Yoyok , Bupati Anti Korupsi , Kini Rela Berdagang Pakaian Dengan Pesangon 1,4 Juta

image

Masshar2000.Com – Mungkin nama Yoyok tidak sepopuler Ganjar Pranowo di Jawa Tengah .
Namun , jika anda mengikuti berita perpolitikan tanah air , pasti anda mengenal siapa itu Yoyok yang mantan bupati Batang .

Wajahnya beberapa kali muncul di layar televisi karena dedikasinya kepada rakyat Batang cukup memuaskan , selain itu Yoyok juga terkenal sebagai bupati yang sederhana dan anti korupsi , bahkan selepas dari menjadi Bupati Yoyok masih ngontrak rumah .

Dalam acara AIMAN di Kompas TV , sang presenter Aiman Wicaksono cukup terkejut melihat aktivitas mantan Bupati Batang, Jawa tengah, Yoyok Riyo Sudibyo.

Dalam video di acara tersebut, mulanya Aiman menceritakan kiprah Yoyok  Riyo Sudibyo yang pernah menjadi agen intelegen saat menjadi TNI angkatan Darat di Papua kemudian pensiun dini dengan pangkat mayor, kemudian menjadi Bupati Batang.

Yoyok juga pernah mendapatkan Bung Hatta Anti-Corruption Award 2015.

Aiman menemui Yoyok saat berada di pasar Tanah Abang Jakarta.
Saat ditemui Aiman, Yoyok Riyo Sudibyo tampak mengenakan kaus putih polos.
Yoyok Riyo Sudibyo rupanya tengah berbelanja pakaian karena ia kini ternyata berprofesi menjadi pedagang pakaian.

Mantan Bupati Batang yang kini memilih keringetan di pasar dan memilih jadi 1 periode,” ujar Yoyok.

Saat ditanya alasannya tidak ingin melanjutkan jadi Bupati Batang.

Saya nggak kapok, saya sumpah dari awal bahwa saya menjabat jadi Bupati batang sudah bersumpah bahwa saya satu periode saja, memegang komitmen itu susah, ada keinginan lanjut itu ada, tapi saya ingin memegang komitmen saya, memegang komitmen itu susah, memegang janji, dan saya berusaha berkomtimen itu,” ujar Yoyok.

Setelah itu, Yoyok  Riyo Sudibyo mengajak Aiman untuk menyeduh kopi di pinggir jalan.

Saat ditanya isu akan dijadikan bakal calon gubernur DKI Jakarta 2017 lalu, Yoyok mengaku kebingunggan.

Saya sudah ketemu Pak Sandi, saya sudah bertemu Pak Anies Baswedan, sudah bertemu semuanya, saya ingat ketika saya di Pekalongan, saya ditelefon orangnya Pak Prabowo besok pendaftaran, saya stress itu mas, orangtua saya nggak mengizinkan, dan akhirnya saya menolak,” ujar Yoyok  Riyo Sudibyo.

Yoyok lantas mengaku cobaan hidupnya yang paling berat ketika menjabat sebagai Bupati.

Saya pernah di militer, saya pernah dagang, kemudian saya jadi bupati, jujur cobaan paling berat ketika saya jadi Bupati, yang paling terkesan saya mengendalikan diri saya untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang, biasanya berkaitan dengan uang,” ujar Yoyok.

Yoyok Riyo Sudibyo pun lantas menceritakan bahwa posisi bupati sangat mudah untuk korupsi.

image

Itu sangat mudah, misalnya saya nyuruh adik saya untuk membuat usaha terus mengambil proyek pemerintah, itu bisa, tapi saya nggak mau karena menurut saya kayak gitu nggak bisa jadi contoh bagi rakyat Batang,” ujarnya.

Pria yang kini memilih jadi pedagang itu mengaku jika ia ingin mengambil proyek saat itu bisa mendapatkan ratusan miliar hingga triliunan.

Yoyok juga mengaku bahwa dirinya saat menjadi Bupati Batang mendapatkan penghasilan 20 juta tiap bulan.
Namun, kini ia mendapatkan uang pensiun sebesar Rp 1,4 juta.

Saya malu mas, jangan ditanya, saya nggak tahu negara ini memikirkan pengabdian bupati selama 5 tahun itu kayak apa, saya menerima pensiun dua, yakni akademi militer dan pensiun Bupati itu Rp 1,4 juta,” ujar Yoyok.

Yoyok mengaku bahwa dirinya mengambil banyak pelajaran saat jadi Bupati Batang.
Yoyok mengaku bahwa ia saat ini belum ingin terjun ke politik.

Mendingan saya perang lagi, daripada kayak kemarin, bebannya sangat berat, tapi saya nggak tahu perjalanan saya masih panjang,” ujar Yoyok.

Kiprah Yoyok

Pria kelahiran 23 April 1972 asal Bandar, Batang, ini lulusan Akademi Militer 1994 dan Sekolah Lanjutan Perwira 2004.

Saat memutuskan berhenti dari dinas militer dengan pangkat terakhir mayor untuk kemudian mengikuti Pilkada Batang 2012, Yoyok mengenang, tentangan terberat datang dari orangtua.

Dia bahkan dicap “mayor edan” karena memilih keluar dari TNI.

Yoyok meyakini, seorang kepala daerah harus menguasai tata kelola pemerintahan dan keuangan, birokrasi, serta dapat mengelola hubungan dengan legislatif.
Keberadaan sejumlah syarat itu membuat jabatan kepala daerah kerap menjebak mereka yang belum punya cukup pengetahuan dan niat baik.

Ketika Yoyok mulai menjabat bupati, kondisi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang sedang terpuruk.
Pejabat bupati sebelumnya, Bambang Bintoro, terseret masalah hukum dan dipidana penjara. Kepercayaan masyarakat terhadap Pemkab anjlok.

Pada 2012, pendapatan asli daerah (PAD) Batang hanya Rp 67 miliar. Pada 2014, PAD Batang menjadi Rp 186 miliar dan diharapkan pada 2017 menjadi lebih dari Rp 200 miliar.

Keterbukaan

Dalam mengelola pemerintah, Yoyok menerapkan keterbukaan. Dia membuka rumah dinasnya selama 24 jam bagi masyarakat.
Meski sudah menjadi bupati, Yoyok juga masih sering naik sepeda ke masjid di Alun-alun Kota Batang untuk shalat berjemaah.

Yoyok juga menerapkan transparansi anggaran dan pembangunan.
Mulai 2012, Pemkab Batang bekerja sama dengan Ombudsman RI di bidang layanan publik, termasuk mulai menerapkan lelang jabatan.
Yoyok juga membentuk Unit Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik (UPKP2) Kabupaten Batang pada 2013.

Kantor ini bertugas melayani semua usulan dan pengaduan masyarakat yang belum digarap atau belum masuk agenda pembangunan.

Dalam pengadaan barang dan jasa, Yoyok belajar kepada Pemkot Surabaya untuk mengadopsi sistem layanan pengadaan secara elektronik (LPSE) yang dapat mencegah rekayasa dan korupsi. 
Hasilnya, LPSE Batang pada 2014 meraih standar ISO 27001 dari Lembaga Sertifikasi Internasional ACS Registrars.

Demi menjaga kualitas kegiatan, Pemkab Batang juga bekerja sama dengan Universitas Negeri Semarang sebagai supervisi dan pengawas.

Pembenahan ini, kata Yoyok, bukan tanpa gejolak. Ketika UPKP2 dibentuk, sempat muncul tudingan lembaga itu sebagai inspektorat bayaran.
Namun, pembenahan sistem itu akhirnya menuai apresiasi. Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran pada 2013 menyatakan, Pemkab Batang merupakan daerah dengan urutan terendah dalam penyimpangan anggaran se-Jateng.

Pada tahun itu, Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Batang juga meraih Investment Award 2013 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Tak hanya itu, Yoyok menerima Bung Hatta Anti-Corruption Award 2015.

Jika Yoyok mengatakan lebih berat jadi pejabat ketimbang jadi prajurit , artinya memang godaannya lebih besar dan lebih sulit dihindari . Bayangkan saja , ibarat ada uang bertumpuk di depan mata , siapa yang tak ngiler , tapi Yoyok terbukti berhasil mengatasinya , bahkan rela miskin , rumah pun masih ngontrak .

Jadi kesimpulannya , kalau ada kepala daerah yang tidak tergiur uang haram saja sudah hebat ,  apalagi kalau banyak inovasi

Nah , dalam pileg , pilkada ataupun pilpres , pilihlah berdasarkan rekam jejaknya . Pernah terlibat korupsi , suap atau main anggaran dan menghambur-hamburkan uang rakyat tidak ?

image
Dua orang hebat yang dimiliki negri ini

Sosok Yoyok adalah role model bagi para kepala daerah .
Salut buat pak Mayor Yoyok .
Selengkapnya silahkan baca Disini

Library : tribunjateng.Com 

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s