Jika Membawa Kedamaian , Dahwah Pasti Tidak Akan Ditolak Dimanapun

Assallamu’allaikum mass-miss sadayana

image

Masshar2000.Com – Belakangan ini banyak sekali da’i atau penceramah yang ditolak untuk mengisi acara di berbagai tempat .
Apa masalahnya ?
Menurut pengamatan saya , penceramah yang ditolak di suatu daerah tentu bukan tanpa alasan , pasti ada yang salah dimata yang menolaknya entah karena apa .

Bagi saya sendiri , semua ulama itu baik dan pasti membawa kebenaran .
Saya bilangnya ulama ya , sebab kalau ulama itu kan artinya orang yang berilmu , baik ilmu agama ataupun ilmu sosial . Dia akan bisa membawa diri , bicara juga hati-hati dan pasti takut menyinggung perasaan orang lain terlebih agama lain .
” Agamamu untukmu dan Agamaku untukku “.
Jadi sudah pasti seorang ulama tidak akan mengusik agama lain .

Kita ambil contoh sederhana yaitu mengkafir-kafirkan umat lain , di video dan videonya disebarkan luas , kemudian umat agama lain tidak suka dengan sebutan itu , maka yang terjadi adalah perasaan benci , walaupun memang sebenarnya memang kafir .
Itu sama halnya dengan orang yang memanggil orang cacat atau buta misalnya dengan sebutan ” hei si buta ” .. tentu itu akan menyakitkan walaupun itu memang benar buta …
Coba renungkan ini sejenak sebelum membenarkan pendapat anda sendiri .

Sudah ?…
Jika belum , renungkan sebentar lagi sampai anda paham !

Jika sudah , silahkan dilanjutkan membacanya !

Ya , berita viral menyoal penolakan beberapa penceramah, kini tidak lagi sebatas di wilayah negeri sendiri, namun jauh merambah hingga ke luar negeri. Tak ada alasan yang pasti, mengapa terjadi penolakan, paling-paling yang selalu menjadikan latar belakang penolakannya adalah seputar track record seorang penceramah yang jauh dari nilai-nilai kesejukan dan kedamaian dimata si penolak .
Jangankan soal penceramah, seorang pejabat negara-pun bisa ditolak oleh otoritas setempat, lagi-lagi bukan karena campur tangan penguasa, pihak-pihak tertentu, ataupun adanya berita “hoax” yang melatarbelakangi penolakannya, tapi barangkali ini soal subjektivitas yang pasti sulit diganggu gugat dan lebih banyak tak bisa diterima akal sehat. Pernah terjadi kan presiden atau wakil presiden ditolak atau didemo rakyatnya sendiri ?…Jadi intinya penolakan bukan karena unsur penguasa , lha penguasanya sendiri saja juga bisa ditolak atau didemo kog …Paham kan ?

Jika penceramah ditolak di negeri sendiri, mungkin saja karena orasinya menimbulkan keresahan sebagian masyarakat, karena isi ceramahnya ditengarai bernada “provokatif” tidak edukatif atau seringkali malah “reaktif” bukan persuasif.
Bagi saya, ceramah apalagi bersifat keagamaan, tidak saja harus membawa nilai-nilai kedamaian, namun jauh dari itu refleksi atas nilai kejujuran yang tentu saja keluar dari misi-misi “kekelompokkan”, fanatisme golongan, yang seakan-akan bahwa kelompok dirinyalah yang paling benar sedangkan pihak lain jelas dianggap kalangan yang tidak pantas menebarkan nilai-nilai keagamaan dengan nuansa kedamaian.

Bagi seseorang yang kemudian keberadaannya ditolak oleh beberapa pihak, seharusnya memang lebih introspeksi kedalam dirinya sendiri, benarkan bahwa isi dari ceramah keagamaannya menuai sikap reaktif dari masyarakat?
Ceramah “zaman now” memang seperti menabuh genderang perang dengan pihak-pihak lain yang berseberangan, bukan membangun dan menjalin komunikasi yang erat, sehingga sikap ta’ashub (fanatisme) kekelompokan tidak serta merta menohok atau menyalahkan pihak-pihak lainnya. Kenyataan ini belakangan semakin jelas dirasakan, bahwa ceramah keagamaan lebih bernuansa “profokatif” tidak edukatif, sehingga wajar jika timbul reaksi berbeda yang muncul di tengah-tengah publik.

Itulah kenapa, Nabi Muhammad dibekali oleh “rahmat” dan “kelemahlembutan” yang tertanam kuat dalam hatinya, sehingga setiap dakwahnya untuk mengajak ke “jalan yang lurus”, bukan berdasarkan “subjektifitas” dirinya, tetapi lebih banyak didasarkan atas “objektifitas” bagaimana seharusnya masyarakat tidak terpancing menjadi “reaktif” atas ungkapan berdakwah dirinya.

Gambaran kelemahlembutan itu tegas digambarkan Al-Quran, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (QS. Ali Imran: 159).

Membayangkan Nabi Muhammad berdakwah, adalah membayangkan betapa setiap orang merindukan kehadiran beliau, karena kepiawaiannya “mengajak” pihak lain untuk berbuat baik, bukan justru membuat pihak lain lari ketakutan atau bahkan menolak setiap dakwah yang dirinya jalankan. Salah satu prinsip Nabi Muhammad dalam berdakwah, tentu saja lintas batas, multi-etnis, multi-keyakinan, didasarkan pada cara pandangnya yang “moderat”, termasuk menyesuaikan siapa dan pihak mana yang menjadi lawan bicaranya. “Umirna ‘an ukallima an-naas bi qadri ‘uqulihim” (Saya diperintahkan untuk berdakwah sesuai dengan kapasitas dan kemampuan para audiensnya”).

Nabi Muhammad tentu saja memiliki kecerdasan untuk memilah dan menyesuaikan, kepada siapa dirinya mengajak kebaikan. Nabi tentu saja selalu memiliki jawaban berbeda ketika ditanya oleh beberapa orang, meskipun pertanyaannya sama.

Pernah ketika Nabi Muhammad ditanya, “amal apa yang paling disukai Allah?”.
Nabi akan mengukur siapa dan bagaimana latar belakang lawan bicaranya, sehingga jawabannya-pun bisa beragam. Jika latar belakang seseorang itu sulit sekali mendirikan shalat, maka jawaban Nabi, “amal yang paling baik disisi Allah adalah shalat tepat pada waktunya”.

Masih dalam pertanyaan yang sama, Nabi Muhammad dapat memberikan jawaban yang berbeda, lagi-lagi mengukur kapasitas dan latar belakang kecenderungan seseorang. Ketika Nabi melihat bahwa latar belakang seseorang tersebut yang selalu menyakiti dan mengabaikan kedua orang tuanya, maka jawaban Nabi soal amal yang terbaik tentu saja berbuat baik kepada kedua orang tua (birrul walidaini). Saya kira, seorang pencermah memang harus selalu pandai membaca situasi dan kondisi setiap jamaahnya, bukan kemudian secara subjektif malah “mendewakan” kebenaran versinya sendiri dan mengabaikan “kebenaran” yang juga disuarakan pihak lain.

Berdakwah, bukan sekadar mengajak kepada kebaikan, tetapi jauh dari itu, bagaimana membangun dan menata umat agar tidak tercerai berai “memperebutkan” kebenarannya sendiri-sendiri.

Logika berdakwah tentu saja jauh dari unsur-unsur “paksaan” karena nilai filosofinya yang “mengajak” kepada kebaikan dan kedamaian. Jangankan mengajak melalui berdakwah, memaksa pihak lain untuk sama agama dengan agama yang kita anut saja jelas dilarang dalam Al-Quran, “Laa ikrraha fi add-diin” (tidak ada paksaan dalam hal beragama).

Saya meyakini , sebagaimana diungkap Al-Quran—bahwa sesuatu yang menjadi petunjuk bagi seseorang itu sudah jelas adanya, dengan “petunjuk” itu manusia kemudian memilih, mana kebaikan dan mana keburukan. Tanpa harus “dipaksakan” kebaikan dan kebenaran itu tetap tegak dan “kebathilan” pada akhirnya runtuh dan hancur, itulah sistematika hukum alam-nya.

Walaupun pada kenyataannya, manusia setelah mendapatkan “kecukupan” dalam banyak hal, termasuk merasa cukup dalam mendapatkan ilmu pengetahuan agamanya, lalu kebanyakan mereka sombong dan berdampak pada refleksi setiap isi ceramahnya sendiri. Sulit untuk tidak mengatakan, bahwa manusia itu kebanyakan “melampaui batas” setelah dirinya merasa cukup, bukan sebaliknya, dirinya bertambah “rendah hati” karena selalu merasa kurang. “Kalla inna al-insaan layathgo, an raa’ahus taghna” (Ketahuilah! manusia itu selalu berada dalam kondisi melampaui batas, setelah dirinya justru telah merasa cukup), demikian bunyi surat Al-‘Alaq yang diabadikan dalam Al-Quran.

Jadi, berbicara mengenai maraknya penolakan ceramah saya kira, tidak semata karena unsur “perbedaan pendapat keagamaan” (ikhtilaf), namun lebih banyak didorong oleh isi dan materi yang dibawakan penceramah lebih banyak melampaui “khilafiyah” (toleransi atas beragam perbedaan pendapat keagamaan). Prinsip khilafiyah yang semestinya menjadi sebuah keniscayaan, justru “dilampaui” sehingga yang terjadi justru beragam penolakan yang terjadi di masyarakat, tidak hanya di dalam negeri bahkan merambah hingga ke luar negeri.

Dari pemaparan saya yang panjang diatas , saya tidak menyebutkan nama penceramah yang ditolak acaranya tersebut , karena dulu pun juga pernah ada ustadz yang ditolak diluar negeri , jadi anda yang kebetulan pecinta salah satu dari penceramah yang ditolak jangan membenci saya karena pemaparan ini .
Justru saya akan memberikan contoh yang harus ditiru oleh penceramah-penceramah yang ditolak tadi .

Supaya tidak dicap membanding-bandingkan orang , saya ambil contoh saja orang yang sudah meninggal yaitu KH.Zainudin MZ alm ( Da’i sejuta umat ) dan Ustadz Jefri Al Bukhori alm , semoga Allah memberikan tempat yang baik disisinya pada guru-guru kita ini .
Kalau dihitung dari segi kepopuleran , sampai sekarang belum pernah ada yang melebihi kepopuleran Zainudin MZ hingga dijuluki Da’i Sejuta Umat .
Ya , disaat gadged dan medsos belum seramai sekarang , nama besarnya sudah terkenal seantero negri bahkan dimanca negara .

Pernahkah beliau-beliau ini ditolak saat ceramah ?

Sejauh yang saya tahu , keduanya selalu diterima dimanapun , karena dakwahnya memang menyejukkan , tidak pernah menyinggung apalagi menyakiti umat lain .
Maka tak heran , yang mencintai beliau-beliau ini bukan hanya umat islam saja tapi juga umat agama lain .

image

Selain dua ustadz tadi , ada satu lagi yang juga dicintai umat yaitu KH .Abdurahman Wahid atau Gus Dur alm .
Bahkan saudara saya yang kebetulan seorang guru agama Kristen dan tokoh gereja  mengatakan kalau dia menyukai GusDur .
Dimatanya GusDur itu unik , ceramahnya lucu dan menyejukkan , bahkan menghormati umat lain .

Menurut hemat saya , ketiga tokoh tadi layak dijadikan panutan para da’i atau penceramah masa kini .

” Agamamu untukmu dan Agamaku untukku “

Ingatlah bahwa ISLAM adalah Rahmatan Lil ‘Allamin , rahmat bagi seluruh Alam baik makluk hidup maupun benda mati dan bukan Rahmatan Lil Muslimin , bukan hanya rahmat bagi kaum muslim saja .

Dan ingatlah juga bahwa Islam dulu lahir sebagai sebuah kabar gembira , jadi BERAGAMALAH DENGAN GEMBIRA

Semoga bermanfaat ,
Wassallamu’allaikum…

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s