Kita Hanya Penggembira Politik , Jadi Kalem Saja

image

M2000 – Sejak pilpres 2014 , dunia medsos isinya hanya caci maki , terlebih saat kubu yang satu menang , kubu yang kalah semakin menjadi-jadi , bukan hanya mencaci tapi sudah mengarah ke fitnah .

Kita tentu masih ingat dengan tabloid Obor Rakyat , tabloid yang hanya beredar menjelang pilpres ini memang cukup fenomenal dalam memfitnah , bagaimana media ini memfitnah Jokowi sebagai anak PKI dan orang cina dan orang-orang percaya padahal jelas Prabowo lah yang keturunan Cina . Terus katanya Jokowi bukan islam , padahal jelas islam dan dari keluarga muslim , sedangkan Prabowo lah yang dari keluarga non muslim , sampai-sampai pak JK mengusulkan adu baca Al Qur’an antara Jokowi dan Prabowo namun ditolak kubu Prabowo .

Waktu itu pengamat mengatakan kondisi akan baik-baik saja setelah pilpres , namun kenyataannya malah sebaliknya .
Saling serang antar pendukung di medsos semakin menjadi , bahkan sampai ada persekusi di dunia nyata .

Kini muncul tagar #2019gantipresiden , walaupun ini sah-sah saja , namun dari sisi psikologi ini cenderung provokatif tentu beda dengan tagar #2019tetapjokowi .
Yang satu semangat mendukung jagoannya , yang satu provokasi , coba tagarnya diganti #2019prabowopresiden tentu lebih sopan dan lebih gentlemen untuk mendukung jagoannya .
Ya seperti perbandingan kalimat ” jagalah kebersihan ” dan ” dilarang buang sampah disini  ” , yang satu semangat untuk merawat , yang satunya ada unsur keputusasaan atau rasa jengkel . Walaupun beda-beda tipis , namun semangat yang diusungnya jelas beda . Jelas bukan bahasa psikologi itu namanya .

image

Jikalau anda ingin ganti presiden? Boleh. Hak untuk mengganti presiden ada di tangan Anda. Anda tidak ingin ganti presiden? Boleh juga. Hak untuk tidak ganti presiden ada di tangan Anda.
Anda cukup pergi ke bilik pemungutan suara tahun depan, di situ hak Anda ditunaikan.

Urusan ganti atau tidak ganti presiden sebenarnya hanya sesederhana itu. Anda boleh saja beli kaos, berkumpul ramai-ramai sampai ribuan orang, kemudian yakin kehendak anda akan menang. Padahal penentu sebenarnya bukan banyaknya kumpulan itu, tapi di tempat sepi, dalam bilik pemungutan suara lah yang nanti akan menentukan .

Anda boleh sangat yakin dengan pilihan anda, lengkap dengan data, argumen politik, sampai ayat-ayat suci yang dipakai untuk membenarkannya.
Anda yakin bahwa pilihan anda benar. Bahkan bukan hanya benar. Anda yakin bahwa pilihan Anda sudah sesuai dengan kehendak Tuhan. Tapi sekali lagi, penentu ganti atau tidak, ada di tangan setiap orang di bilik suara.

Setiap orang punya pilihan dan alasannya. Persis sama seperti anda. Mereka juga sangat yakin bahwa pilihan mereka benar. Karena itu, saat anda sangat yakin, sesekali sadarilah bahwa ada orang lain di pihak sana, yang posisi psikologisnya persis sama dengan anda juga sangat yakin dengan pilihannya . Hanya posisi keberpihakan mereka saja yang berbeda. Sadarilah bahwa hak Anda dan hak mereka sama-sama dilindungi konstitusi.

Lebih dari itu semua, sadarilah bahwa anda tidak lebih dari penggembira , ya .. hanya pengembira. Sekali lagi, penggembira.
Anda merasa puas karena berhasil mengumpulkan orang, atau lebih tepat lagi, ikut berkumpul bersama banyak orang. Anda merasa puas karena meme yang anda sebar di medsos bisa memukul lawan dengan telak. Anda tertawa puas , tapi itu tidak mengubah status anda tadi, Anda penggembira , tetap penggembira .

Ketika semua ini usai, anda mungkin akan bersorak gembira karena calon yang Anda dukung menang. Atau anda akan dongkol berkepanjangan dan tidak bisa move on bertahun-tahun karena calon dukungan Anda kalah.
Kedua keadaan itu lagi-lagi tidak mengubah status anda sebagai penggembira.
Presiden berganti , ada orang jadi menteri, staf khusus, atau anggota dewan. Ada juga yang terlempar dari pusaran kekuasaan. Tapi, Anda tetap di situ, sebagai penggembira.

Politik itu sungguh encer. Hari ini anda sangat getol mengumbar kebencian Anda pada X, dan sangat memuja Y. Suatu hari kelak, X dan Y ternyata malah berkoalisi.
Anda begitu yakin Partai A memperjuangkan aspirasi Anda, bahkan akan menjamin tempat anda di surga kalau memilihnya bahkan ada yang membagikan sertifikat surga . Sedangkan Partai B adalah musuh Tuhan yang harus Anda hancurkan. Tapi, coba lihat di daerah lain , keduanya berkoalisi untuk merebut jabatan , jadi tidak ada yang namanya partai setan apalagi partai Allah .

Politikus bebas berloncatan membentuk kubu, melakukan manuver sesuai kepentingan mereka. Anda bersorak mendukung, atau menyumpah kecewa. Apakah mereka peduli pada Anda? Tidak.
Kalau mereka menang, mereka dapat jabatan, atau jatah proyek. Anda dapat apa? Kosong dan mungkin malah dapat dosa karena suka menghina , menghujat atau memfitnah orang di medsos .

Anda mengira akan masuk surga dari politik? Anda mengira kehidupan akan lebih sesuai dengan agama yang Anda anut kalau A atau B berkuasa?
Itu ilusi yang ditanamkan oleh para politikus ke benak anda untuk mencuci otak anda supaya selalu membenarkan ucapannya .
Seperti yang terjadi saat ini , siapapun orangnya kalau berani memprotes Jokowi selalu dijadikan tokoh panutan atau pahlawan padahal sebenarnya mereka tahu bahwa orang yang diidolakan itu adalah orang-orang yang ” bermasalah ” , bahkan sepertinya ada orang yang sengaja menjelek-jelekkan pemerintah dengan membawa-bawa agama supaya ditangkap dan nantinya mendapat julukan ulama karena merasa di diskriminalisasi .

Tidakkah Anda sadar bahwa perilaku para politikus itu sering berbeda dari nilai yang Anda sangka mereka perjuangkan?

Satu hal lagi, kalau Anda terlalu bersemangat, bisa jadi anda akan terjerat masalah hukum. Banyak lubang hukum yang menganga, yang membuat ada bisa terperosok. Terlalu bersemangat mengajak orang, bisa membuat anda terseret mengintimidasi orang lain. Itu ada sanksi pidananya. Kalau Anda tertangkap dan dipenjara, politikus yang Anda dukung tidak akan peduli , itu pasti .

image

Jadi, kalau ada orang di sebelah Anda sangat bersemangat berkampanye untuk calon mereka, senyumin saja. Dalam pesta politik ini Anda cuma penggembira. Anda bukan pemain.
Jadi kalem aja bro …
Kita juga tetap miskin kalau tidak mau bekerja siapapun presidennya .
Seperti yang baru saja terjadi , ada balon capres yang mendapat dukungan dari buruh dan  berjanji untuk mensejahterakan buruh  , padahal perusahaannya sendiri belum membayarkan gaji karyawannya …Lucu ya ?
Lucunya dimana hayo ?
Ya lucu lah , orang kita hanya penggembira …Tak lebih hanya seperti suporter bola ..Yang sukanya bersorak saat jagoannya menang …Ya to…Ya to…

image

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s