Mengenal Ilmu Laduni Para Kyai NU

image

M2000 – Yang harus kita yakini bahwa ulama adalah pewaris nabi .
Nabi pernah mengatakan bahwa nanti setiap 100 tahun sekali akan ada seseorang (ulama) yang akan meluruskan akidah yang kita sebut adalah mujaddid .

Jelasnya , Mujaddid adalah seorang ulama
yg membaharui syariah yang muncul setiap 100 tahun sekali, demikian dijelaskan dalam Hadits Rasul saw diriwayatkan pada
Mustadrak ala shaihain hadits
no.8592 dan riwayat lainnya.

Di Indonesia , khususnya di Jawa , umumnya keluarga terdekat kiai (istri, anak, cucu, menantu) memiliki prestise yang tinggi dan sering menikmati berbagai keistimewaan. Istri dan putri-putrinya yang sudah menikah disebut Nyai. Sedangkan para putra, cucu dan menantu laki-laki mendapat julukan Gus, yang berasal dari kata “si Bagus”.

Demikianlah, misalnya kita mengenal misalnya nama-nama seperti Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), Gus Mus (KH Mustofa Bisri), Gus Sholah (KH Shalahuddin Wahid) , Gus Miek (KH Hamim Djazuli) , Gus Ipul (Saifullah Yusuf), dan belakanan Gus Rommy (Muhammad Romahurmuzy) dan seterusnya. Yang tidak pakai “Gus” adalah Muhaimin Iskandar yang rupanya lebih sreg dipanggil Cak Imin, meskipun dia cicit, cucu dan putra seorang kiai.

Untuk memperkuat public image bahwa seorang Gus dapat mewarisi beberapa atribut spiritual dari ayahnya, para dai cenderung memberikan legitimasi anak-anaknya sebagai para penggantinya yang sah. Seorang kiai memang selalu mengharap gus-gusnya memimpin pesantren kelak. Benar, pesantren adalah lembaga yang banyak bergelut dengan kepentingan publik. Tapi secara tradisi ia dikembangkan dan dimiliki para kiai.

Abdurrahman Wahid, dalam tulisannya “Pesantren sebagai Subkultur” (Pesantren dan Pembaharuan, Dawam Rahardjo, ed), menyatakan, betapa demokratisnya pun susunan kepemimpinan di pesantren, terdapat jarak tak terjembatani antara kiai dan keluarganya di satu pihak dan para asatiz (guru-guru) dan santri di pihak lain.
Kiai bukan primus interpares (“yang utama di antara yang setara”, seperti di lingkungan Muhammadiyah ) melainkan pemilik tunggal (directeur eigenaar). Kedudukannya yang ganda, sebagai pengasuh sekaligus pemilik, kata Gus Dur, secara kulturil sama dengan kedudukan bangsawan feodal yang biasa dikenal dengan nama kanjeng di Pulau Jawa.

Sebagai orang yang dianggap memiliki “keistimewaan”, kebanyakan Gus dipercayai punya ilmu laduni. Yakni kemampuann “dari pihak Tuhan” (arti laduni), untuk mengusai berbagai ilmu tanpa mempelajarinya. Atau pengetahuan yang datang dengan sendirinya dari Yang Maha Benar, atau pengetahuan yang datang langsung dari ketinggian jiwa sebagai buah dari ilham. Kata Zamakhsyari, Tuhan memberkahi para Gus dengan pengetahuan Islam sejak mereka dilahirkan. Mereka memang lahir dengan takdir menjadi para ilmuwan agama dan pemimpin pesantren. Kalau dalam bahasa yang mudah dipahami mereka memiliki karomah atau kelebihan yang tidak dimiliki orang lain .

image

Ambilah contoh Kiai Zainuddin, pengasuh Pesantren Al-Huda di Tarogong, Garut, Jawa Barat. Ayahnya Kiai Ilyas, menyekolahkannya di SMP Garut (1954-1957). Ketika Kiai Ilyas wafat pada 1958, Zainuddin baru 17 tahun. Tapi sebagai anak tertua ia mengambil alih kepemimpinan Ayah. Ajaib, lulusan SLTP ini mampu mengajarkan kitab-kitab tinggi, katanya.
Di kalangan tasawuf, hanya para wali yang punya ilmu yang datang dari “atas” ini. Nah. Berbagai cerita di kalangan nahdiyin juga menyebut Gus Dur dikaruniai ilmu laduni itu tadi. Bahkan secara berkelar, dulu KH Mustofa Bisri alias Gus Mus pernah mengatakan bahwa Gus Dur dikirim Allah untuk menjadi presiden.

Karena sangat sakralnya ilmu Laduni ini , seiring perkembangan jaman , banyak yang mengakui memiliki ilmu Laduni bahkan bisa dipelajari dengan mudah .
Bahkan para indigo pun menganggap dia memiliki ilmu Laduni , sehingga mulai tidak sakral lagi karena semakin banyak orang menganggap dirinya memiliki ilmu Laduni ini .
Lihatlah di medsos , banyak iklan dukun saja mengaku memiliki ilmu Laduni .
Jadi kita harus bisa membedakan mana ilmu laduni dan mana yang bukan .
Ilmu Laduni adalah karomah yang tentu ada hubungannya dengan ilmu agama dan untuk tujuan syariah .

Semoga bermanfaat ,
Wassallamu’allaikum…

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s