Mengharukan …Surat Sukarno kepada Suharto Saat Sakit Sebelum Meninggal

image

M2000 – Di saat-saat terakhir terakhir perjalanan presiden Sukarno , kehidupannya tidak lebih baik dari warga biasa dan bahkan lebih menyakitkan untuk seorang mantan pahlawan besar revolusi dan juga presiden pertama yang memimpin negri ini .

Bagaimana tidak , setelah pidato terakhirnya ditolak MPRS dan dilengserkan kehidupan Sukarno mirip dengan tahanan politik , diasingkan , dijauhkan dengan orang-orang dekat .
Menurut sejarah ..praktis hanya Muhamad Hatta saja yang mengunjunginya .

Lelaki itu terbaring sendirian. Kamarnya pengab dan bau. Ginjalnya sudah kronis. Obat-obatan yang selama ini menjadi penopangnya, telah dibuang oleh tentara.
Dokter yang merawatnya seringkali menangis diam-diam. Hanya ada vitamin dan royal jelly yang boleh diberikan untuk pasiennya.
Dia sadar, kekuasaan hanya membolehkannya datang untuk merawat sebisanya. Bukan untuk penyembuhan. Lelaki perkasa itu, seperti dibiarkan mati pelan-pelan. Jiwanya di penjara. Badannya di penjara. Bathinnya dikungkung.

Kadang, pada malam hari, lelaki itu merintih menahan sakit yang luar biasa. Para tentara yang berjaga di depan kamarnya, sebagian tidak tahan. Satu-dua mereka ikut mengusapkan air mata mendengar rintihan orang yang dulu dikaguminya.

Setelah dipindahkan dari istana Bogor, Soekarno diasingkan ke Wisma Yaso, Jakarta. Ditempatkan dalam kamar yang sumpek dan bau, dia dibiarkan sendirian. Dijaga dengan ketat seperti layaknya seorang tahanan.

Hatta, sahabatnya, mendengar derita Soekarno dengan perasaan yang hancur. Di rumahnya sering dia menangis sesegukkan membayangkan seorang sahabat, yang dulu bersama-sama menorehkan proklamasi bagi negeri ini, kini teronggok dengan rasa sakit yang menggigit dan jiwa yang robek. Dia menulis surat kepada penguasa saat itu, meminta untuk membesuknya.

Di kamar, Wisma Yaso, Hatta memandangi sahabatnya yang tergolek lunglai. Wajahnya membengkak akibat ginjal yang tidak normal. “Bagaimana kabarmu, No,” bisik Hatta ke telinga sahabatnya. Dia menggenggam tangan Bung Karno. Air matanya jatuh melihat kondisi itu. “Hoe gaat het met Jou?” jawab Bung Karno, dengan bahasa Belanda .
Bagaimana juga kabarmu. Setelah itu keduanya terdiam. Soekarno tetap memejamkan matanya yang berat. Hatta hanya sanggup menatapnya. Memandang orang yang seluruh jiwanya ditumpahkan untuk rakyat dan bangsa ini, kini ditahan di kamar sempit.

Disaat sakitnya , berulang kali Sukarno mengajukan surat untuk penguasa baru Suharto dan tidak di gubrisnya . Salah satu surat yang tersebar luas , isinya sungguh memilukan .
Surat yang mengungkapkan perasaan Soekarno ini ditulis saat terbaring sakit di Wisma Yaso, Jakarta.
Berikut kutipannya ,

Kepada Yth.
Saudara Presiden RI
Jenderal Soeharto

Saudara,
Maafkanlah saya, bahwa saya lagi-lagi mengirim surat hal apa-apa kepada Saudara. Lebih dari itu, saya beribu-ribu terimakasih kepada Saudara, karena saya, Saudara perbolehkan ke Jakarta. Hawa Jakarta ternyata baik bagi saya. Rematik saya sudah berkurang.
Ada beberapa hal yang membuat saya di Jakarta itu kurang menyenangkan.

a. Ny. Sugio, yang sudah enam tahun membantu rumah tangga saya di Jalan Gatot Subroto (rumah itu adalah milik istri saya Dewi, milik penuh) tidak mungkin membantu rumah tangga lagi, (sesuatu termasuk beras, gula, kopi dan sebagainya) saya sendiri yang harus mengurusnya. Tolong Saudara, tolong cari Ny. Sugio bolehkan menjadi rumah tangga saya.

b. Ada lagi satu hal yang menyolok hati: Ibu Hadi, pengasuh anak-anak saya yang perempuan, terutama Rachmawati, sudah hampir 20 tahun menjadi “emban” anak-anak perempuan saya, juga tidak boleh masuk Slipi.

c. Anak-anak Hartini yang di Bogor sudah satu rumah dengan ibu dan saya-yaitu anak-anak Hartini dari intelektual yang, dua anak saya yang sangat cinta untuk saya, juga tidak boleh bertemu dengan saya. Siapa lagi yang harus saya tangisi pada hal-hal ini, bersih Saudara?Tolonglah, Saudara!

d. Tolong, supaya aku lekas sembuh, tanpa gangguan , karena itu di atas.
Saya ingin ziarah pusara Bapak, mau menengok rumah tangga yang lain-lain, juga belum bisa.
Demikianlah Saudara Presiden, “tangisan” saya untuk Saudara Presiden. Tolonglah!
Aku lupa ya beribu-ribu terima kasih.

Hormat saya,
Soekarno
3 November 1968

Sungguh memilukan , seorang proklamator , pemimpin besar ” yang memerdekakan negri ini ” menjadi pesakitan menjelang akhir hayatnya .

image

Ya , Sukarno menjadi tahanan politik seperti saat dirinya diasingkan oleh penjajah belanda , tapi pengasingannya yang terakhir adalah dibiarkan mati pelan-pelan sampai akhir hayatnya .

image

Semoga sang proklamator tenang disana .

” Jangan sekali-sekali melupakan sejarah – JASMERAH “

Baca juga : Kekejaman ORBA Setelah Sukarno Lengser
Library : Rakyat Merdeka

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s