden untuk mundur. Tiga hari kemudian, situasi yang tak nyaman membuat bisul politik Soeharto bernanah. Dia akhirnya mundur.

Mata rantai sejarah inilah yang membuat Soeharto – mungkin juga beserta keluarganya – sakit hati terhadap Harmoko dan tidak pernah mau menemuinya lagi. Bahkan menurut informasi yang berkembang Harmoko sampai tidak diijinkan melihat jenasah Suharto oleh keluarga Suharto .

Harmoko adalah mantan wartawan. Dia memiliki perusahaan media bernama Metro Pos yang membawahi Pos Kota dan Harian Terbit, surat kabar pagi dan sore paling populer pada masanya. Untuk itu dia ditunjuk oleh Soeharto sebagai Menteri Penerangan untuk sekian lama. Generasi yang lahir pada tahun 90-an mungkin kurang mengenalnya atau bahkan tidak mengenal wajah Harmoko yang hampir setiap hari tampil di televisi hanya pada masa kejayaan TVRI. Selaku Menpen, mulai dari pengumuman harga cabe keriting hingga pembredelan media berada di tangannya.

Pada masa Orde Baru, hidup di Indonesia memang hanya punya dua pilihan; mendukung Soeharto agar semua serba nyaman, atau jangan pernah berbicara negatif soal Soeharto sedikit pun. Kala itu, tembok seolah bisa mendengar dan alam bisa memfasilitasi atau malah mempersekusi. Harmoko sudah melakukan itu semua untuk Soeharto dan pernah merasakan kenyamanannya, lalu dibenci hingga keduanya meninggal.

Selamat jalan pak Harmoko ,

Libiary :@islah_bahrawi

Ngobrol disini !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s