Iklan
Oleh: masshar2000 | 5 Desember 2017

Apa Maksud ” Jual Beli Tol ” oleh Jokowi , Apa Juga Untungnya ?

image

M2000 – Mungkin ada yang aneh dengan kalimat  ” Kalau sudah selesai ruas (tol) mana saja, saya ingin dijual saja.”
Inilah perkataan Menteri BUMN Rini Soemarno seperti arahan presiden Joko Widodo .

Seperti kita ketahui , Menteri BUMN Rini Soemarno mendorong PT Waskita Karya (Persero) Tbk untuk segera menjual konsesi ruas tol yang sudah beroperasi ke pihak lain. Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) Jakarta, Seksi 1B dan 1C (Cipinang – Jakasampurna) sepanjang 8,4 km, beberapa waktu setelah diresmikan adalah salah satu yang akan dijual oleh Waskita ke BUMN atau swasta.
Publik pun bertanya kenapa setelah selesai , tol yang mangkrak tersebut malah dijual .

Nah ini adalah penjelasannya , jangan pesimis dulu , bahwa presiden menjual aset-aset negara , selagi anda belum paham apa maksud “menjual” itu .

Waskita selaku kontraktor sekaligus investor proyek Tol Becakayu pun menyambut dorongan Rini untuk menjual ruas tol yang telah dibangun oleh BUMN yang merupakan kelanjutan dari arahan Presiden Jokowi. Jokowi memang punya target tinggi membangun tol di Indonesia hingga 1.800 km sampai 2019. Inilah mega proyek dan juga bisa disebut “Ambisi gila ” Jokowi .
Gila disini maksudnya adalah program yang tidak mungkin dan tidak pernah dilakukan pemerintah sebelumnya …Masih belum paham , ayo baca kelanjutannya sepertinya makin seru kan ?

Kita tahu , ” Ambisi gila ” mega proyek tersebut harus selesai pada tahun 2019 .
Namun, persoalannya anggaran negara atau APBN tidak akan mampu menopang seluruh kebutuhan pembangunan infrastruktur yang ditaksir Rp5.500 triliun dalam masa kepemimpinan Jokowi-JK. Makanya jangan heran jika sampai saat ini saja hutang negara mencapai 4000 triliun , karena nantinya akan bertambah lagi 1500 triliun hingga 5500 triliun .

image

Makanya orang yang tidak paham akan gila sendiri jika membayangkan hutang negara yang sampai ribuan triliun sendiri .
Tapi yang tahu , tentu tidak akan heran dan justru mendukung langkah pemerintah tersebut , terkecuali para oposisi dan pendukungnya , karena mereka selalu mencari celah kesalahan pemerintah …Jadi jangan heran .

Ya , membangun dengan melibatkan BUMN secara maksimal adalah salah satu pilihan yang paling memungkinkan. Akhirnya berapa BUMN konstruksi mulai ditransformasi sebagai perusahaan investor tol, tak kecuali Waskita .
Waskita sendiri telah memiliki konsesi proyek dan saham di 18 ruas tol dengan total panjang mencapai sekitar 1.000 Km. Total investasi yang digelontorkan Waskita mencapai Rp110 triliun. Semua ruas tol tersebut diklaim bisa dijual oleh perseroan selaku pengembang tol.

image

Konsep pendekatan pembangunan infrastruktur dengan sistem “bangun-jual” sebenarnya sudah tidak asing dinegara-negara maju , dan yang paling sukses di mata dunia adalah yang diterapkan di Cina.
Negeri Tirai Bambu ini sukses membangun 131.000 km jalan tol, bandingkan dengan Indonesia yang hanya 1.000 km tentu tidak ada apa-apanya .
Kenapa harus meniru cina ?
Jawabannya adalah kenapa tidak boleh meniru cina yang sudah sukses .
Jangan Cina phobia deh , ” jangan sampai kebencianmu pada suatu kaum menjadikanmu tidak bisa berlaku adil “.

Capaian Cina ini, kemudian dicoba diadopsi pada proyek Tol Trans Sumatera melalui konsorsium Hutama Karya pada era Menteri BUMN Dahlan Iskan dimasa pemerintahan SBY , jadi bukan di jaman Jokowi saja , tapi memang waktu itu tidak banyak yang tahu , karena proyek tol saat itu kan tidak banyak dan kurang transparan , publik pun akhirnya tidak tahu  . Sekarang cara ini juga mulai diterapkan oleh Waskita Karya di era Jokowi .

“Itulah tugas Waskita sebagai developer, bangun jual, bangun jual,” kata Direktur Utama Waskita Karya, M Choliq seperti dikutip dari  Tirto.id

image

Choliq mengungkapkan bahwa sejauh ini sudah banyak investor yang minat untuk mengambil alih ruas tol milik perseroan. Selain BUMN lain dan swasta dalam negeri, bahkan perusahaan asal Australia dan Malaysia juga telah menyatakan minatnya.

“Kami akan jual kepada siapapun, mana yang investor suka itulah yang kami dahulukan. Karena biasanya kalau mereka yang tertarik tentu harganya baik dan memberikan keuntungan bagi Waskita yang baik,” ujarnya.

Saat ini Waskita  menawarkan tiga skema penjualan.
Pertama, dengan penawaran satu persatu (one on one).
Kedua, penawaran secara berkelompok ruas tol.
Ketiga dengan membeli saham perseroan.
Semua skema ini bertujuan untuk menghimpun banyak dana segar agar bisa mendanai proyek-proyek infrastruktur lainnya . Choliq menargetkan 40 persen dari 18 ruas tol yang dimiliki Waskita sudah bisa dijual hingga semester I-2018.

image

Dari target tersebut perusahaan dapat menghimpun dana sekitar Rp15-20 triliun. Rumus menentukan harga jual ruas tol pun Waskita tidak muluk-muluk. Cukup mengkalkulasi berapa banyak uang yang sudah Waskita keluarkan untuk investasi, kemudian ditambah dengan margin yang dikehendaki perseroan.

“Ya sekitar 20 sampai 40 persen margin saya rasa sudah cukuplah untuk kami sebagai investor ini,” katanya.

Sebelum rencana penjualan Tol Becakayu, Kementerian BUMN juga tengah merencanakan untuk menjual jalan Tol Bali Mandara yang merupakan konsorsium BUMN. Selain Waskita, pemegang saham di tol sepanjang 12 km ini dipegang oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk.

Tujuan dijualnya tol di atas laut ini untuk mendanai proyek jalan Tol Trans Sumatera, termasuk ruas tol Medan-Binjai 16,7 km yang baru akan rampung 100 persen pada 2018 mendatang sudah disiapkan untuk segera dikaji kemungkinan untuk dijual. Ruas tol ini sedang dikerjakan oleh PT Hutama Karya (Persero).

image

Sistem “bangun-jual” akhirnya jadi cara baru BUMN dalam mencari sumber pendanaan agar tak memberatkan APBN.
Selain sistem bangun-jual, Kementerian BUMN telah meminta PT PLN (Persero) dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk untuk menerapkan sekuritisasi aset sebagai opsi baru untuk mendapatkan dana segar.
Strategi mendapatkan sumber dana baru dengan skema “pengembang” membangun lalu menjual tak semuanya ditanggapi positif. Banyak kalangan terlebih dari partai oposisi memberikan catatan soal kebijakan ini , karena sistem “bangun-jual” proyek infrastruktur dikaitkan dengan anggapan menjual aset BUMN .

Saya kadang tersenyum sendiri jika mendengar pendapat seperti ini . Anda tahu maksud aset tidak ?
Yang namanya aset itu kan kepemilikan yang sudah ada sebelumnya , kalau rencana kedepan dan memang peruntukannya untuk diperjual belikan itu namanya bukan aset tapi  bisnis . Dan BUMN berisi perusahaan-perusahan milik pemerintah dengan orientasi bisnis , jadi harus memberikan keuntungan bagi pemerintah . Kalaupun ada BUMN yang tidak produktif bahkan merugi ya memang harus dijual , kalau tidak laku ya harus ditutup . Buat apa menghambur-hamburkan uang negara jika tidak menguntungkan ..Sudah paham kan ?

image

Jadi skema menjual konsesi ruas tol hanya salah satu strategi pemerintah. Namun, selain itu untuk BUMN yang sudah punya aset tetap bisa memaksimalkan sumber pendanaan dengan skema lain yaitu sekuritisasi aset.
Sekuritisasi aset artinya menghitung prospek arus kas di masa depan pada suatu aset yang produktif. Dimana keuntungan dari suatu aset dalam beberapa tahun ke depan ditarik ke masa sekarang.

Contoh, PLN punya pembangkit, potensi ke depannya itu kan tagihan-tagihan dari hasil penjualan listrik. Kita hitung dalam lima tahun ke depan bisa menghasilkan berapa. Nah, hak atas tagihan-tagihan selama lima tahun itu yang kita sekuritisasi menjadi sebuah efek atau surat berharga yang kemudian bisa dijual ke pasar modal,” jelas Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN, Aloysius Kiik Ro.

Ia menegaskan, sekuritisasi aset merupakan produk pasar modal yang aman karena jaminannya adalah tagihan di masa depan. Risiko produk investasi ini sangat minimal dan terukur.
“Misalnya aset milik Jasa Marga, siapa yang meragukan potensi pendapatan dari ruas tol Jagorawi?” katanya.

image

Strategi “bangun-jual” proyek tol BUMN masih menunggu pembuktian ke depan, apakah tujuan mendapatkan margin dan kelanjutan pembangunan proyek baru dari menjual konsesi tol bisa menarik investor. Apalagi tol-tol yang dimiliki BUMN umumnya proyek tol yang sebelumnya mangkrak dan tak semuanya merupakan “jalur gemuk”.

Nah , soal yang satu ini memang sudah dipikirkan masak-masak oleh pemerintah , seandainya jalur tol yang ” bukan jalur gemuk ” tadi misalnya diluar jawa tidak memberikan keuntungan secara materi , setidaknya sudah memberikan pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia .
Tol jelas sekali bermanfaat bagi siapa saja , anda naik bis dari Jakarta- Solo misalnya , pilih lewat tol apa jalan biasa ?
Atau yang paling jelas adalah distribusi dari daerah ke daerah jadi semakin lancar , tidak banyak pungli di jalan sehingga kedepannya harga-harga bisa ditekan .
Mau bukti , tunggu dulu setelah tol semua rampung , jangan pesimis .

Jaman sekarang siapa yang tidak butuh jalan tol ?
1. Orang yang tidak punya mobil , itu sudah jelas
2. Orang yang tidak pernah berpergian
3. Orang yang tidak punya bisnis
4. Partai oposisi dan pendukungnya
5. Orang yang tidak tahu manfaat tol

Anda masuk yang mana ?

image

Nimat manalagi yang kau dustakan , diberi Presiden yang bekerja sepenuh hati masih mau dijegal juga ...

Iklan

gunakan suaramu

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: