Fenomena Daging Anjing yang Kian Marak

Masshar2000.com – Siapa yang suka kuliner ? Bisa dipastikan semua orang suka kuliner kecuali yang sedang bermasalah dengan kesehatannya .

Kuliner malam adalah kegiatan yang asik buat ngumpul-ngumpul sama keluarga diluar atau bersama teman-teman .

Nah , ngomong-ngomong soal kuliner , ada fenomena yang unik sekaligus menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyarakat . Menu yang disajikan tidak umum seperti dibeberapa tempat yang ada , karena menu yang tersaji hanya daging anjing atau guk-guk .

Di daerah Solo dan sekitarnya konon dianggap sebagai kota yang paling ekstrim untuk urusan menu ekstrim ini dan sudah banyak tersebar di medsos .

Memang tidak bisa disangkal , penulis sendiri tiap hari melewati beberapa warung yang menyajikan menu ini . Entah kenapa pedagang tidak pernah menulis jual daging anjing atau sate anjing atau ada istilah anjingnya . Hal ini mungkin karena kata ” anjing / asu (jawa) ” adalah kalimat jorok yang pantang disebut . Agak lucu juga karena pedagang pun tidak pede dengan menu dagangannya . Rata-rata pemilik warung akan menulis di spanduknya ” sate jamu , rica-rica guk-guk atau sedia daging A “ gitu saja . Dan uniknya mereka pede memakai gambar tokoh kartun Scooby Doo .

Bagaimana tanggapan masyarakat ?

Karena ini menyangkut hajat hidup atau pekerjaan , ya jadinya biasa saja . Mau di apain , kalau tidak ada kebijakan atau larangan dari pemkot setempat .

Tapi tahukah kamu ,
Tak ada kebaikan yang bisa dipetik dari fenomena kuliner anjing. Betapa sadisnya cara mereka menjagal amjing. Dipukul (dikepruk/digedhik) congornya sampai pingsan, dan dipukul-pukul lagi sampai benar-benar mati , kadang yang tidak tega si anjing naas ini dimasukkan dalam karung , dikasih pemberat lalu dibenamkan di sungai sampai mati ….sadis kan ?

Kenapa tidak disembelih?

Mereka meyakini jika darah anjing tak keluar sàat dijagal, dagingnya lebih gurih. Menyadari dagangannya adalah komoditas yg tidak pantas, penjual daging anjing olahan faktanya merasa risih dengan cara eufisme atau penghalusan bahasa utk dagangannya. Awalnya menggunakan istilah “Sate Jamu” “Sate Kambing Balap”, dan sejenisnya. Pedagang malu berterus terang menggunakan istilah “Anjing” atau “Asu”. Saat eufisme berdampak menyesatkan konsumen muslim (banyak yg kecele mengira benar-benar jamu) dan menuai protes, lahirlah istilah-istilah baru.

Tapi tetap menghindari kata “Anjing”. Jualan kok malu sama dagangannya.
Solo dianggap surganya kuliner anjing oleh sebagian kalangan bahkan bisa dibilang ” Waspada ” . Kabarnya ribuan ekor tiap hari dijagal. Walikota Solo sendiri memble mengatasi masalah ini. Padahal kabupaten tetangganya, Karanganyar nyatanya bisa. Bupati menutup paksa warung-warung masakan anjing. Sebagai solusi, tiap pedagang diberi modal Rp 5 juta untuk alih profesi , walaupun kemudian langkah ini ternyata ditolak oleh para penjual , namun setidaknya pemkot sudah ada langkah konkrit untuk pencegahan .

Kenapa Solo tidak meniru?

Rp 5 jutà per pedagang tak akan membebani APBD jika utk kemaslahatan. Ingat, kampanye “Anjing Bukan Makanan” sudah mendunia, dan Indonesia menjadi salah satu yg disorot.

Jadi mesti pada tahu ya , anjing itu bukan hewan untuk dikonsumsi dagingnya , tidak seperti ayam , kambing dan sejenisnya . Selain haram bagi yang muslim juga gak pantas lah makan daging anjing , kayak gak ada daging enak lain aja .

View this post on Instagram

#VIDEDODoD Tak ada kebaikan yg bs dipetik dr fenomena kuliner anjing. Betapa sadisnya cara mereka menjagal amjing. Dipukul (dikepruk/digedhik) congornya sampai pingsan, dan dipukul2 lagi sampai benar2 mati. Knp tdk disembelih? Mereka meyakini jika darah anjing tak keluar sàat dijagal, dagingnya lebih gurih. Menyadari dagangannya adalah komoditas yg tidak pantas, penjual daging anjing olahan faktanya merasa risih dengan cara eufisme atau penghalusan bahasa utk dagangannya. Awalnya menggunakan istilah "Sate Jamu" "Sate Kambing Balap", dan sejenisnya. Pedagang malu berterus terang menggunakan istilah "Anjing" atau "Asu". Saat eufisme berdampak menyesatkan konsumen muslim (banyak yg kecele mengira bnr2 jamu) dan menuai protes, lahirlah istilah2 baru. Tapi tetap menghindari kata "Anjing". Jualan kok malu sama dagangannya. Solo dianggap surganya kuliner anjing. Kabarnya ribuan ekor tiap hari dijagal. Walikota Solo memble mengatasi masalah ini. Padahal kabupaten tetangganya, Karanganyar nyatanya bisa. Bupati menutup paksa warung2 masakan anjing. Sebagai solusi, tiap pedagang diberi modal Rp 5 juta utk alih profesi. Kenapa Solo dan daerah2 lain tdk meniru? Rp 5 jutà per pedagang tak akan membebani APBD jika utk kemaslahatan. Ingat, kampanye "Anjing Bukan Makanan" sudah mendunia, dan Indonesia menjadi salah satu yg disorot. Cr @pak_dengkek

A post shared by Darkside of Dimension (DoD) 3 (@darksideofdimension3) on

Iklan

3 tanggapan untuk “Fenomena Daging Anjing yang Kian Marak”

  1. Wah.. klo dilarang nanti melanggar konsep Kebhinekaan Bang….skrg kan pemerintah lg menggalakkan toleransi tow… nanti pemerintah dianggap pro syariah…
    Kuliner tu ya macem2… mosok nggak boleh..

    Suka

    1. Toleran ya toleran tapi budaya yg tidak baik sebaiknya dihilangkan. Semua yg makan anjing hanya berdalih atas nama budaya nenek moyang. Indonesia menghargai budaya. Budaya yg baik tentunya. Bukan budaya sadis, kejam. Tidak ada klaim medis makan anjing dapat menghasilkan kesembuhan jika terkena penyakit. Anjing bukan makanan. Anjing hewan peliharaan. Bedakan konteks dgn hewan ternak. Mereka disembelih dgn cara terbaik. Tidak bar bar seperti para pemakan anjing.

      Suka

gunakan suaramu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s