Pasal Santet Bakal Masuk KUHP , Dukun Bisa Dipenjara 5 Tahun

image

M2000 – Dulu , saat ada pembunuhan yang dilakukan dengan santet , hukum kita tidak pernah mengaturnya , dan faktanya beberapa kasus terjadi dibeberapa daerah .

Kini, urusan santet mulai dinilai serius, hingga pasal khusus terkait hal itu sudah masuk RKHUP.
Rancangan Revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) sedang digodok oleh DPR bersama pemerintah. Seiring maraknya iming-iming ilmu hitam atau magis ala dukun, akhirnya negara memasukkan Pasal Santet untuk mengatur tindak kejahatan tersebut.

Anggota Panitia Kerja (Panja) RKUHP dari Fraksi PKS, Nasir Djamil, menjelaskan, Pasal Santet sengaja diadakan untuk memberikan perlindungan bagi warga negara dari aktivitas oknum yang mengklaim memiliki kemampuan ilmu hitam atau santet.
Tetapi, Pasal Santet masuk dalam delik formil bukan materiil.

“Pasal Santet ini adalah delik formil, bukan delik materil yang membutuhkan akibat dari santet. Jadi karena delik formil, hanya melihat tindakan orang yang menyatakan mempunyai kemampuan melakukan santet saja, tanpa harus membuktikan ia benar punya atau tidak. Jadi pembuktiannya adalah pembuktian formil, misalnya iklan, pengumuman, selebaran, dan lain-lain, yang mengklaim diri punya kemampuan menyantet. Jadi bukan soal benar substansi santetnya,” ujar Nasir.

Nasir pun mendukung agar Pasal Santet tetap dicantumkan dan disahkan karena pasal ini dianggap justru memiliki fungsi sosial yang baik. Pasal itu juga diyakini dapat menciptakan masyarakat yang tidak lagi berurusan dengan persoalan santet yang memang sudah tidak diperlukan lagi dalam kehidupan modern Indonesia.

Berikut ini bunyi pasal 239 yang mengatur tentang Pasal Santet dan Ilmu Hitam:

(1). Setiap orang yang menyatakan dirinya mempunyai kekuatan gaib, memberitahukan harapan, menawarkan, atau memberikan bantuan jasa kepada orang lain bahwa karena perbuatannya dapat menimbulkan penyakit, kematian, penderitaan mental atau fisik seseorang, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak kategori IV

(2) Jika pembuat tindak pidana sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) melakukan perbuatan tersebut untuk mencari keuntungan atau menjadikan sebagai mata pencaharian atau kebiasaan, maka pidananya dapat ditambah dengan 1/3 (satu per tiga)

Jadi kesimpulannya , yang di hukum adalah orang yang mengaku bisa menyantet orang atau tukang santet (dukun) yang memasang iklan di media baik cetak maupun elektronik bukan orang yang dituduh menyantet orang , karena ini hal gaib yang tidak bisa dibuktikan di depan hukum .

Bagaimana menurut anda ?

Library : naviri.org 

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s