Gus Mus : ” Ulama Kok Mimpin Demo “

image

Masshar2000.Com – Gus Mus adalah salah satu ulama NU yang paling disegani di kalangan umat Nahdliyin maupun umat islam pada umumnya . Tutur katanya yang lemah lembut saat ceramah seringkali dipakai netizen sebagai kata-kata mutiara yang kini banyak bermunculan di medsos .

ULAMA asal Rembang yang juga mantan Rais Am PBNU tersebut juga menyampaikan keprihatinan terhadap ustadz-ustadz muda yang kini banyak melakukan demo dan tergelincir dan terbawa arus politik .
KH Mustofa atau Gus Mus mengomentari banyaknya sebutan ustadz atau Ulama yang mendadak melekat pada diri seorang.

Gelar Ulama sesungguhnya mencerminkan perilaku yang baik dan saleh.
Gus Mus mengatakan, seseorang yang dipanggil Ulama harus bisa menunjukkan kesalahen pribadinya.
Ulama yang baik, yang punya ukuran nilai kepantasan.

“Ulama kok sobo (main) pendopo itu apa, apa mau ikut tender? ULAMA kok mimpin demo. Ini aneh sekali,” kritik Gus Mus, saat menjadi narasumber anti hoax di Semarang beberapa waktu lalu .

image

“Jadi ada kepantasan laki-laki itu apa, bupati itu apa. Dari nurani saja sudah cukup, cukup gak (mereka yang demo) dipanggil kiai,” kata mantan Rais Am PBNU ini.

Gus Mus menegaskan, ukuran kepantasan untuk seseorang disebut Ulama penting adanya. Hal itu karena masyarakat tidak tahu mental dari seseorang.
Pengasuh pondok pesantren Raudlatul Tholibin Leteh Rembang ini juga mengkritik relasi antara Ulama dan Umara (pemerintah).
Ukuran antara pemerintah dan ulama harus dibedakan. Yang baik menurut ulama, kata Gus Mus, belum tentu baik menurut Pemerintah.

Jika konsep kesalehan diberikan kepada Ulama maka polisi tidak mendapat porsi kesalehan.
Kesalehan pejabat, ulama, itu beda-beda. Kalau gubernur beritikaf di masjid sampai Dzuhur, tiap malam datangi pengajian, itu buruk sekali. Itu bukan saleh,” tambahnya.
Karena itu, Gus Mus minta agar tugas pemerintah dan ULAMA tidak tumpang tindih.
Pembagian tugas itu perlu diperhatikan secara seksama.

Di era orde baru, ada istilah ULAMA dan umara. Kalau ULAMA baik, umarabaik itu baik, tapi kalau baik-baikan itu rusak. Tentu baik-baikan dalam artian yang buruk. Ulama misalnya diajak mencarikan dalil. Ayatnya pasti itu-itu saja, dulu dicari ayat revolusi pada zaman Pak Karno, lalu ayat pembangunan zaman Pak Harto. Padahal ayat tidak bicara revolusi, tapi pembangunan manusia secara utuh,” tutupnya.

image

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s