Ketika Kebencian Di Mobilisasi ( True Story : Pakistan )

image

Foto : Reuters

M2000 – Suasana yang terus memanas di negri ini tidak lain karena ada unsur kebencian yang terus-terusan diumbar baik secara langsung oleh politikus maupun para haters di sosial media .
Tidak dipungkiri , akibat aksi-aksi konyol tersebut menimbulkan mosi tidak percaya kepada aparat hukum dan pemerintahan yang sah dipilih oleh rakyatnya sendiri .
Artinya apa , mereka yang dari pertamanya memang tidak setuju pada pimpinan negara , sekarang pun masih menyimpan dendam karena jagoannya kalah pada saat pemilihan sebelumnya  , kalau para abg bilang ” gagal move on “.

Yang masih segar dalam ingatan kita tentu saja dalam kasus Ahok yang diduga melakukan penistaan agama .
Presiden pun masih dibawa-bawa yang kata mereka melindungi penista agama .
Uniknya setelah presiden mengatakan tidak akan menginterverensi kasus Ahok , justru mereka malah menuntut agar presiden segera memenjarakan Ahok …Jelas ini adalah kebahlulan yang membabi buta .

Kasus Ahok jelas sudah mengakar di segenap muslim Indonesia , terlebih pada demo yang mereka namakan aksi bela Islam yang dilakukan hingga berjilid-jilid diikuti oleh jutaan umat .
Saya tidak bilang mereka yang ikut demo adalah orang-orang terprovokasi , tapi saya berani bilang bahwa tidak sedikit dari mereka yang hanya ikut-ikutan atau sekedar diajak …Lha wong teman-teman penulis juga banyak kog yang hanya ikut-ikutan.

BACA DULU : Kapan Ahok Dipenjara ?

Tentu ini berbahaya , karena dengan banyaknya orang yang tidak tahu tersebut atau hanya ikut-ikutan itulah sesungguhnya yang mudah terprovokasi.
Anda bisa membuka laman FB anda atau media sosial lain yang anda miliki , hampir pasti isinya adalah ujaran kebencian , fitnah dan mosi tidak percaya.

Disini penulis mau mengajak pembaca untuk melihat kejadian yang terjadi di negara Pakistan beberapa tahun silam .
Mungkin kejadian tersebut bisa menjadi perbandingan dengan apa yang terjadi di negri kita yang kita cintai saat ini.

Pakistan 2011 , Kebencian Yang Di Mobilisasi

Adalah Salman Taseer seorang bekas gubenur propinsi Punjab di Pakistan. Dia diangkat menjadi gubernur tahun 2008. Dia dibunuh tahun 2011.
Penyebabnya adalah karena dia menentang hukum penistaan agama yang amat keras di Pakistan. Penentangan itu dia ucapkan dalam satu talk-show di TV lokal.

Kasus penodaaan agama ini bermula dari hal kecil yang biasa dilakukan sehari-hari.
Adalah sekelompok perempuan desa sedang memanen bersama. Salah satu dari perempuan itu adalah Aasiya Noreen atau yang kemudian lebih dikenal dengan nama Asia Bibi.
Kebetulan pula, perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani dan suaminya buruh pembuat batu bata ini, beragama Kristen (Katolik). Sebagaimana umumnya kaum Kristen di Pakistan dan Asia Selatan, mereka berasal dari kelas dan kasta terendah.

Kejadiannya berawal dari sesuatu yang sangat sepele. Bibi minum dari gelas yang sama dengan perempuan-perempuan lain yang Muslim. Terjadilah percekcokan karena mereka yang Muslim menganggap Bibi yang bukan Muslim itu kotor, sehingga tidak boleh minum dari gelas yang sama dengan mereka.

Hingga disinilah muncul percekcokan, dan itu berubah menjadi soal agama. Dalam adu mulut Bibi dituduh mengatakan sesuatu yang menghina Nabi. Otomatis, ini adalah soal penghinaan dan penistaan agama. Di Pakistan, hal yang demikian ini juga berarti surat kematian yang sudah ditandatangani.

Kasus ini meluas dan memancing kemarahan  di masyarakat Pakistan. Provokasi terjadi dimana-mana. Mereka yang merasa sholeh dan sholehah merasa terhina kesalehannya. Mereka yang taat pada Tuhan, yang sesungguhnya menganjurkan untuk tidak boleh membunuh, justru merasa perlu untuk membunuh. Demi membela Tuhan !

Selanjutnya Bibi pun diadili. Seperti kehendak masyarakat luas, pengadilan pun menghukum mati dirinya karena melakukan penistaan terhadap agama.

Kekerasan pun meledak dimana-mana. Seorang menteri untuk urusan minoritas yang kebetulah beragama Kristen, Shahbaz Bhatti, dibunuh. Demikian juga Salman Taseer. Gubernur Punjab ini sebelumnya mengajukan petisi agar Asia Bibi dibebaskan.

Taseer dibunuh ketika dalam perjalanan keluar makan siang bersama temannya. Pembunuhnya adalah pengawalnya sendiri, Malik Mumtaz Qadri, yang menghujani dia dengan 27 kali tembakan memakai AK-47.

Proses pengadilan Malik Mumtaz Qadri ( pembunuh gubenur ) pun berbelit.
Dia lama tidak ditahan. Namun akhirnya pengadian memutuskan dia dihukum mati. Pada tanggal 29 Pebruari , Malik Mumtaz Qadri akhirnya menjalani hukuman mati.

Reaksi publik Pakistan sangat mengejutkan. Ratusan ribu bahkan mungkin jutaan orang turun ke jalan untuk mengiringi pemakaman Malik Mumtaz Qadri.

Aatish Taseer, putra Salman Taseer, kemudian menulis sebuah esei di New York Times tentang pemakaman pembunuh ayahnya itu.

” Ini adalah salah satu prosesi kematian paling besar di Pakistan setelah Benazir Bhutto dan si Bapak Pakistan, Muhammad Ali Jinah.
Sekaligus ini mungkin adalah prosesi kematian terbesar untuk seorang pembunuh. Orang-orang ini, demikian keluh Aatish Taseer, “terdorong bukan oleh cinta mereka kepada yang mati namun kebencian mereka kepada yang dibunuh” , keluh Aatish Taseer .

Disini kita melihat sebuah kasus dimana negara berusaha tegak dengan akal sehatnya, yakni menghukum mati dia yang membunuh. Namun, sebagian masyarakat Pakistan memiliki kehendak lain.
Untuk mereka, hukum haruslah mendukung kebencian mereka. Inilah yang mereka pertunjukkan dengan mobilisasi kebencian besar-besaran.

Haruskah kita bersyukur bahwa hal seperti ini tidak terjadi di Indonesia?
Hei, siapa bilang tidak terjadi?
Seperti di Pakistan, di sini pun kita melihat para politisi termasuk politisi yang berjubah agamawan sibuk memobilisasi kebencian. Kita terluka ketika kita diberitahu oleh para politisi itu bahwa agama kita dinistakan. Kita marah dan menumpahkan amarah itu menjadi kebencian yang teramat sangat.

Namun kita lupa bahwa ada yang berpesta pora dengan kemarahan dan kebencian kita itu !

Tulisan ini telah diposting sebelumnya pada 12 Maret 2016. Dimuat kembali dengan editing seperlunya untuk menyesuaikan dengan konteks saat ini.

Membaca kisah yang terjadi di Pakistan tersebut , mengingatkan kita pada kasus ” Arab Spring ” yang awalnya juga terjadi karena kasus perorangan kemudian meluas hingga timbul mosi tidak percaya kepada pemerintah , terjadi pemberontakan , di campuri negara lain dan sampai akhirnya meluas di hampir kawasan timur tengah sampai saat ini dan perang tak terhindarkan.

” PUISI SAMPAH ”

Ketika kamu terbiasa di istimewakan ,
Kesetaraan itu rasanya seperti penindasan

Ketika kamu sudah terbiasa menyalakan TOA keras-keras, pagi, siang, sore dan malam,
Permintaan untuk mengecilkan suara saja akan terasa seperti pelecehan

Ketika kamu sudah terbiasa menyerang dan menghakimi orang lain dengan dalil-dalil agamamu,
Balasan sedikit saja akan terasa seperti penistaan

Ketika standar yang sama diterapkan kepadamu,
Kamu mengeluh, “ini penindasan!”

Ketika kamu diminta untuk setara dengan yang lainnya,
Kamu berteriak, “ini kezaliman!”

Negeri ini bukan cuma milikmu ,
Negeri ini milik semua orang
Rumah semua orang yang bernama Warga Negara Indonesia .
Jadi tolong jangan ganggu kenyamanan kami …dan jangan lupa bahagia
Bukankah kebahagiaan orang lain kebahagiaanmu juga .

Apakah anda tidak ingin negara ini damai ?

Apakah anda tidak merasa bersalah jika nanti kejadian seperti ” Arab Spring ” terjadi di negara yang amat sangat kita cintai ini ?

Apakah anda rela anak cucu anda kelak hidup kelaparan di tenda-tenda pengungsian ?

Dan apakah anda rela jika dari kebahlulan anda menebar kebencian dan bahkan memobilisasi kebencian yang anda lakukan di medsos yang anda anggpap sepele berdampak adanya pertumpahan darah di tanah air kita ini ?

Andalah yang bisa menjawab …

Baca selengkapnya Newyork.time

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s