Tak Mau Pasang Bendera Merah Putih Dan Malah Membakarnya , Pesantren Di Bogor Digeruduk Warga

image

M2000 – Seperti kita rasakan , aura perayaan kemerdekaan sudah terasa sejak awal bulan agustus kemarin .
Di berbagai seluruh penjuru tanah air , warga dengan suka cita melakukan kerja bakti bersih-bersih dikampungnya masing-masing termasuk memasang umbul-umbul dan bendera merah putih .

Hampir semua warga negara Indonesia setuju kalau memasang bendera merah putih pada perayaan kemerdekaan adalah suatu kwajiban sebagai rasa hormat kepada para pendahulu kita yaitu para pahlawan yang berjuang membela tanah air dari penjajah .
Kita semua tahu , bahwa saat sebelum kemerdekaan mengibarkan bendera merah putih adalah dilarang dan para pejuang rela mengorbankan nyawanya demi bisa melihat merah putih berkibar . Jadi alangkah bodohnya kita jika hanya sekedar mengibarkan bendera merah putih saja tidak mau setelah kita merdeka .

Namun , ternyata ada beberapa golongan yang mabok agama menganggap menghormat bendera adalah menuhankan bendera , sehingga mereka tidak mau menghormat bendera apalagi memasangnya .

Seperti yang terjadi di kabupaten Bogor , tepatnya di Kampung Jami , Desa Sukajaya , Tamansari .
Ada sebuah pesantren yang tidak mau memasang bendera didepan pondoknya .
Akhirnya warga pun memasang sendiri didepan gerbang pesantren tersebut .
Namun salah seorang pengajar pesantren tersebut malah membakarnya .

Mengetahui aksi tidak terpuji tersebut , warga Kampung Jami menggeruduk Pondok Pesantren Alquran Al Mas’ud tersebut .

Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, maka dua orang pengajar diamankan di Mapolres Bogor.

“Jadi begini. Dari semalam warga dengan pengurus pondok pesantren adu mulut. Karena, mereka tidak mau memasang bendera merah putih di sekitar ponpes,” ungkap Wahyu, Kepala Desa Sukajaya, Kamis 17 Agustus 2017 seperti dikutip dari viva.co.id

Meskipun pengurus ponpes bersikukuh menolak, namun warga tetap memasang umbul-umbul merah putih di sekitar ponpes tersebut. Akan tetapi, sejumlah warga melihat umbul-umbul yang dipasang itu justru dibakar oleh pengurus ponpes.

Warga pun menjadi geram dan dua orang diamankan ke Mapolres Bogor,” papar Wahyu. Dengan demikian, berdasarkan kesepakatan bersama maka Ponpes Alquran Al Mas’ud ditutup sampai September 2017.

Hingga saat ini ponpes masih dijaga ketat oleh aparat kepolisian Polres Bogor.
Kemarahan warga pun tak terbendung hingga mendesak Ponpes menutup aktivitasnya dan tak boleh lagi berada di lingkungan warga.

Hal itu terungkap dalam mediasi yang digelar Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) dengan pihak Ponpes yang melibatkan pelaku.

Dari sana juga terungkap Yayasan tersebut tidak mau memasang bendera yang sudah disiapkan oleh Kecamatan.

Pelaku diketahui seorang ustadz bernama Muhammad Supriadi bin Uladi (25), kelahiran Cirebon, 23 Agustus 1992.
Pembakaran bendera memicu emosi warga untuk bertindak anarkis. Namun masih bisa dikendalikan oleh para tokoh yang hadir pada saat itu.

image

Dalam pertemuan itu dihadiri lengkap dari Camat Tamansari Ahmad Sopian, KH Cucun Pimpinan Ponpes, KH Asep Ketua MUI Kecamatan Tamansari, dan Kades Sukajaya Wahyudin Sumardi.
Dari pertemuan tersebut terungkap juga  bahwa santri tak diajarkan cinta Indonesia.

Berikut petikan dialognya:

Camat : Ada nggak yang melihat, yang mengajarkan santri di sini tidak suka dengan Indonesia seperti sampean?

Humas : Tidak ada

Camat : Tidak ada kan, harus cinta Indonesia kan?

Humas : Itu juga tidak ada

Kepala Desa membenarkan yayasan enggan memasang bendera meski telah diberi sosialisasi.

image

Inilah sosok M .Supriadi pelaku pembakaran bendera merah putih

“Waktu yang berikan oleh muspika selambat lambatnya tanggal 17  september 2017 Ponpes Ibnu Mas’ud sudah tidak ada di Desa Sukajaya dan ditolak keberadaannya,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan , pihak pesantren enggan berkomentar kepada wartawan saat diminta membuat surat pernyataan kesediaan menutup Ponpesnya.

Yang menjadi pertanyaan kita semua tentunya , itu pondok pesantren apa sarang teroris .
Mereka hidup di Indonesia , mencari rejeki , beribadah dengan aman di Indonesia . Tapi kenapa mereka-mereka ini tidak mau menghargai negrinya sendiri .

Mari kita simak sejarah nabi , apakah nabi juga membenci negrinya ,

HUBBUL WATHAN MINAL IMAN
❁ Cinta Tanah Air Sebagian Dari Iman ❁

Pada dasarnya setiap manusia itu memiliki kecintaan kepada tanah airnya sehingga ia merasa nyaman menetap di dalamnya, selalu merindukannya ketika jauh darinya, mempertahankannya ketika diserang & akan marah ketika tanah airnya dicela. Dengan demikian mencintai tanah air adalah sudah menjadi tabiat dasar manusia.

Rasulullah ﷺ sendiri pernah mengekspresikan kecintaanya kepada Mekah sebagai tempat kelahirannya. Hal ini bisa kita lihat dalam penuturan Ibnu Abbas RA yg diriwayatkan dari Ibnu Hibban berikut ini:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ

Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Alangkah baiknya engkau sebagai sebuah negeri, & engkau merupakan negeri yang paling aku cintai . Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau , niscaya aku tidak tinggal di negri selainmu ( HR.Ibnu Hibban).

#nkrihargamati
#jayalahindonesiaku

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s