SARACEN : Jualan Virus Di Pasar Medsos

image

Salam Literasi ,

M2000 – Beberapa waktu terakhir ini publik terhenyak saat diringkusnya kelompok atau sindikat yang bernama Saracen.
Ya ,  kelompok SARACEN adalah kelompok buzzer sekaligus pembuat konten SARA tersebut bertarif puluhan juta rupiah menurut data kepolisian .
Kelompok ini menjalankan operasinya dengan cara membuat situs yang berkonten sara serta berdasarkan pesanan pihak tertentu ..Mirip dengan akun ” Trio Macan 2000 ” yang dulu sempat ngetop dan menghiasi jagad medsos .

Salah satu pentolan SARACEN yang berhasil diringkus adalah Jasriadi.
Siapakah Jasriadi?

Dialah Sosok Penting di belakang Saracen, Sindikat Penebar Hoax dan Kebencian kepada Jokowi.
Bagi Saracen dan Sindikat Penebar Hoax lainnya , secara hitung-hitungan ekonomi, mendukung Jokowi memang kurang menguntungkan karena Jokowi sudah menjadi Presiden Indonesia, apa pun yang dilakukannya berpotensi viral dan diberitakan di semua media. Kerja keras atas kebijakan serta sikap-sikapnya selalu menjadi pusat perhatian.

Bahkan Presiden nge-vlog dengan kambingnya saja sudah bisa trending di Youtube , ya kan ?
Kalau sudah begini, untuk apa Jokowi membentuk tim sosial media atau membayarnya secara reguler untuk mengangkat citranya …Jelas tidak perlu ?
Toh media mau memberitakannya secara gratis sepanjang 5 tahun pemerintahannya tanpa disuruh .

Disini banyak yang beranggapan bahwa jika media mengangkat topik tentang Jokowi pasti kubu sebelah bilangnya media yang dibiayai pemerintah atau kacung Jokowi lah dan bermacam-macam , padahal nyatanya tidak demikian .
Anggaplah media itu pedagang , nah disaat jualan kira-kira pedagang tersebut lebih memprioritaskan dagangan yang cepat laku atau tidak ?…Simple bukan , media dapat pendapatan dari iklan , kalau banyak yang membaca maka potensi pendapatan iklan akan banyak pula .

Artinya jika ada pihak yang mengatakan bahwa Saracen adalah kelompok yang dibentuk dan didanai kelompok Jokowi sebagai pengalihan isu atas hutang pemerintah Jokowi adalah salah besar.
Hal ini tentunya berbanding terbalik dengan lawan-lawan politik Jokowi atau katakanlah dari koalisi jungkir balik atau gerombolan dung dung pret yang memang hobi mencari kesalahan Jokowi .
image

Kenapa ? …Karena di media mereka jarang sekali mendapat slot berita. Kalaupun mereka melakukan kegiatan, belum tentu ada yang mau meliputnya karena kemungkinan tidak laku .
Kenapa begitu ?
Sebab mereka memang tidak penting dan bukan siapa-siapa, jadi buat apa diliput , siapa yang mau membaca toh tidak akan punya pengaruh apa-apa buat negri ini.

Jika pun lawan politik Jokowi ingin mengkritik atau membuat pernyataan, itu juga sulit dilakukan. Karena media juga tidak akan terus menerus mau menampung kritik-kritik tidak jelas dan tidak berdasar. Apalagi yang data-datanya tidak valid yang akan menyebabkan media mereka semakin dijauhi pembaca .
Jelas media-media besar akan pikir-pikir untuk menayangkannya sekalipun misalnya dijanjikan bayaran puluhan juta rupiah.

Kalaupun mau diliput, harus buat sensasi dulu. Contoh saja, Prabowo bertemu SBY. Prabowo sebut Presidential Threshold 20% sebagai lelucon. Berita seperti ini laku di media. Sekalipun di satu sisi menunjukkan betapa lucunya seorang Prabowo karena sebenarnya dia sudah dua kali meramaikan Pilpres di Indonesia menggunakan Presidential Threshold 20%.

Dengan kondisi politisi sakit hati tak mau terima kekalahan sampai sekarang, pada kesimpulannya mereka tidak bisa terus menerus mengeluarkan pernyataan absurd dan bodoh seperti menyebut Presidential Threshold adalah lelucon. Mereka juga tidak bisa terus menerus memutar balikkan data-data, karena kalaupun masyarakat Indonesia jadi ingat dan membicarakan, namun elektabilitasnya bakal menurun. Sehingga digunakanlah pihak ketiga untuk menyalurkan kepentingan politiknya, mengatas namakan rakyat, mengatasnamakan ummat Islam. Belakangan kita tahu nama kelompok mereka adalah SARACEN , ya virus itu bernama SARACEN .

Efek Virus SARACEN

Menurut analisis saya, salah satu efek kongkrit dari SARACEN adalah terbentuknya isu-isu yang begitu terstruktur, sistematis dan massif namun tidak masuk akal. Contohnya adalah kebangkitan PKI.

Berkali-kali kita dihadapakan dengan isu Pilpres 2014 ini. jokowi diidentikkan dengan PKI, difitnah anak PKI, bahkan politisi senior seperti Amin Rais pun juga menganjurkan Jokowi untuk tes DNA , karena dia dan juga mereka meragukan bahwa Sujiatmi Notomihardjo adalah ibu kandung Jokowi.

Padahal kenyataannya, mana ada PKI?
Klaim bahwa jutaan orang sudah menjadi kader PKI hanyalah isu yang terbentuk secara terstruktur, sistematis dan massif oleh akun-akun sosial media antah brantah yang dibuat oleh para tuyul yang menghamba pada uang semata dan kemudian diterima dan disebar luaskan oleh kelompok pendukung pecundang yang kalah di Pilpres 2014.

Massifnya isu PKI yang sengaja dibuat ini rupanya berhasil membuat resah warga dan pemerintah. Seolah-olah kita memang sedang berhadap-hadapan dengan PKI. Padahal yang sekarang sedang diperangi sekarang adalah gerakan-gerakan bawah tanah yang ingin mengganti ideologi Pancasila dengan yang lain dan itu jelas didepan mata .

Dan saat tim komunikasi Presiden tak mampu membendung atau mengimbangi isu yang berkembang di sosial media , mungkin karena Presiden juga enggan menganggarkan dana khusus , maka Presiden Jokowi langsung mengatakan kemarahannya secara terbuka “dalam tap MPR sudah jelas dilarang, jadi kalau ada PKI, tolong kasih tau saya, kita gebuk!”

Jujur, berkali-kali saya tertawa miris jika mengingat kejadian tersebut. bagaimana bisa, sebuah nama kelompok yang sudah mati berpuluh tahun lalu bisa dibangkitkan dan dijadikan bahan untuk menakut-nakuti masyarakat ?…Kalau saya boleh sebut PKI nya sudah mati jagan sebut-sebut , ntar dicariin hantu gentayangannya PKI tahu rasa lo ..

Tapi kalau melihat adanya kelompok SARACEN, dan kelompok pendukung pecundang yang kalah di Pilpres 2014 dan gagal move on, kita jadi paham bahwa sebenarnya terjadi supply and demand dalam hal produksi konten hoax dan propaganda.
Disini uniknya kelompok mereka malah menuduh kelompok lain yang kalah pilkada untuk MOVE ON …Helloww…yang belum move on itu kelompok anda bung , catat ya …Sejak doea riboe empat belas jang laloe .

Imbasnya , konten hoax dari SARACEN berhasil memenuhi kebutuhan politik kelompok oposisi, serta dapat dikonsumsi oleh rakyat jelata yang terlanjur benci Jokowi karena tokoh pilihannya di Pilpres 2014 lalu kalah telak.
Ya bisa begitu karena mereka memang lebih suka berita hoax daripada berita bener .. Yang penting bisa menyenangkan hatinxa .

Apakah SARACEN tim Prabowo ?

Salah seorang tim SARACEN yang diciduk polisi adalah Sri Rahayu Ningsih (Nysasmita). Jika melihat akun facebooknya, saya mendapatkan beberapa foto SRN yang mengarah kepada Gerindra. SRN hadir di deklarasi relawan Anies Sandi, hadir di posko Kang Tatang untuk bakal calon Gubernur Jabar dan juga berfoto ria di DPC Gerindra Cianjur.
image
Terus terang ini unik dan mengubah pola pikir masyarakat tentang SARACEN .
Semula kita pikir mereka adalah sekelompok buzzer bayaran pada umumnya yang hanya mencari uang demi makan, tapi sepertinya anggapan itu keliru ,  mereka adalah kolompok pasukan politik atau sel-sel politik yang tidak akan nampak dipermukaan .
Logikanya tentu tidak mudah bagi orang biasa yang tidak punya jaringan politik, bisa masuk foto-foto di kantor DPC, ikut dalam deklarasi dukungan Cagub Cawagub dari Gerindra…Silahkan dipikirkan dulu ..
Yang jelas hanya karena foto tersebut kita tidak mungkin menuduh mereka adalah orang-orang bayaran prabowo , bisa jadi mereka hanya memanfaatkan foto-foto tersebut atau paling tidak mereka hanya simpatisan prabowo .
image
Bagaimanapun sampai saat ini kita masih mencari tahu siapa saja klien SARACEN dalam pembentukan isu, hoax dan penghinaan atau gampangnya siapa tokoh-tokoh yang pernah menggunakan jasa SARACEN , apakah di Pilkada DKI kemarin ada juga yang memakai jasa SARACEN karena isu SARA san

image

image

Simak video singkat Disini

Salam Literasi…

Library : Alifurrahman

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s