Iklan
Oleh: masshar2000 | 4 Desember 2017

Alumni 212 Sebaiknya Membuat Partai Politik Saja

image

M2000 – Mau berkelit bagaimanapun , setiap orang diluar alumni ataupun pendukung 212 pasti mengatakan kalau aksi 212 dan sebangsanya adalah agenda politik yang ditutupi dengan kegiatan keagamaan .

Kita tahu , tahun lalu pada aksi 411 dan puncaknya adalah 212 bisa terjadi karena ada agenda untuk menyingkirkan Ahok dari peta pilgub DKI , karena Ahok adalah kandidat terkuat yang ada saat itu , bahkan tingkat kepuasan masyarakat menurut data yang ada sampai 70% , biasanya didaerah lain , tingkat kepuasan pada pemimpinnya hanya dikisaran 40-60% saja . Artinya kalau tanpa ada gangguan , menurut data yang ada Ahok akan melenggang mulus jadi pemenang pada pilgub DKI saat itu .

Momen Kepulaan Seribu yang menjadikan Ahok tersangka penistaan Agama pun dimanfaatkan dengan baik oleh mereka yang sangat ingin berkuasa dengan menyingkirkan Ahok secepatnya , syukur-syukur di diskualifikasi dari bursa pilgub .
Tak mempan dan Ahok tetap maju , jurus kedua dimainkan , gerakan penjarakan penista agama mereka hembuskan secara terstruktur , sistematis dan masif , bahkan sampai mengancam orang yang memilih Ahok kalau meninggal , jenazahnya tidak akan disholatkan  . Singkat cerita Ahok kalah dan dipenjara dua tahun .

Dalam perjalanannya , mereka tidak puas hanya memenjarakan Ahok saja , Presiden Jokowi pun di ungkit-ungkit sebagai orang yang paling melindungi Ahok , bahkan propaganda ” Partai pendukung Penista Agama ” pun mereka gulirkan sampai kini .

Direktur Indonesia Public Institute (IPI), Karyono Wibowo ternyata mempunyai pendapat tentang sepak terjang presidium Alumni 212 ini .
Dia menilai arah gerakan Presidium Alumni 212 kental dengan muatan kepentingan politik.

“Jadi ada apa sih di Reuni Alumni 212. Mengapa ada alumni 212 dan apa tujuan alumni 212 dilembagakan segala. Mungkin karena di depan mata ada agenda politik Pilkada 2018 dan Pilpres 2019. Mereka terinspirasi oleh kesuksesan di pilkada DKI Jakarta bisa direproduksi kembali di pilkada serentak dan pilpres mendatang,” kata Karyono Wibowo dalam keterangan yang diterima, Minggu (3/12/2017) seperti dirilis tribunnews .

Menurutnya, ada sejumlah indikator yang menunjukkan gerakan presidium 212 memiliki agenda politik.

Pertama, Karyono menuding saat pilkada DKI gerakan 212 memiliki agenda politik untuk menumbangkan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan berbagai isu SARA yang dikemas dengan propaganda menggunakan ayat sampai mayat.
Indikator kedua, propaganda dengan jargon jangan pilih calon kepala daerah yang di diusung oleh partai yang mendukung penista agama sudah beredar di berbagai media.
Karyono juga menuding, alumni 212 membuat propaganda jangan pilih partai dan calon presiden yang mendukung penista agama, jangan pilih partai pendukung Perppu No 2 tahun 2017.
Ketiga, adalah adanya pengakuan dari Pembina Presidium 212 Kapitra Ampera yang menyatakan dengan tegas bahwa gerakan 212 adalah real politik.

Menurutnya, menggunakan kata ‘jangan pilih‘, itu sudah jelas merupakan bagian dari kepentingan politik.
“Lalu ada lagi narasi ‘jangan pilih parpol pendukung penista agama’, maka ini apa namanya kalau bukan tendensi politik, ada yang bisa jawab nggak?” kata Karyono.

Namun narasi politik tersebut dibantah oleh presidium alumni 212, bahwa gerakan dan sepak terjang mereka sejauh ini tidak ada kepentingan politik apapun.

Karyono yang alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ini mengatakan, tidak hanya ada tendensi kepentingan politik Pilkada dan Pilpres, tapi ada juga tendensi mengubah ideologi negara.
Karyono juga menyebut beberapa contoh seruan dan jargon yang menunjukkan adanya tendensi merubah haluan negara, yakni seruan untuk menegakkan NKRI Bersyariah dan Pancasila Syariah.

“Ini apa maksudnya, ada tambahan syariah di belakang NKRI dan Pancasila?” Kata Karyono.

Menurutnya, ada kelompok yang menjadi bagian dari aksi 212 mengusung ideologi khilafah untuk menggantikan bentuk negara Indonesia dan menggantikan ideologi Pancasila menjadi Syariat Islam.

Ini jelas menunjukkan Presidium Alumni 212 memiliki agenda politis dan ideologis”, kata Karyono.

Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ini mengungkapkan, sepengetahuannya, dalam literasi di ormas Islam terbesar yaitu NU dan Muhammadiyah tidak ada kata NKRI syariah dan Pancasila Syariah. Begitu juga di partai Islam seperti PKB, PPP dan PAN tidak menggunakan NKRI Syariah dan Pancasila Syariah sebagai pedoman organisasi.

Suasana Reuni 212 dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Lapangan Monas, Sabtu (2/12/2017).
“Ah sudahlah jangan aneh-aneh. NKRI ya NKRI, enggak ada NKRI Syariah. Cukup Pancasila jangan ditambah syariah di belakangnya. Jangan lagi mempersoalkan Pancasila yang sudah final,” kata dia.

Karyono memberikan saran agar Presidium Alumni 212, sebaiknya menjadi partai politik atau menjadi underbow partai politik agar jelas dan fokus memperjuangkan aspirasi umat Islam melalui saluran demokrasi yang diatur oleh konstitusi.

“Dengan begitu maka persepsi dan kesan Presidium Alumni 212 menjadi broker politik bisa dihindari,” ujarnya.

Pendapat Karyono ini jelas tidak mengada-ada , kalau ada gerakan agama sementara merekapun menolak pemimpin muslim ini namanya apa .
Tentu kita harus lihat ke belakang dulu , mereka meminta pemimpin harus Islam dan anti kafir , tapi saat ada pemimpin muslim seperti Jokowi , mereka mencari-cari kekurangannya , tidak bisa baca Qur’an lah , wudhu salah dan masih banyak lagi .

Tapi dulu pun sudah ada yang sebenarnya memenuhi persyaratan , muslim agamanya bagus bahkan seorang kyai dan juga ketua ormas terbesar di negri ini yaitu Gusdur .
Akhirnya Gusdur pun dilengserkan juga .
Saya tidak usah sebut siapa orangnya yang memprovokasi  , tapi yang jelas dia adalah seorang politisi ulung yang kini pun walaupun usianya sudah senja masih sibuk ngurusi politik sampai saat ini , publik menyebutnya sebagai SENGKUNI .

Iklan

gunakan suaramu

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: