Ketika Pemberontak Berebut Gelar Mujahid di Suriah

Assallamu’allaikum mass-miss sadayana

image

M2000 – Bulan lalu, media ramai mengenai konflik syria seputar pertempuran Ghouta, yg layaknya pertempuran Aleppo tahun lalu. Kemudian media massa dan media sosial diwarnai dengan aksi tagar #SaveGhouta .
Ini mengingatkan kita akan aksi tagar #SaveAleppo .

Dari artinya dapat kita baca Selamatkan Ghouta atau Selamatkan Aleppo .
Pertanyaannya diselamatkan dari siapa …Kalau yang diselamatkan sudah jelas adalah rakyat yang tidak bersenjata ,  diselamatkan dari perang , tapi diselamatkan dari siapa ?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut , kita lihat sejarahnya , dulu sebelum ada ISIS , Suriah adalah negri yang damai dibawah pemerintahan Basar Asaad .
Setelah ISIS besar dan berhasil memporak-porandakan Irak , pasukan ISIS mulai merambah Suriah .
Di Suriah ISIS jelas lebih susah masuk karena Basar Asaad adalah presiden pilihan mayoritas rakyat Suriah , berbeda dengan Irak yang sudah runtuh pasca tumbangnya Saddam Husein .

Selain pertempuran Ghouta, sebenarnya ada beberapa front Pertempuran lain di konflik syria yg patutnya kita ketahui. Salah satunya adalah front Pertempuran di Idlib.

Berbeda dengan ghouta, Pertempuran di idlib ini berlangsung antara faksi kelompok mujahid HTS (former Alnusra, kelompok yang di Indonesia sering dia sanjung-sanjung alias di blow up beberapa ustadz dalam ceramahnya dengan menyebutnya sebagai Mujahid yang akan menyelamatkan Suriah dari tangang Basar Assad si Laknatullah )  MELAWAN faksi dari kelompoknya JTS ( yang merupakan gabungan dari ahrar alsyam dan Nour Al-Dein al Zenky).

Dalam ranah konflik syria, perang antara kelompok faksi mujahid bukanlah hal baru,  karna memang hal ini kerap terjadi.
Maaf sebelumnya , apapun namanya dari manapun asalnya , semua yang paham apa itu bernegara akan menganggap mereka pemberontak karena melawan pemerintah yang sah yaitu Basar Assad .

Indonesia pun pernah mengalamai hal serupa yang menggunakan ranah agama untuk memberontak yaitu DI/TII yang ingin mendirikan negara Islam di Indonesia dan dicap sebagai pemberontak dan akhirnya berhasil ditumpas . Jadi lebih elok rasanya jika para kaum yang selalu merasa benar sendiri dan menyerang pemerintah kita sebut pemberontak .

Seperti sebelumnya kita ketahui pada tahun lalu di Aleppo terjadi perselisihan besar antara Alnusra melawan Ahrar alsham.
Atau konflik faylaq al rahman dan HTS melawan Jaysh al islam. Dan masih banyak lagi. Mereka ini unik , tujuannya sama ingin menggulingkan pemerintah yang sah yang katanya thogut Syiah laknatullah , tapi mereka yang mengaku mujahid malah berperang sendiri . Artinya apa , mereka ini hanya ingin berkuasa . Logikanya begini , kalau mereka benar-benar ingin menegakkan agama dan menggulingkan rezim , seharusnya mereka bersatu untuk menggulingkan rezim yang berkuasa , tapi nyatanya tidak demikian , mereka hanya mau kelompoknya yang berkuasa .
Saya disini bukan membela atas dasar agama atau aliran mereka apa , toh semua juga ngaku Islam dan selalu sama meneriakkan Takbir sebelum perang . Tapi saya melihat dari sisi bernegara yaitu dimana ada pemerintah yang sah dan ada beberapa pemberontak yang ingin menggulingkan pemerintah .

Banyak faktor yg menjadi pemicu konflik antar kelompok tersebut, salah satunya perebutan kekuasaan dan perbedaan pandangan. Kelompok pemberontak terbagi-bagi, ada yg cenderung wahabi , ada juga yang mengaku aswaja tapi tetap rasa wahabi pengekor Ikhwanul muslimin yang sangat berhasil menumbangkan Muamar Khadafi di Libya atas dukungan dari Amerika .

Pada dasarnya, tujuan mereka sama; Menumpangkan rezim yg katanya terlaknat, bashar al assad.
Bayangkan, ketika tujuan mereka sama saja ,  mereka saling bunuh satu sama lain dengan sama-sama meneriakkan Takbir. Bagaimana nasibnya nanti ketika Assad misalnya telah lengser dan kursi penguasa syria kosong , apa gak bunuh-bunuhan terus nantinya , terus bagaimana rakyat Suriah ?

Wajarlah jika libya yang dahulu merupakan salah satu negara dengan standar kehidupan yg tinggi di benua afrika. Namun sekarang masuk dalam daftar negara GAGAL, setelah Khadafi ditumbangkan oleh ribuan orang yang mengaku mujahid tapi bekerja sama dengan negara kafir Amerika .

Sebagai penutup , ada beberapa hadist yang menerangkan soal baiat .
Islam sangat antuasias untuk mewujudkan persatuan umatnya. Sementara persatuan tidak mungkin terwujud, kecuali jika di sana ada satu imam yang memimpin semuanya. Karena itulah, ketika di tengah kaum muslimin ada pemimpin dan pemerintah yang sah, maka kaum muslimin diwajibkan membaiatnya.

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Barangsiapa yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada ikatan bai’at, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah”. (HR. Muslim 4899).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya mati dalam kondisi jahiliyah karena manusia yang hidup di zaman jahiliyah, mereka tidak punya pemimin satu negara. Adanya pemimpin kabilah-kabilah kecil. Sehingga peluang terjadinya peperangan antar-suku sangat besar.

An-Nawawi mengatakan,

(ميتة جاهلية) أي على صفة موتهم من حيث هم فوضى لا إمام لهم

Mati dalam keadaan jahiliyah artinya mati seperti orang jahiliyah, dimana mereka suka perang, kacau, tidak punya pemimpin tunggal ” (Syarh Shahih Muslim, 12/238).

Sehingga makna hadits tersebut , orang yang tidak membaiat pemerintah yang sah, seperti orang jahiliyah. Ini sejalan dengan keterangan di hadits lain, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ، وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Siapa yang tidak mau taat, memisahkan diri dari jamaah (di bawah imam), hingga dia mati maka dia mati jahiliyah.” (HR. Muslim 1848).

Demikian pula ketika dalam satu wilayah negara ada lebih dari satu pemimpin, maka salah satunya harus dibunuh.

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda.

إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا

Jika ada dua khalifah dibaiat, maka bunuhlah yang dibaiat terakhir”. (HR. Muslim 4905)

Dalam hadis lain, dari Abdullah bin Amar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَايَعَ إِمَاماً فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ مَا اسْتَطَاعَ َإِنْ جِاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ الآخَرِ

Barangsiapa berbai’at kepada seorang imam (penguasa), ia memberikan telapak tangannya dan buah hatinya, maka hendaklan ia mentaatinya sesuai dengan kemampuannya, jika kemudian ada orang lain yang menentangnya, maka penggallah leher orang itu.” (HR. Ahmad 6657, Abu Daud 4250 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dengan demikian, baiat sifatnya mengikat dan menutup.  Mengikat masyarakat setelah mereka membaiat agar tidak melepaskan baiatnya dan menutup terjadinya baiat yang baru. Dengan batasan ini, tidak ada lagi peluang terjadinya pemberontakan atau kekacauan di tengah kaum muslimin.

Kesimpulan dari uraian diatas adalah bahwa , jangan sampai kita sampai memberontak pemerintah yang sah .

Masihkah anda mau dibohongi hal yang sama seperti Libya?
Maukah kalian melihat Syria , salah satu negri yang diberkati mengalami hal yg sama?

Jadi sudah jelas kalau ada tagar #saveallepo atau #saveghouta adalah selamatkan aleppo dan Ghouta dari tangan pemberontak karena dulunya negri Suriah ini damai sebelum ada mereka , jangan dibalik .

Apakah kalian akan tetap membiarkan dan JUSTRU melakukan hal yang sama seperti di libya dan syria kepada Indonesia , negri damai yang kita cintai ini ?
Jawabannya ada di anda sendiri .

Semoga bermanfaat ,
Wassallamu’allaikum…

Library : konsultasisyariah.com
              @resistance.id

Iklan

One thought on “Ketika Pemberontak Berebut Gelar Mujahid di Suriah”

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s