ZAMAN WiS AKHIR


Masuk zaman apa sekarang?

Semenjak diutusnya Muhammad bin Abdullah menjadi Nabi, Allah Subhaanahu wa ta’ala sudah menvonis bahwa ummat beliau adalah ummat akhir zaman. Jadi pengertian akhir zaman itu sudah sejak diutusnya Nabi Muhammad Sallallahu
Alaihi wa Sallam (Saw) yang merupakan Nabi terakhir. Kenyataan bahwa kita adalah ummat akhir zaman menunjukkan bahwakita saat ini hidup di akhir zaman. Menurut hadits shahih, masa akhir zaman ini terbagi menjadi lima.

Pertama,

masa kenabian,
saat Rasulullah masih hidup.

Kedua,
masa Khulafaur Rasyidin, mulai Abubakar, Umar, Usman, dan Ali.

Ketiga,
masa raja-raja menggigit (maalikan ‘adhan), yaitu masa setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu sampai runtuhnya Daulah Khilafah Utsmaniyah (1924).

Keempat,
masa maalikan jabariyan (penguasa
diktator).

Kelima,
masa
kembalinya sistem khilafah.

Saat ini kita hidup di masa yang mana?
Sekarang masa penguasa
diktator, dan sedang hot-
hot-nya.
Dr keterangan di atas
sudah jelas sbntar lg
kita masuk tahap kelima
karena sedang terjadi
pergolakan penegakkan
khilafah di damaskus/
suriah/syria
Menurut yang saya dengar
dari paraastronom, komet
akan muncul tahun 2022.
Jadi kalau pada saat itu
muncul Imam Mahdi, sebuah
perhitungan yang sangat
mungkin. Bisa jadi
kemunculan Imam Mahdi
justru akan lebih
cepatdaripada itu. Apa
ciri-ciri khusus Imam
Mahdi itu?Menurut
Rasulullah Saw, namanya
seperti nama Rasulullah
dan ayahnya pun sama
dengan ayah Rasulullah.
Ia juga disebut- sebut
ngomongnya kurang lancar,
sehingga kalau bicara
harus menepuk pahanya
dulu. Apakah itu berarti
ia gagap, wallahu a’lam.
Saat muncul, Imam Mahdi
berusia berapa? Kira-
kira seusia Nabi ketika
pertama kali perang.
Rasulullah pertama kali
perang ketika usianya
sekitar 55 tahun, Perang
Badar. Kalau begitu, saat
ini sebenarnya Imam Mahdi
sudah ada ya? Ya, sudah
ada, tapi oleh Allah Swt
belum dimunculkan. Kalau
sekarang kita tidak tahu
Imam Mahdi itu siapa,
bukan hal yang aneh,
karena memang ia fenomena
yang akan muncul
mendadak. Bukankah sudah
ada beberapa orangyang
mengaku sebagai Imam
Mahdi? Tidak bisa. Imam
Mahdi itu dibaiat oleh
313 pemuda di Kabah.
Jumlah itu sama dengan
pasukan Perang Badar.
Baiatnya bersifat
terbuka, meskipun
sebenarnya Imam Mahdi
enggan dijadikan
pemimpin. Kalau ada yang
mengaku-aku Imam Mahdi,
itu omong kosong.
Apakah kelak Imam Mahdi
akan memimpin
kekhalifahan Islam? Ya.
Sebelum itu ia akan
memimpin beberapa
peperangan dalam rangka
meruntuhkan Tatanan Dunia
Baru ini. Perang
meruntuhkan maalikan
jabariyan (penguasa
diktator) ini dimaksudkan
untuk
mewujudkan The Next World
Order (Tatanan Dunia
Kelak). Peperangan apa
saja itu? Ada empat
perang besar. Pertama,
perang melawan penguasa
semenanjung Arab. Kaum
Muslimin menang. Kedua,
perang melawan penguasa
zhalim Persia, juga
menang. Ketiga, pe rang
melawan Rum atau Eropa,
juga menang. Terakhir
perang melawan Dajjal dan
70 ribu tentara Yahudi.
Ketika Imam Mahdi sedang
berkonsolidasi di
Damaskus (Suriah), waktu
shalat Shubuh tiba.
Iqamat dikumandangkan,
lalu Imam Mahdi hendak
maju menjadi imam. Muncul
tanda besar kedua akan
terjadinya hari kiamat,
yaitu Isa eAlaihissallam
(As) turun di Menara
Putih, masjid sebelah
timur Damaskus.
Imam Mahdi memohon agar
Isa yang menjadi imam
shalat. Namun Isa As
menolak, “Demi Allah,
inilah kelebihan ummat
Muhammad, sebagian
engkau menjadi pemimpin
sebagian ummat lainnya.
Engkau pemimpin ummat
ini, Imam Mahdi, Engkau
yang memimpin shalat. Aku
menjadi ma’mum.” Sesudah
shalat, mereka bertolak
menuju hari bertemunya
dua pasukan. Yaitu
pasukan kaum Muslimin
yang dipimpin Imam Mahdi
dan Nabi Isa As, melawan
pasukan Yahudi yang
dipimpin Dajjal. Perang
ini terjadi dimana?
Persisnya saya tidak
tahu, tetapi tidak jauh
dari Baitul Maqdis.
Menurut hadits, ketika
melihat Isa As dari
kejauhan, Dajjal
“mengkerut” lalu
berusaha kabur. Ia
dikejar terus oleh Nabi
Isasampai akhirnya
terbunuh di pintu Lod,
salah satu pintu masuk ke
Baitul Maqdis.
Dajjal tewas t
ertusuk tombak. Nabi Isa
As lalu mengangkat
tinggi-tinggi tombak
itu, supaya orang-orang
yang selama ini percaya
pada Dajjal dan
menganggapnya sebagai
Tuhan, menyadari bahwa
sikap itu keliru.
Kekhalifahan nanti
pusatnya dimana?
Pusatnya di Baitul
Maqdis. Setelah umur
ummat Islam berakhir, apa
yang terjadi kemudian?
Menurut hadits, setelah
khilafah berdiri,
kemakmuran akan terjadi
dimana-mana. Pada masa
itu tetap ada orang
kafir, sampai pada masa
tertentu Allah Swt
mendatangkan tanda akhir
zaman, yaitu hembusan
angin sepoi-sepoi dari
arah Yaman (selatan). Itu
terjadi setelah wafatnya
Isa Ibnu Maryam. Semua
orang Islam, hatta yang
hanya punya keimanan
sebiji zarah, akan
menghirup udara itu dan
meninggal dengan damai.
Berakhirlah umur ummat
Islam. Di dunia tinggal
ummat yang kafir ” 24
karat ”
diisyaratkan Nabi sejak
berabad-abad yang lalu.
Kata Rasulullah Saw,
“Dajjal tidak akan muncul
sebelum ummat manusia
lupa membicarakan Dajjal
dan imam-imam di mimbar
pun tidak menerangkan
lagi tentang Dajjal.”
Rasulullah juga sudah
menganjurkan agar kita
berdoa usai membaca
tahiyat akhir di setiap
shalat, seperti
diriwayatkan Imam
Bukhari. Isi doa itu
adalah permohonan agar
kita terhindar dari
fitnah jahanam, fitnah
dunia, dan fitnah Dajjal.
Wallau’alam.

Nih gan do’a nya
Dari Abu Hurairah,
Rasulullah bersabda,
“Jika salah seorang di
antaramu telah selesai
membaca tasyahud akhir,
hendaklah ia memohon
perlindungan kepada Allah
dari empathal, dengan
membaca:
Alloohumma inni a’uuzu
bika min ‘azaabil qabri,
wa min ‘azaabi jahannam ,
wa min fitnatil mahyaaa
wal mamaati, wa min
syarri fitnatil masiihid
dajjaal
Ya Allah, aku berlindung
kepada Mu darisiksa
kubur, dari siksa neraka
jahannam, dari fitnah
hidup dan mati, dan dari
fitnah dajjal.

mudah2an bermanfaat and keep istiqamah.

Apakah Hajar Aswad itu? Mari mempelajari lebih jauh…


Hajar Aswad,
<img androi

Kisah
Sebongkah Batu
Dari Surga
Hajar Aswad, dahulu berbentuk
satu bongkahan. Namun setelah
terjadinya penjarahan yang
terjadi pada tahun 317H, pada
masa pemerintahan al Qahir
Billah Muhammad bin al
Mu’tadhid dengan cara
mencongkel dari tempatnya,
Hajar Aswad kini menjadi
delapan bongkahan kecil. Batu
yang berwarna hitam ini berada
di sisi selatan Ka’bah.
A. Asal Usul Hajar Aswad
Perlu diketahui bahwa hajar
aswad adalah batu yang
diturunkan dari surga.
Asalnya itu putih seperti
salju. Namun karena dosa
manusia dan kelakukan orang-
orang musyrik di muka bumi,
batu tersebut akhirnya
berubah jadi hitam.
ِﻦَﻋ ِﻦْﺑﺍ ٍﺱﺎَّﺒَﻋ َﻝﺎَﻗ َﻝﺎَﻗ
ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ- ﻪﻠﻟﺍ
ﻪﻴﻠﻋ -ﻢﻠﺳﻭ » َﻝَﺰَﻧ ُﺮَﺠَﺤْﻟﺍ
ُﺩَﻮْﺳَﻷﺍ َﻦِﻣ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ َﻮُﻫَﻭ ُّﺪَﺷَﺃ
ﺎًﺿﺎَﻴَﺑ َﻦِﻣ ِﻦَﺒَّﻠﻟﺍ ُﻪْﺗَﺩَّﻮَﺴَﻓ
ﺎَﻳﺎَﻄَﺧ « َﻡَﺩﺁ ﻰِﻨَﺑ
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu
‘anhuma, ia berkata bahwa
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Hajar aswad turun dari surga
padahal batu tersebut begitu
putih lebih putih daripada
susu. Dosa manusialah yang
membuat batu tersebut menjadi
hitam”. ( HR. Tirmidzi no.
877. Shahih menurut Syaikh Al
Albani)
ِﻦَﻋ ِﻦْﺑﺍ ٍﺱﺎَّﺒَﻋ َّﻥَﺃ َﻝﻮُﺳَﺭ
ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ- ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ
-ﻢﻠﺳﻭ َﻝﺎَﻗ » ُﺮَﺠَﺤْﻟﺍ ُﺩَﻮْﺳَﻷﺍ
َﻦِﻣ َﻥﺎَﻛَﻭ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ًﺎﺿﺎَﻴَﺑ َّﺪَﺷَﺃ
َﻦِﻣ ِﺞْﻠَّﺜﻟﺍ ﻰَّﺘَﺣ ُﻪْﺗَﺩَّﻮَﺳ
ﺎَﻳﺎَﻄَﺧ .ِﻙْﺮِّﺸﻟﺍ ِﻞْﻫَﺃ
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu
‘anhuma, ia berkata bahwa
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Hajar aswad adalah batu dari
surga. Batu tersebut lebih
putih dari salju. Dosa orang-
orang musyriklah yang
membuatnya menjadi
hitam.” (HR. Ahmad 1: 307.
Syaikh Syu’aib Al Arnauth
mengatakan bahwa lafazh
‘hajar Aswad adalah batu dari
surga’ shahih dengan
syawahidnya. Sedangkan bagian
hadits setelah itu tidak
memiliki syawahid yang bisa
menguatkannya. Tambahan
setelah itu dho’if karena
kelirunya ‘Atho’)
Keadaan batu mulia ini di hari
kiamat sebagaimana dikisahkan
dalam hadits,
ِﻦَﻋ ِﻦْﺑﺍ ٍﺱﺎَّﺒَﻋ َﻝﺎَﻗ َﻝﺎَﻗ
ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ- ﻪﻠﻟﺍ
ﻪﻴﻠﻋ -ﻢﻠﺳﻭ ﻰِﻓ ِﺮَﺠَﺤْﻟﺍ »
ِﻪَّﻠﻟﺍَﻭ ُﻪَّﻨَﺜَﻌْﺒَﻴَﻟ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻡْﻮَﻳ
ِﺔَﻣﺎَﻴِﻘْﻟﺍ ُﻪَﻟ ِﻥﺎَﻨْﻴَﻋ ُﺮِﺼْﺒُﻳ
ﺎَﻤِﻬِﺑ ُﻖِﻄْﻨَﻳ ٌﻥﺎَﺴِﻟَﻭ ُﺪَﻬْﺸَﻳ ِﻪِﺑ
ﻰَﻠَﻋ ٍّﻖَﺤِﺑ ُﻪَﻤَﻠَﺘْﺳﺍ ِﻦَﻣ «
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata
bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda
mengenai hajar Aswad, “Demi
Allah, Allah akan mengutus
batu tersebut pada hari
kiamat dan ia memiliki dua
mata yang bisa melihat,
memiliki lisan yang bisa
berbicara dan akan menjadi
saksi bagi siapa yang benar-
benar menyentuhnya.” (HR.
Tirmidzi no. 961, Ibnu Majah
no. 2944 dan Ahmad 1: 247. Abu
Isa At Tirmidzi mengatakan
bahwa hadits ini hasan dan
Syaikh Al Albani menshahihkan
hadits ini).
Wallahu waliyyut taufiq.
Fawaid dari buku Fadhoilul
Hajj wal ‘Umroh, Dr. Nashir
bin Ibrahim Al ‘Abudiy
B. Keutamaan Hajar Aswad
Apa saja keistimewaan Hajar
Aswad dan Rukun Yamani? Kenapa
setiap orang yang berthowaf
dianjurkan untuk mengusapnya?
Simak penjelasan Yahya bin
Syarf An Nawawi Asy Syafi’i
rahimahullah berikut ini.
An Nawawi rahimahullah
menjelaskan:
Ketahuilah bahwa Ka’bah itu
memiliki empat rukun. Pertama
adalah rukun Hajar Aswad.
Kedua adalah rukun Yamani.
Rukun Hajar Aswad dan rukun
Yamani disebut dengan
Yamaniyaani. Adapun dua rukun
yang lain disebut dengan
Syamiyyaani.
Rukun Hajar Aswad memiliki dua
keutamaan, yaitu: [1] di sana
adalah letak qowa’id
(pondasi) Ibrahim ‘alaihis
salam, dan [2] di sana
terdapat Hajar Aswad.
Sedangkan rukun Yamani
memiliki satu keutamaan saja
yaitu karena di sana adalah
letak qowa’id (pondasi)
Ibrahim. Sedangkan di rukun
yang lainnya tidak ada salah
satu dari dua keutamaan tadi.
Oleh karena itu, Hajar Aswad
dikhususkan dua hal, yaitu
mengusap dan menciumnya
karena rukun tersebut
memiliki dua keutamaan tadi.
Sedangkan rukun Yamani
disyariatkan untuk
mengusapnya dan tidak
menciumnya karena rukun
tersebut hanya memiliki satu
keutamaan. Sedangkan rukun
yang lainnya tidak dicium dan
tidak diusap. Wallahu a’lam.
Al Minhaj Syarh Shahih Muslim,
Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar
Ihya’ At Turots, cetakan
kedua, 1392, 9/14
C. Apakah Kaum Musilimin
Menyembah Ka’bah dan Hajar
Aswad?
Syaikh Shalih Al-Fauzan
ditanya : “Bagaimana
membantah orang atheis yang
mengatakan, “Wahai kaum
muslimin, kalian sendiri
menyembah batu (hajar Aswad)
dan berputar mengelilinginya!
Lantas kenapa kalian
menyalah-nyalahkan yang lain
menyembah berhala dan patung/
gambar?”
Syaikh Shalih Al-Fauzan
memberikan jawaban sebagai
berikut,
Ini jelas kebohongan yang
nyata, kami sama sekali tidak
menyembah batu (Hajar Aswad),
melainkan kami menyentuhnya
dan menciumnya sebagaimana
yang Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam lakukan. Ini artinya
kami lakukan hal tersebut
dalam rangka ibadah dan
mengikuti Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Mencium
Hajar Aswad adalah bagian dari
ibadah sebagaimana kita wuquf
di ‘Arofah, bermalam di
Muzdalifah dan thawaf
keliling baitullah (Ka’bah).
Juga kita mencium Hajar Aswad
dan menyentuhnya atau memberi
isyarat padanya, itu semua
adalah bentuk ibadah pada
Allah, bukan berarti
menyembah batu tersebut.
Lebih dari itu, kita bisa
beralasan dengan apa yang
dilakukan oleh Umar bin Al
Khattab radhiyallahu ‘anhuu
ketika mencium Hajar Aswad.
Ketika itu beliau mengatakan,
ﻲِّﻧِﺇ ُﻢَﻠْﻋَﻷ َﻚَّﻧََﺃ ٌﺮَﺠَﺣ َﻻ ُّﺮُﻀَﺗ
َﻻُﻭ ُﻊَﻔْﻨَﺗ ، َﻻْﻮَﻟَﻭ ﻲِّﻧَﺃ ُﺖْﻳَﺃَﺭ
َﻝﻮُﺳَﺭ ﻪﻠﻟﺍ ِ َﻚُﻠِّﺒَﻘُﻳ ﺎَﻣ
َﻚُﺘﻠَّﺒَﻗ (ﻪﻴﻠﻋ ﻖﻔﺘﻣ)
“Memang aku tahu bahwa engkau
hanyalah batu, tidak dapat
mendatangkan manfaat atau
bahaya. Jika bukan karena aku
melihat Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam menciummu,
aku tentu tidak akan
menciummu.” (HR. Bukhari 1597
dan Muslim 1270)
Oleh karena itu, masalah ini
adalah berkaitan dengan
bagaimana umat Islam
mengikuti tuntunan Nabinya
dan bukan menyembah batu
(Hajar Aswad). Jadi,
sebenarnya mereka yang
menyebarkan isu demikian
telah merencanakan kebohongan
atas umat Islam, kita sama
sekali tidak menyembah
Ka’bah. Bahkan yang kita
sembah adalah Rabb pemilik
Ka’bah. Begitu pula kita
melakukan thawaf keliling
Ka’bah dalam rangka ibadah
pada Allah ‘azza wa jalla
karena Allah-lah yang
memerintahkan kita untuk
melakukan seperti itu. Kita
melakukan demikian hanya
menaati Allah ‘azza wa jalla
dan mengikuti tuntunan Rasul
shallallahu ‘alaihi wa
sallam. ['Aqidatul-Haaj Fi
Dhouil Kitaab was Sunnah,
Syaikh Sholeh Al Fauzan,
hal.22-23.]
Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-’Utsaimin ditanya,
“Apakah hikmah mencium hajar
aswad itu adalah tabarruk
(mencari berkah) ?”
Beliau -rahimahullah-
menjawab,
Hikmah thawaf telah
dijelaskan oleh Rasulullah
Shalallaahu alaihi wasalam
dengan sabdanya,
ﺎَﻤَّﻧِﺇ َﻞِﻌُﺟ ُﻑﺍَﻮَّﻄﻟﺍ ِﺖْﻴَﺒْﻟﺎِﺑ
َﻦْﻴَﺑَﻭ ﺎَﻔَّﺼﻟﺍ ِﺓَﻭْﺮَﻤْﻟﺍَﻭ
ُﻲْﻣَﺭَﻭ ِﺭﺎَﻤِﺠْﻟﺍ ِﺔَﻣﺎَﻗِﻹ ِﺮْﻛِﺫ
.ِﻪﻠﻟﺍ
“Sesungguhnya Thawaf di
Ka’bah, Sa’i di antara Shafa
dan Marwah, dan melontar
jumroh itu dijadikan untuk
menegakkan dzikrullah
(Berdzikir kepada Allah).”
Pelaku Thawaf yang mengitari
Baitullah itu dengan hatinya
ia melakukan pengagungan
kepada Allah Subhannahu wa
Ta’ala yang menjadikannya
selalu ingat kepada Allah,
semua gerak-geriknya, seperti
melangkah, mencium dan
beristilam kepada hajar dan
sudut (rukun) yamani dan
memberi isyarat kepada hajar
aswad sebagai dzikir kepada
Allah Ta’ala, sebab hal itu
bagian dari ibadah kepada-
Nya. Dan setiap ibadah adalah
dzikir kepada Allah dalam
pengertian umumnya. Adapun
takbir, dzikir dan do’a yang
diucapkan dengan lisan adalah
sudah jelas merupakan
dzikrullah; sedangkan mencium
hajar aswad itu merupakan
ibadah di mana seseorang
menciumnya tanpa ada hubungan
antara dia dengan hajar aswad
selain beribadah kepada Allah
semata dengan mengagungkan-
Nya dan mencontoh Rasulullah
Shalallaahu alaihi wasalam
dalam hal itu, sebagaimana
ditegaskan oleh Amirul
Mu’minin, Umar bin Khattab
Radhiallaahu anhu ketika
beliau mencium hajar aswad
mengatakan,
ﻲِّﻧِﺇ ُﻢَﻠْﻋَﻷ َﻚَّﻧََﺃ ٌﺮَﺠَﺣ َﻻ ُّﺮُﻀَﺗ
َﻻُﻭ ُﻊَﻔْﻨَﺗ ، َﻻْﻮَﻟَﻭ ﻲِّﻧَﺃ ُﺖْﻳَﺃَﺭ
َﻝﻮُﺳَﺭ ﻪﻠﻟﺍ ِ َﻚُﻠِّﺒَﻘُﻳ ﺎَﻣ
َﻚُﺘﻠَّﺒَﻗ (ﻪﻴﻠﻋ ﻖﻔﺘﻣ)
“Sesungguhnya aku tahu bahwa
engkau (hajar aswad) tidak
dapat mendatangkan bahaya,
tidak juga manfa’at. Kalau
sekiranya aku tidak melihat
Rasulullah Shalallaahu alaihi
wasalam menciummu, niscaya
aku tidak akan menciummu.”
Adapun dugaan sebagian orang-
orang awam (bodoh) bahwa
maksud dari mencium hajar
aswad adalah untuk mendapat
berkah adalah dugaan yang
tidak mempunyai dasar, maka
dari itu batil. Sedangkan
yang dinyatakan oleh sebagian
kaum Zindiq (kelompok sesat)
bahwa thawaf di Baitullah itu
sama halnya dengan thawaf di
kuburan para wali dan ia
merupakan penyembahan
terhadap berhala, maka hal itu
merupakan kezindikan
(kekufuran) mereka, sebab
kaum Muslimin tidak melakukan
thawaf kecuali atas dasar
perintah Allah, sedangkan apa
saja yang perintahkan oleh
Allah, maka melaksanakannya
merupakan ibadah kepada-Nya.
Tidakkah anda tahu bahwa
melakukan sujud kepada selain
Allah itu merupakan syirik
akbar, namun ketika Allah
Subhannahu wa Ta’ala
memerintahkan kepada para
malaikat agar sujud kepada
Nabi Adam, maka sujud kepada
Adam itu merupakan ibadah
kepada Allah Subhannahu wa
Ta’ala dan tidak melakukannya
merupakan kekufuran?

semoga bermanfaat.

%d blogger menyukai ini: