Eks ISIS Perlu dipulangkan ke Indonesia atau Tidak ?

Eks-ISIS, Dipulangkan atau Tidak?

M2000.Jakarta – Pertanyaan tersebut menjadi perbincangan hangat beberapa hari ini terkait pemberitaan banyaknya WNI eks ISIS di Suriah yang ada di kamp tahahanan tentara Suriah pasca kekalahan ISIS dibumi Syam .

Dalad Konvensi internasional diatur bahwa tidak boleh ada satu manusia pun yang stateless (tak berwarga negara). Makanya kita melalui pemerintah RI membantu Rohingya, yang tidak diakui sebagai warga negara oleh pemerintah Myanmar.

Nah, orang-orang Indonesia yang bergabung dengan ISIS, jika tidak diakui oleh Indonesia (sebagai negeri kelahiran mereka), lalu, siapa yang harus mengurus?

Anda bayangkan posisi Suriah saat ini: Negaranya sudah diperangi 8 tahun, warganya dibantai secara brutal, diusir, diperkosa, diperbudak oleh orang-orang ISIS ini (yang datang dari berbagai penjuru dunia), apakah kini juga harus terus menampung dan mengurus mereka?

Dan memang, hukum internasionalnya: negara asal yang seharusnya mengurus.

Tapi kan tidak adil, mengerikan? Masa kita harus menerima para radikal itu? Kalau mereka mengebom di sini gimana? Kalau mereka menyebarkan virus radikalisme di sini gimana, terlebih mereka memang sudah niat hijrah kesana untuk menjadi warga negara di daulah islamiah jika ISIS menang . Bahkan banyak dari mereka yang terang-terangan membakar parpor Indonesia . Artinya secara akal sehat mereka sudah berani menyatakan diri keluar dari kewarganegaraan Indonesia .

Tidakkah ada yang berpikir: inilah HARGA yang harus kita bayar karena selama ini sedemikian lalai melakukan pencegahan terhadap menyebarnya paham Wahabi yang di sponsori Amerika di jazirah Arab dan tidak peduli pada konstelasi politik glo

Sejak awal perang Suriah, sudah ada yang memperingatkan bahaya dan dampaknya untuk Indonesia info-info hoax soal “kekejaman Assad” atau “tragedi kemanusiaan di Suriah”?

Mengapa sejak awal perang (2011), pemerintah Indonesia tidak serius memberikan informasi yang benar kepada publik, apa yang sebenarnya terjadi?

Bahkan, dulu SBY ikut-ikutan menyerukan agar Assad lengser saja (setelah menerima “ulama” kubu pemberontak Suriah di istana).

Media-media besar di Indonesia, bukankah selama 8 tahun terakhir selalu meng-copas narasi media Barat soal “diktator Assad”, “kekejaman rezim” , “bom kimia rezim”?

Sungguh saya tertawa sinis saja ketika melihat media-media besar seperti Tempo jauh-jauh kirim reporter ke Suriah untuk mencari tahu apa yang terjadi di sana, ketika semua sudah terlambat. Isi liputannya pun tak lebih dari menceritakan ‘nestapa’-nya para anggota ISIS asal Indonesia ini dan bahkan ada 1 halaman khusus membahas bahwa “seharusnya pemerintah Indonesia membawa mereka kembali.”

Mengapa sejak awal perang tidak ada media besar di Indonesia yang menyuarakan apa yang sebenarnya terjadi di Suriah, atau mengirim repoter ke Suriah, setidaknya melakukan tugas cover both side, jangan meng-copas berita versi “oposisi” melulu.

Mengapa media besar tidak mau membantu upaya pihak-pihak (penulis) yang menyuarakan perspektif lain dari perang ini seperti Dina Sulaiman yang aktif menulis situasi disana karena memang pernah tinggal dinegara konflik itu .

Bahkan beberapa bulan yang lalu , sebuah media besar meliput acara bedah buku Dina Sulaiman yang berjudul “BEDAH BUKU PRAHARA SURIAH” tapi TANPA menyebut judul bukunya dan nama dia sama sekali, apalagi membahas isinya. Absurd kan?

Bahkan saat Dina diwawancarai sebuah channel televisi besar, menceritakan konflik Suriah, di detik-detik terakhir, pimpinan redakturnya membatalkan penayangannya, konon karena ada tekanan pihak-pihak tertentu.

Dina sendiri saat menulis surat ke redaktur majalah Tempo, menunjukkan kesalahan pemberitaan mereka, tidak ada respon dari mereka (kecuali menelpon basa-basi).

Tidak, saya tidak sedang “unjuk diri” tapi sekedar ingin menceritakan apa yang sudah dilakukan media-media besar untuk menutupi kisah Suriah yang sebenarnya ” , katanya.

Saat bedah buku saya di Surabaya diintimidasi oleh kelompok radikal, polisi bukannya melindungi kami tapi malah kami yang disuruh bubar dan ganti lokasi. Saya mengadu pada seorang pejabat yang berwenang (kebetulan punya WA-nya), tapi ternyata tidak ada gunanya “ , tambah Dina .

Memang akhir-akhir ini sudah banyak yang bersuara. Pejabat polisi kita juga sudah studi banding ke Suriah. Frasa “jangan Suriahkan Indonesia” sudah sangat banyak yang berani mengatakannya.

Tapi, sayangnya, sudah terlambat, berkat berbagai berita hoax itu, ada ribuan orang Indonesia yang bergabung dengan ISIS dan kelompok-kelompok teror lainnya di Suriah. Ada banyak yang sudah kembali ke Indonesia dan sepertinya tak terdeteksi dimana mereka sekarang. Kini ada ratusan yang ditahan oleh milisi Kurdi, sehingga “ketahuan” ada dimana (dan itulah yang diliput Tempo).

Lalu kini, banyak pihak tiba-tiba ingin cuci tangan, seolah-olah tidak pernah ikut andil dalam terjadinya semua ini. Rame-rame menulis dan menghujat: jangan biarkan mereka kembali ke Indonesia!!

Pertanyaannya: lalu siapa yang harus menampung dan mengurus mereka? Apa Anda maunya pemerintah Suriah kasih kewarganegaraan kepada mereka?

Tidakkah yang “berbuat” yang seharusnya “bertanggung jawab”? Bahkan diam dan tak peduli pun adalah “perbuatan”.

Menanggapi pemberitaan dan nasib WNI eks ISIS yang kini nasibnya terkatung-katung disana , Menteri Pertahanan Ryamizad Ryakudu dengan tegas mengatakan ” Tidak usah pulang , biarkan mereka berjuang disana sampai mati ” .

Disclaimer: saya sekedar melampiaskan unek-unek, bukan “rekomendasi” apapun ke pemerintah; silahkan pemerintah mikir sendiri dan mengambil keputusan.

Menurut anda pantaskah mereka eks ISIS pulang ke Indonesia ?

Dan perlukan campur tangan pemerintah dalam memulangkan mereka ?

View this post on Instagram

Gimana nih menurut kalian Sobat Nusia? Dijemput jangan? @infonusia – Kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dinyatakan kalah total di wilayah Suriah oleh Pasukan Demokratik Suriah. ISIS digempur di markas terakhirnya di Baghouz, dekat dengan Sungai Eufrat. . Hal ini menandai berakhirnya kekhalifahan kelompok radikal itu atas wilayah-wilayah Irak dan Suriah. . Saat ini banyak kaum perempuan dan anak-anak eks pendukung ISIS diungsikan di kamp pengungsi Al-Hol, Suriah. Kamp tersebut dirancang hanya bisa menampung 20.000 orang, namun sejak Desember 2018 telah disesaki lebih dari 60.000 orang. . Dalam kamp pengungsian tersebut ada beberapa WNI eks pendukung ISIS. Mereka kesulitan untuk kembali pulang ke Indonesia karena sudah tidak memiliki paspor. Mereka merusah paspor dengan menyobek dan membakarnya. . Saat ini mereka ingin mendapat perlindungan dan meminta dijemput oleh pemerintah Indonesia. . #suriah #isiskalah #isishancur #terorisme #radikalisme #nkri #nkrihargamati #indonesia #indonesianpeople #pancasila #jagaindonesia #informasi #informasi1menit #berita1menit #ngaji1menit #menyerukesalehandigital #ngaos1menit #sinau1menit #infonusia #infosuriah

A post shared by TV9 NUsantara (@tv9nusantara) on

Library :

* https://dinasulaeman.wordpress.com/2016/12/25/surat-untuk-tempo-tentang-anne-bana-frank-dari-aleppo/

* https://www.almasdarnews.com/article/u-s-backed-moderate-rebels-put-alawite-women-in-cages-to-protect-themselves-from-airstrikes/

Iklan

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s