Politik Bukan Perang Ayat tapi Perang Gagasan

image
Partai Allah VS Partai Setan ....Katanya

Masshar2000.Com – Setiap gelaran pemilu selalu saja ada partai baru yang ikut mengadu nasib .
Ada yang dipersiapkan dengan sungguh-sungguh dengan logistik yang kuat , tapi ada juga yang maju dengan dana minim alias pengkaderant.
Partai Perindo adalah contoh bagaimana sebuah partai di manage dengan baik dan logistik yang memadai , sehingga kadernya langsung banyak diseluruh negri .

Ada juga yang bermodal minim seperti PSI , yang mengandalkan pengkaderan lewat sosmed , sehingga partai ini kurang menyentuh ke akar rumput dan tidak banyak dikenal . Partai ini muncul awalnya sebagai kader militan pendukung Ahok atau biasa disebut Teman Ahok . Dan akhirnya di daftarkan sebagai partai . Kadernya pun dari mereka yang pro Ahok .
Baik Perindo atau PSI sama-sama partai nasionalis , tidak menggunakan isu agama sebagai mana yang lagi booming saat ini .

Jika membaca rekam jejak semua partai politik yang ada, dapat dikatakan tak ada yang sepenuhnya bersih dari perilaku buruk mereka sebagai manusia. Di sana ada ketamakan, ada kelicikan, sampai dengan kegandrungan menghalalkan segala cara. Tak terkecuali partai yang sukses mencitrakan diri sebagai partai agama atau sebagai partai dakwah pun tidak sukses untuk membuktikan bahwa mereka mampu lebih bersih dalam berpolitik.

Apakah dengan keberadaan beberapa partai yang berangkat dari nama agama, lalu membuat mereka bisa bebas dari korupsi? Sejauh ini terbukti tidak. Lantas apakah yang membedakan mereka dibandingkan partai politik yang menolak menyeret-nyeret agama untuk kepentingan politik?… Dapat dikatakan tidak ada.

Menariknya, terlepas hampir semua yang mencermati perkembangan tren politik dan tren dalam berpolitik menyadari fakta itu, namun memang masih terlalu banyak yang sulit untuk jujur, bahkan untuk jujur pada diri sendiri.

image

Buktinya, seperti dinamika antara partai politik yang berangkat dari label agama dengan yang bukan, meskipun akhirnya terbilang sama saja namun selalu ada dalih dan kilah. Ada kesan dimunculkan, kalau Anda memilih partai politik yang ada bau-bau agama, maka kalaupun Anda tetap bernasib sama saja jika partai itu menang, paling tidak Anda memiliki peluang untuk disayangi Tuhan…itulah propaganda politikus yang saya yakin sudah memakan banyak korban .
Tapi memang rgeperti itulah kegandrungan yang muncul.

Maka itu, banyak yang akhirnya menolak melihat dan berpikir jernih, bahwa mau seagamis apa pun sebuah partai politik, tetaplah di sana hanya diisi manusia yang tak selalu mampu membendung godaan untuk korupsi, berkhianat, atau bahkan menyakiti rakyat.

Kenapa kegandrungan membawa nama agama tetap masih akan dilakukan?
Tak lain karena sejauh ini, jurus berpolitik paling gampang sejatinya hanya ketika mereka berhasil mengidentikkan diri dengan suatu agama. Sebab jika citra itu sudah berhasil, maka kala ada yang menentang mereka, dengan gampang pula divonis sebagai pembenci agama, pembenci ulama, atau jauh dari Tuhan kalau sekarang ditambah lagi capnya yaitu pendukung penista agama . Miris ya ?…Bagi saya sih miris , karena pokoknya apapun yang beda dengan mereka selalu saja dicari salahnya dan pasti di hubung-hubungkan dengan agama .
Tapi saya maklum , itulah jualan mereka , karena tanpa itu , tidak ada yang mau mendekati mereka .

Bagi pemeluk agama level polos, divonis jauh dari Tuhan dan dianggap melawan ulama menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Alhasil, yang mereka kejar adalah bagaimana terlihat dekat dengan Tuhan dan seolah paling dekat dengan ulama. Soal sejauh mana kebaikan diusung seorang ulama mampu mereka alirkan dalam sikap sehari-hari, lantas menjadi hal tak penting lagi.

Anda bisa menelusuri rekam jejak akun-akun media sosial yang mengafiliasikan diri ke partai politik yang berlatar agama. Silakan anda simak bagaimana cara mereka dalam berkomunikasi, dalam mengkritik, maka dengan mudah Anda menemukan fakta bahwa terkadang yang enggan membawa nama agama jauh lebih elegan dan lebih baik dalam berkomunikasi.
Yang salah di situ tentu saja bukan mereka. Sebab mereka hanya berusaha menerjemahkan apa yang diinginkan oleh figur-figur yang mereka ikuti.

Ada semacam kebanggaan jika dengan sepak terjang lantas mereka mendapatkan apresiasi berupa sanjungan sebagai pengikut militan dan gigih membela agama. 
Padahal, kalau saja bersedia untuk jujur, membela agama dengan membela partai politik itu jelas berbeda , kecuali mereka yang percaya adanya partai Allah dan partai setan di negri ini.

image

Membela agama tak menuntut mesti bertabur simbol-simbol. Rajin berbagi kebaikan kepada siapa saja, kepada penganut agama apa saja, justru lebih dapat dikatakan membela agama. 
Sayangnya dengan kekuatan dan kelihaian mereka yang paham bagaimana menangguk keuntungan dari menjual agama, membela agama justru diukur dari sejauh mana para pengikut dalam membela mereka dan kepentingan mereka. Jika dianggap bertentangan, maka vonis sebagai pengkhianat agama pun dengan gampang dijatuhkan , bahasa yang sering mereka gunakan adalah ” auto kafir “.

Vonis-vonis itu terlalu menakutkan bagi  sebagian orang , apalagi bagi orang yang baru mengenal agama atau ABG yang masih mencari jati diri . Sebab dengan vonis begitu dikhawatirkan akan menjadi penyebab datangnya berbagai keburukan , entah kehilangan pekerjaan atau bahkan berbagai hal yang tak diinginkan. Sialnya, menyebar hoax dan hujatan terhadap yang berbeda justru dianggap sebagai hal yang disenangi Tuhan, dan itu justru diyakini akan diganjar pahala oleh Tuhan.
Bagi kita yang waras tentu ini berbanding terbalik dan mengelus dada melihat kekonyolan mereka .

Sejatinya itulah yang paling rentan membawa risiko buruk. Sebab seorang figur setangguh apa saja, sebuah partai seagamis apa pun, tetap tak bisa lepas dari fakta bahwa di sana tetaplah diisi oleh manusia. Sementara manusia hampir semua memiliki potensi melakukan keburukan; korupsi, menzalimi, menyakiti, mengkhianati. Jika pintu kritik ditutup, maka bukan tak mungkin hanya membuat potensi buruk itu berpeluang makin membesar.

Jadi, di tahun politik, di antara banyak hal yang diperlukan adalah membebaskan diri sendiri dari dikte-dikte yang membuat pikiran tak bisa melihat jernih. Sebab di dunia politik pun banyak sekali penjahat yang siap mengenakan pakaian apa saja, tak terkecuali mengenakan jubah-jubah agama.
Kalau saya sih maklum , lha wong itu satu-satunya cara agar didekati pemilih .
Logikanya mana ada pemilih yang mau mendekati mereka lha wong gak ada prestasi .

Kata Tuan Guru Bajang ” Fastabhikul Khoirot – Berlomba-lombalah dalam kebaikan “

Jika siap berpolitik , mari perang gagasan untuk membuat negri ini maju , bukan perang ayat yang akan memecah belah anak bangsa .

Salam Literasi

Library from google

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s