Iklan
Oleh: masshar2000 | 20 Agustus 2017

Ridwan Kamil vs Denni Siregar Saling Serang Di Medsos

image

M2000 – Di kancah perpolitikan nasional , masyarakat menilai sosok walikota Bandung adalah sosok pemimpin yang bersih dan merakyat .
Namun saat dirinya dipinang partai Nasdem dan dicalonkan sebagai Gubenur Jawa Barat , namanya jadi sedikit tercemar , setidaknya dimata para pendukung Prabowo , Gerindra dan Nasdem .
Kang Emil sapaan akrab Ridwan Kamil dianggap melukai hati rakyat karena mau diusung partai Nasdem yang dianggap partai pendukung penista agama ( baca kasus Ahok-red ) , setidaknya berlaku untuk rakyat pendukung Prabowo .

Kenapa demikian , jelas Kang Emil ini ” di AHOK kan ” , karena kasus Ahok sudah selesai dan tidak perlu diperdebatkan .
Jadi kata di AHOK kan pantas untuk disematkan ke RK.

Kali ini ada yang menarik saat netizen kondang Denny Siregar ikut mengomentari program Kang Emil .
Denny Siregar, merupakan nama yang selama ini menghiasi jagad sosial media terutama facebook.
Denny diketahui memiliki laman facebook yang bernamakan namanya sendiri dengan jumlah pengikut cukup banyak.
Dari pantauan , Denny memiliki pengikut di facebook sebanyak 454 ribu netizen.

Setiap hari, Denny menuliskan opininya tentang sesuatu hal yang menurutnya perlu untuk dibahas dalam laman facebooknya.
Tak jarang tulisannya menjadi kontroversi di kalangan netizen karena memang hampir selalu berisikan sindiran terhadap sesuatu atau seseorang.

Namun, baru-baru ini Denny menuliskan sindirannya kepada Ridwan Kamil yang merupakan Wali Kota Bandung.

Berikut salinan tim retulisan dari Denny Siregar tersebut:

KANG EMIL & IBADAH KREDIT…
Helmi Hasan, Walikota Bengkulu gundah..
Setiap subuh dia melihat kenyataan sepinya masjid. Ia lalu berfikir bagaimana supaya masjid penuh. Akhirnya ia merancang program “BENGKULU RELIGIUS”, yaitu program siapa yang taat ke masjid dapat hadiah mobil Inmova..
Program ini banyak yang menentang meskipun banyak juga yang mendukung.
Pada akhirnya setelah 2 tahun program ditutup karena kata Helmi politisi PAN ini, ia harus mengembalikan kembali fungsi masjid sebagai tempat ibadah karena Allah bukan karena hadiah..
Dan sesudah program itu selesai, maka masjid pun surut kembali dari jamaah yang ibadah subuh…
Ndilalah, program lama ini diteruskan Ridwan Kamil, Walikota Bandung dengan konsep berbeda..

RK panggilan singkatnya, mencanangkan program “BUTUH DUIT, AYO KE MASJID”. Program ini bersifat pinjaman maksimal 30 juta yang dikelola oleh DKM-DKM bekerjasama dengan BPR. Yang bisa meminjam, tentu saja yang katanya rajin ke masjid..
Entah kenapa masih banyak orang yang mengiming2i ibadah – yang notabene adalah kegiatan spiritual – dengan hadiah material.
Padahal sejatinya spiritual dan material adalah dunia yang jauh berbeda yang tidak bisa disatukan. Mereka yang terjebak material jelas kering dari hal spiritual, begitu juga mereka yang sudah memasuki dunia spiritual tidak lagi terikat dengan hal yang bersifat material.

Lalu kenapa ada pemimpin daerah yang berusaha menggabungkannya ?
Ada dua faktor sebenarnya. Pertama, mereka tidak mengerti konsep spiritual dan kedua karena politis.
Melihat kasus Helmi dan RK, jelas ada hubungannya dengan politik menarik simpati umat Islam. Helmi sudah sadar bahwa ia salah sedangkan RK baru memulai. Apalagi mendekati Pilgub Jabar 2018, terlihat jelas bahwa ada udang dibalik bakpau.

Diluar masalah spiritual dan material, RK harusnya paham bahwa apa yang ia lakukan adalah kesalahan.
Pertama, salah karena mengiming2i ibadah dengan pinjaman.
Kedua, RK – sebagai seorang moderat – seharusnya paham bahwa masjid sekarang banyak diduduki kaum radikal. Peristiwa Pilgub DKI seharusnya membuka mata bahwa masjid adalah tempat berkembang biak paling aduhay untuk mereka.
Seorang teman yang bekerja di pemerintahan berkata, bahwa banyak program beasiswa untuk muslim disalah-gunakan untuk mengembangkan ideologi kaum radikal.

Bagaimana caranya ? Ya dengan memanfaatkan program beasiswa itu bagi kelompok mereka saja. Dengan begitu mereka memanfaatkan program pemerintah untuk membesarkan kelompok mereka. Nah, apa tidak mungkin pinjaman melalui masjid itu akan dimanfaatkan untuk kepentingan politis kelompok tertentu ? Kalau ga gabung dengan ormas tertentu misalnya, gak bakalan dikasi pinjaman…

Lihat, kesalahan satu akan diikuti kesalaham lainnya. Seperti bola salju yang makin lama makin membesar dan pada satu waktu akan sulit memadamkannya..

Kembalikan fungsi masjid sebagai tempat ibadah tanpa embel-embel lainnya. Sebagai seorang pemimpin seharusnya paham mana yang benar dan mana yang salah karena tanggung jawab keputusan itu sangat besar..

Lagian sebagai pemimpin yang mengayomi semua umat, kenapa gereja, vihara dan tempat ibadah lainnya tidak mendapat perlakuan yang sama ? Katanya harus mematuhi sila ke lima, keadilan bag

Katanya harus mematuhi sila ke lima, keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia..
Sudah cukup kita terluka dengan peristiwa Pilgub DKI yang malah akhirnya membentrokkan sesama muslim karena penguasaan masjid untuk kepentingan politik kelompok pendukung si anu. Jangan lagi masjid ditunggangi untuk nafsu duniawi belaka..

Kata seorang teman lagi, biasanya mereka yang tidak punya program kerja bagus, akan berlindung dibalik agama untuk mendulang suara.
Kang Emil pasti tidak begitu kan ? Mudah-mudahan tidak…
Kalau iya, saya sebagai warga Jakarta pasti tidak akan lagi memilih Kang Emil. Tidak mungkin, nehi !!
Mending saya nyeruput kopi di rumah saja…

Tulisan yang dituliskan oleh Denny itu ternyata mendapatkan respon langsung dari Ridwan Kamil. Orang yang biasa disapa dengan nama Kang Emil ini pun menuliskan tulisan balasan di laman facebooknya.

Untuk diketahui , Kang Emil juga memiliki laman facebook yang cukup aktif serta ramai dengan berisikan para pendukungnya.

Berikut salinan tulisan Kang Emil tersebut:

Untuk Kang Denny Siregar, sang pendukung sebelah.

Kenapa Masjid ?
Masjid dalam Islam tidak hanya untuk beribadah, tapi juga untuk pusat aktivitas sosial dan membangkitkan ekonomi umat.

Ada 4000-an masjid di Bandung, dimana jantung2 kemiskinan hadir mengelilinginya. Tugas pemimpin adalah melakukan terobosan dalam pengentasan kemiskinan.

Para fakir miskin yang mayoritas muslim ini, umumnya sering terintimidasi secara mental sosial jika harus ke kantor Bank yg mentereng. itulah kenapa rentenir tumbuh subur di rumah-rumah si miskin. karena caranya mudah walau mencekik dan aniaya

Itulah kenapa dan tidak ada salahnya menggunakan instrumen fasilitas umat, berupa masjid untuk menjadi pusat kebangkitan ekonomi sosial warga-warga yang fakir miskin, dengan bekerja berwirausaha.

Kredit Mesra adalah modal kerja bukan hibah atau untuk konsumtif.

Kredit Mesra tidak bertransaksi disana, karena secara syariat dilarang jual beli. Masjid hanya tempat edukasi dan proses pendaftaran administrasinya saja melalui koperasi Masjid.

Yang non-muslim?

Sudah difasilitasi melalui Kredit Melati, tanpa agunan jika berkelompok, maksimal 30 juta juga. Bedanya, proses administrasi tidak berbasis masjid tapi di kantor BPR.

Politisasi Masjid? Kenapa gak dari dulu?

Ini program sudah disiapkan sejak setahun lalu. Butuh waktu berdiskusi dengan ulama-ulama. Baru sekarang bisa. Kecuali anda yang isi pikirannya pilkada wae, maka apapun program untuk rakyat Bandung yang baru muncul selalu dianggap dalam rangka politik ini itu. Kasian.

ADIL itu yang mayoritas difasilitasi, yang minoritas dilindungi.

ADIL itu proporsional bukan sama rata.

Dan kalo berani Kang Denny, postinglah hak jawab saya ini di lamannya. Jika berani itu juga.

Tapikan ah sudahlah…Hatur Nuhun.

Tak berhenti di situ, Denny Siregar pun langsung membalasnya dengan tulisan baru serta menyertakan gambar tulisan Ridwan Kamil tersebut.

KANG EMIL SI MAYORITAS…

Pagi-pagi buka facebook, eh rame yang ngetag saya masalah jawaban Ridwan Kamil terhadap postingan saya..

Disini saya hormat kepada Kang Emil yang diantara waktu sibuknya mau menjawab pertanyaan dari saya – yang apalah apalah. Jarang pemimpin seperti itu disini. Dan sebagai rasa hormat saya, saya capture status kang Emil dan saya tampilkan sebagai hak jawab beliau.

Hanya pertanyaan saya kembali lagi, kenapa harus melalui masjid ?

Apakah tidak ada model penyaluran lain yang lebih netral dan plural seperti RT/RW misalnya, dimana semua orang bisa mengaksesnya ??

Keyakinan boleh beda pada setiap manusia, tetapi ukuran fasilitas sebagai anak bangsa seharusnya semua sama tanpa membedakan SUKU, RAS dan AGAMA. Tuh, saya kasih huruf kapital biar lebih jelas..

Tapi akhirnya saya faham ketika parameter yang dipakai kang Emil adalah AGAMA, sehingga ukuran “mayoritas” dan “minoritas” adalah seberapa banyak agama di satu wilayah. Apalagi kang Emil mempertegas di tulisannya, bahwa mayor

Apalagi kang Emil mempertegas di tulisannya, bahwa mayoritas di fasilitasi dan minoritas di lindungi. Seakan-akan yang minoritas tidak butuh fasilitasi..

Apakah si minoritas ini bukan bangsa Indonesia ? Yang berikrar satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, sehingga harus dilindungi ? Sebegitu lemah kah si minoritas sehingga hanya harus dilindungi bukannya diberikan hak yang sama ? Meskipun beragama Islam, kang Emil seharusnya sadar bahwa sebagai pemimpin haruslah berdiri diatas semua golongan..

Saya sebenarnya paham maksud kang Emil, tapi – jujur – komunikasi kang Emil untuk hal ini sangatlah buruk. Apalagi ditambah caption dalam statusnya “MAU DUIT ? HAYU KE MASJID”. Kang Emil sendirilah yang membangun persepsi seolah-olah untuk ke masjid saja, orang harus diiming-imingi kredit.

Ghirah keagamaan sih boleh-boleh saja akang, tapi tetap harus ditempatkan ke arah yang benar. Jangan malah membuka ruang lebar perbedaan dengan membedakan fasilitas berdasarkan “apa agama seseorang”.

Hatur nuhun… Abdi nyaruput kopi heula kaburu dingin ieu…

Seru sekali kan dua pesohor sosmed jika sedang berantem di sosmed , hehehe berantem ?…Enggak kali ya ..Mereka sedang adu argumen alias debat sehat .
Ya begitulah , kadang jadi seorang pemimpin itu serba salah , setiap punya program bagus selalu dicap pencitraan , cari popularitas .
Ya gimana lagi .. Masa seorang pemimpin diam saja , nanti dikira gak bisa kerja dong , terus apa tanggung jawabnya kepada rakyat .

Itu baru kang Emil , pakdhe Jokowi lebih banyak lagi yang ngritik bahkan menghujat .
Ya kalau yang menghujat rakyat yang netral sih gak apa-apa , tapi kalau yang menghujat kubu sebelah ya harap maklum , namanya juga kompetitor , pastilah menjatuhkan lawan ..Sudah hukum alam kok .
Hmmm…Namanya juga ngurusin anaknya orang banyak , pasti tidak semua bisa terpuaskan , ya Gak ?

image

Duh kang Emil , dulu saat KTT AA kamu disanjung lebih pantas jadi presiden ketimbang Jokowi , saat pilkada DKI kamu juga disanjung lebih pantas jadi gubenur dibanding Ahok , tapi setelah kamu didukung Nasdem , kamu pun di hujat mati-matian ...Maafkan mereka kaum sumbu pendek ya kang , karena mereka memang suka BAPER

Bagaimana menurut anda?

Library : kabarnas.com

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: